HEENA

HEENA
BAB. 44. Benar-benar menyesal.



Di tempat lain.


Michael sedang mengamuk di ruang kerjanya, karena semua investor di perusahaannya menarik semua sahamnya, dan dapat dipastikan perusahaan Michael saat ini terancam bangkrut.


Arghhhh!


Michael melempar semua barang-barang di atas meja kerjanya, saat ini benar-benar marah.


Asistennya hanya diam berdiri sebagai tempat pelampiasan amarahnya sejak tadi, tapi pria itu tetap diam tidak akan membalas.


Salah satu karyawannya masuk ke ruang kerja Michael.


"Maaf Tuan, di bawah sana banyak orang-orang yang demo."


"Usir mereka! suruh mereka pergi!" bentak Michael yang langsung dilakukan oleh karyawan tersebut.


Michael berusaha menghubungi kembali para investornya, namun mereka tidak ada yang mau menjawab.


Arghhhh!


Michael semakin marah, kini ia menendang kursi-kursi yang ada di ruangan.


Bila sedang seperti ini, Michael harus mencari ketenangan, karena bila tidak barang-barang miliknya bisa semua hancur.


Saat Michael ke luar gedung, semua orang yang demo tadi sudah tidak ada, kini jalannya tidak ada yang menghalangi.


Entah tujuannya mau kemana, saat ini Michael sedang tidak ingin berada di perusahaan karena hanya merasa pusing di sana.


Saat sedang mengendarai mobil melewati jalanan pinggir ruko-ruko besar, Michael tanpa sengaja melihat Heena.


Heena saat ini sedang ke luar dari toko roti bersama temannya Tia dan Syif. Mereka bertiga berjalan bersama sambil tertawa.


Michael yang melihat Heena tertawa bersama teman-temannya juga ikut tersenyum, saat ini rasa amarahnya sedikit memudar, ternyata tawa Heena berpengaruh dengan emosionalnya.


Heena bersama dua temannya masuk ke dalam taksi, Michael mengikuti taksi tersebut.


Di dalam taksi, Heena terus menjadi bahan candaan Tia dan Syifa, mengatakan bila Heena menyukai Bos Aldebaran, meski sudah di jawab tidak oleh Heena, tapi Tia dan Syifa tetap saja mencandai.


"Hayo ngaku, kamu suka, kan. Iya, kan?"


"Tidak, tidak. Hahaha." Heena tertawa kegelian karena saat ini Syifa sedang menggelitik pinggang Heena.


"Kapan-kapan, ajak kami dong main bersama anak kamu itu."


Kini sudah duduk biasa tidak ada lagi bercanda-canda, saat ini berganti serius, Heena membalas ucapan Tia, "Ok, kapan-kapan kita bermain bersama dengan anakku."


"Eh, siapa sih nama anak mu?" Tia ikutan menimpali pembicaraan mereka berdua.


"Eh, eh. Aku punya nama!" ucap ketus Heena.


"Iya sorry, udah jawab saja namanya siapa?" Tia jadi penasaran.


"Yusuf." Heena menjawab cepat seraya bersandar di sandaran kursi mobil.


"Uhh, namanya yang tampan, aku jadi ingin segera bertemu dan menciuminya."


"Tidak boleh!"


Ucap Heena dan Syifa bersamaan. Yang langsung membuat ketiganya jadi tertawa bersama.


Hahaha!


Supir taksi sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah penumpangnya yang berisik sejak tadi.


Tidak jauh dari tempat Heena bekerja, Michael menepikan mobilnya. Saat ini ada perasaan menyesal yang teramat dalam, melihat Heena yang harus bekerja, semua karena kesalahannya dulu.


Michael memukuli setir mobil berkali-kali melampiaskan rasa kesalnya, cukup lama mobil Michael berhenti dekat tempat Heena bekerja. Hingga matanya menangkap Aldebaran dan Asisten Dika yang ke luar dari gedung.


Michael memperhatikan langkah mereka sampai mereka masuk ke dalam mobil bersama.


Sampai sore tiba, mobil Michael masih tetap berada di situ, hanya ingin melihat wajah Heena kembali.


Heena dan teman-temannya ke luar gedung untuk pulang, karena jam kerja sudah selesai.


Heena berpisah dengan teman-temannya, ia berjalan ke arah bus, Michael masih terus memperhatikan dari dalam mobilnya tanpa mau menyapa.


Tidak lama, bus yang Heena tunggu datang, Michael masih terus melihat Heena sampai wanita cantik itu masuk ke dalam bus.


Michael membuang nafas berat, kini wanita yang ia tunggu sudah pergi, tak ada lagi gunanya tetap di sini, Michael juga memutuskan untuk pergi.


Michael melajukan mobilnya ke tempat klub malam.


Heena yang sudah sampai rumah, tiba-tiba handphonenya berdering, ternyata Ane melakukan panggilan video call.


Heena menggeser simbol warna hijau dan seketika nampak wajah tampan Yusuf.


"Mama ..." Yusuf berteriak senang bisa melihat wajah Heena.


"Sayang, lagi apa?"


"Lagi lindu, Mama."


Heena langsung bersedih mendengar ucapan putranya yang mengatakan rindu dengannya.


"Kapan-kapan kita main bareng lagi ya?"


"Ok, Mama."


"Sekarang, Mama mandi dulu, baru pulang kerja."


"Ok, Mama." Yusuf memberi kiss bay buat Heena, Heena tertawa melihat tingkahnya.


Sambungan telepon terputus, Heena langsung membersihkan diri.


Di tempat klub malam.


Michael kini duduk di kursi, ia hanya sendiri duduk dan minum alkohol. Sedari tadi ada wanita yang mendekat, namun Michael menolak hingga kini ia tetap sendiri menikmati kehancurannya sendiri.


Michael sudah menghabiskan lima botol minuman alkohol, dan masih terus nambah lagi.


Asistennya yang tadi ia kabari, kini sudah menyusul, begitu sampai tercengang melihat bosnya sudah mabuk berat, karena minuman alkohol yang Michael minum dengan dosis tinggi.


"Ah ... aku menyesal, menyesal. Hahaha." Michael meracau namun tetap terus meminum.


"Hahaha! kau mengapa ada di sini, hah!" Michael menunjuk wajah Asistennya yang duduk di hadapannya.


"Kalian, kalian, kalian semua! pergi!"


Michael sudah semakin mabuk, namun saat di ajak pulang ia juga belum mau.


Ahirnya Asistennya memaksa untuk membawanya pulang.


Sepanjang perjalanan Michael tidur namun ketika sampai di Mansionnya, pria itu bangun dan kembali meracau lagi. Bahkan sampai memukul wajah Asistennya.