
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, pernikahan Ayunda dan Rengky saat ini sedang berlangsung.
Dan setelah kata sah terucap semua orang mengucap syukur ahirnya semuanya berjalan dengan lancar.
Hari ini menjadi saksi tangis haru, Ayunda memeluk semua teman-temannya yang hadir di acara ijab Kabul nya, Heena juga ikut menangis memeluk Ayunda di hari bahagia ini.
Setelah ini semua orang-orang pergi menuju hotel tempat perayaan pernikahan Ayunda dan Rengky.
Dalam perjalanan menuju hotel, Heena merasa mual, yang saat ini hanya berdua saja di dalam mobil bersama Aldebaran.
"Kamu sakit?" tanya Aldebaran sembari telapak tangan satunya ia letakkan di kening Heena.
"Hanya saja kurang enak makan,"jawab Heena yang saat ini bersandar.
"Kita ke dokter aja ya sekarang," ucap Aldebaran penuh khawatir.
"Tidak usah, aku masih kuat ko, nanti saja tunggu acara Ayunda selesai," terang Heena dengan suara yang terdengar lemas.
"Kamu yakin, ini acara nanti sampai malam lho," jelas Aldebaran sembari menyalip mobil di depannya.
"Nanti di sana aku akan duduk, jadi tidak apa-apa."
Setelah itu Aldebaran mengikuti kemauan Heena, lagian juga di sana hanya menikmati pesta, jadi tidak akan kelelahan, sambil duduk pun juga bisa.
Tidak lama kemudian mobil pun sampai, yang lain sudah sampai lebih dulu di hotel.
Di luar hotel banyak papan berjejeran bertuliskan ucapan selamat pernikahan Ayunda dan Rengky.
Aldebaran mengajak Heena masuk ke dalam, sampainya di dalam Heena meminta Aldebaran untuk mengantarnya masuk ke ruang rias, ingin melihat Ayunda.
Setelah sampai di ruang rias, Aldebaran meninggalkan Heena di sana, sementara dirinya harus berkumpul bersama keluarga yang lain, namun sebelum Aldebaran pergi tadi berpesan bahwa Heena tidak boleh melakukan hal lain yang akan membuatnya lelah.
"Kak, aku sudah cantik belum?" tanya Ayunda yang saat ini sedang di ruas.
"Sangat cantik," ucap Heena yang saat ini duduk di samping Ayunda.
"Kak, andai ibu dan ayah masih ada mungkin kebahagian ini akan lebih lengkap," ucap Ayunda lagi dengan mata yang sudah mulai menggenang air mata.
"Kamu benar, kita cukup doakan ayah tenang di sana, dan ibu lekas sembuh," terang Heena dan seketika Ayunda tersenyum, membenarkan yang Kakaknya ucapkan.
Satu jam, Ayunda telah selesai di rias, kini dibantu dua temannya Ayunda untuk menuju ballroom hotel.
Heena berjalan mengikuti di belakang mereka, dengan langkah pelan-pelan karena matanya mulai berkunang-kunang.
Setelah berada di dalam lift, Heena menyandarkan tubuhnya di dinding lift, Ayunda tidak tahu bila saat ini Heena sedang kurang enak badan.
Saat pintu lift terbuka sudah sampai di ruang ballroom hotel, Heena keluar paling ahir, dan langsung mencari tempat duduk, rasanya sudah tidak kuat lagi, matanya semakin berkunang-kunang.
Sementara Ayunda saat ini sudah berdiri di samping Rengky, dan sekarang saatnya berfoto bersama keluarga.
Setelah beberapa kali sesi foto selesai, Ayunda ingin foto bersama Heena, yang sejak dirinya berada di sini, tidak melihat Kakaknya itu.
Akhirnya Aldebaran mencari Heena, mengingat wanitanya tadi kurang enak badan, saat ini Aldebaran jadi khawatir bila terjadi sesuatu dengan Heena.
Dan saat Aldebaran sampai di dekat minuman, dirinya melihat baju yang seperti digunakan Heena, Aldebaran mendekat dan benar saja orang itu adalah Heena.
Yang saat ini duduk di kursi sembari meletakkan kepalanya yang terasa pusing di atas meja.
"Sayang bangun." Aldebaran semakin panik, tidak bisa memberi tahu keluarga yang lain, Aldebaran langsung mengangkat Heena membawa wanitanya keluar hotel dan menuju mobil.
Setelah mobil melaju, Aldebaran mengendarai mobil dengan sedikit cepat, kini tujuannya adalah rumah sakit.
Saat ini hp Aldebaran sedang bunyi terus, panggilan masuk dari Bibi Sekar dan juga Paman Syafiq, bergantian terus.
Tapi Aldebaran tidak bisa mengangkatnya karena sedang buru-buru takut terjadi hal buruk dengan Heena.
Setelah sampai di rumah sakit, Aldebaran langsung membawa Heena keluar mobil dan membawanya masuk ke dalam, menuju ruang UGD.
"Dokter, Suster tolong istri saya," ucap Aldebaran dengan panik setelah meletakan Heena di atas brankar.
"Baik Tuan, tunggu sebentar."
Setelah bicara seperti itu Dokter dan Suster langsung masuk ke dalam, untuk memeriksa keadaan Heena.
Sementara Aldebaran yang saat ini berada di luar ruang UGD, merasa tidak tenang, mondar-mandir di depan pintu sudah seperti setrikaan.
Sedangkan yang ada di ballroom hotel, Bibi Sekar dan juga Paman Syafiq panik saat mencari Aldebaran juga belum ketemu, dan tadi ada yang melihat Aldebaran keluar dengan mengendong wanita.
Jelas itu adalah Heena pikir Bibi Sekar tapi ada apa dengan Heena, hp Aldebaran sedari tadi di telfon namun juga tidak diangkat.
Ayunda juga merasa khawatir setelah tahu Kakaknya pergi tapi entah kemana, dan saat ini dirinya tidak membawa hp, tapi harus tetap profesional karena ini adalah acara pernikahan nya, kesedihannya hanya mampu ia sembunyikan.
Bibi Sekar kembali menghubungi Aldebaran, dan saat ini telfonnya baru diangkat.
"Al, kamu di mana!" Bibi Sekar mengencangkan suaranya karena benar-benar panik.
"Aku di rumah sakit bibi, karena Heena sedang sakit, tadi aku sedang menyetir jadi maaf tidak bisa mengangkat telepon bibi." Jelas suara Aldebaran di sambungan telepon sana.
"Lalu sekarang bagaimana keadaan Heena," Bibi Sekar sudah menurunkan nada suaranya menjadi lebih pelan.
"Di dalam masih ditangani oleh Dokter, bibi," suara Aldebaran terdengar sayu.
"Baiklah Bibi dan Paman akan segera ke sana," putus Bibi Sekar yang sudah mau mematikan sambungan telepon, namun diurungkan saat kembali mendengar suara Aldebaran.
"Tidak perlu bibi, nanti saya kabarin bila Heena sudah ada perkembangan, kasihan Rengky bila bibi dan paman datang kemari."
Setelah mendengar penjelasan Aldebaran yang ada benarnya juga, ahirnya Bibi Sekar dan Paman Syafiq tidak jadi ke rumah sakit.
Apa lagi tamu undangan sudah mau berdatangan, tidak enak juga bila harus ditinggalkan, hanya bisa berdoa bila Heena baik-baik saja dan segera pulang.
Sementara Aldebaran yang masih menunggu hasil pemeriksaan Heena di dalam sana, masih panik dan belum tenang, sedari tadi hanya melihat jam tangannya, dan waktu terasa sangat lambat berputar.
Aldebaran bangkit lagi duduk lagi, mondar-mandir lagi, begitu seterusnya sejak tadi. Berasa ingin mendobrak pintu untuk bisa melihat wanitanya di dalam sana.
Sementara Dokter yang saat ini sedang menangani Heena, tampak bernafas lega, setelah tidak ada yang membahayakan dari hasil pemeriksaan.
Dokter meminta suster untuk menyiapkan resep obat vitamin untuk pasien, dan setelah bicara Dokter berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"Dokter bagaimana istri saya!" tanya Aldebaran yang sudah tidak sabaran ingin tahu.
"Istri Anda-."