
Setelah hari Heena pulang dari rumah sakit, dan semenjak Mawar tinggal satu atap dengannya, hubungannya dengan Michael benar-benar jauh dari kata harmonis.
Lebih buruk dari pada sebelum-sebelumnya, wanita itu seolah menguasai seluruh hati Michael serta mengendalikan pria itu.
"Heena!" teriak Michael memenuhi seisi ruangan, berjalan mencari Heena.
"Heena ...."
Michael yang sudah mencari Heena kesemua ruangan yang biasa wanita itu datangi, namun hasilnya nihil.
"Di mana dia?" gumamnya dengan marah.
Heena yang sedang menyiram bunga di taman belakang hanya membuang nafas kasar, saat tiba-tiba tangannya dicekal oleh pria yang saat ini wajahnya terlihat sangat marah.
Keduanya saling menatap tajam, tidak ada ketakutan lagi bagi Heena.
"Kau benar-benar seorang ibu yang tidak bisa mendidik putramu sendiri!"
"Apa?" Heena menjawab santai seraya kembali menyiram bunga setelah menarik tangannya dari cekal Michael.
Michael semakin tersulut emosi, menganggap Heena benar-benar tidak menghargainya lagi.
Dan saat Michael mau memegang tangan Heena kembali, wanita itu langsung menepisnya.
Heena menatap tajam. "Punya hak apa wanita itu harus di panggil Mama oleh, Yusuf!"
"Bahkan kau sebagai Ayahnya tidak mengerti bagaimana perasaan putramu!"
Deg.
Ucapan Heena bagai batu penghantam, Michael melihat Heena yang sudah berjalan masuk ke Mansion.
Di kamar Yusuf, Heena memeluk Anaknya itu, ia menasehati Yusuf pelan-pelan, Karena Anak seusia Yusuf belum bisa mengerti.
"Mama, Mama Yusuf cuma satu, Mama Heena."
Mendengar pernyataan putranya tentu membuat Heena semakin terlukai atas perbuatan Suaminya yang menikah lagi.
Ehem.
Heena yang sedang mengambil air minum di dapur, ia menoleh ke sumber suara.
"Lebih baik, Mbak Heena mundur dan pergi tinggalkan, Michael." Mawar berbisik di telinga Heena dengan penekanan.
Heena hanya tersenyum sinis. "Ambillah aku tidak peduli."
Mawar menyungging senyum tipis saat melihat Heena berlalu, dan ....
Prannkk.
"Ah, tanganku!"
Mawar berakting saat melihat Michael berjalan ke arah dapur lewat jalan samping.
Heena tetap terus berjalan, meski ia mendengar suara gelas pecah, tetapi ia tidak tertarik untuk melihat.
Michael langsung menyambar tubuh Heena saat wanita itu keluar dari dalam kamar mandi.
Plak.
Tapi bukan pipi Heena yang tertampar, melainkan pipi Michael.
Heena yang sudah tidak bisa diam lagi mendapat perlakuan kasar lagi dari pria itu.
"Aku istrimu, bukan musuhmu! jika sudah tidak bisa memperlakukan dengan baik, lebih baik kita cerai."
"Cerai!" Heena berteriak mengeraskan suaranya.
Heena langsung pergi meninggalkan Michael, hatinya sudah benci benar-benar muak terhadap Michael yang tidak bisa membedakan istri yang baik.
"Awal permulaan." Mawar menyungging senyum tipis.
Heena seharian itu tidak ke luar kamar Yusuf, ia lebih baik habiskan waktunya untuk menemani Putranya untuk bermain di kamar.
Setelah tiba malam hari, Heena tidak ikut makan malam, Yusuf yang makan malam ditemani pengasuhnya.
Mawar yang melihat Yusuf sudah duduk di meja makan, ia mendekati Yusuf lalu mengusap puncak kepalanya. Niat hati ingin mengambil hati Anak itu.
Yusuf langsung meraih tangan Mawar dengan kasar lalu menggigit tangan itu.
Ahhww.
Yusuf yang tidak suka kepalanya diusap oleh orang lain tentu marah.
"Yusuf!"
Suara bentakan dari Michael langsung membuat tangis anak kecil itu begitu kencang.
Heena langsung ke luar kamar saat mendengar Yusuf menangis.
Heena langsung menenangkan Yusuf menepuk pelan punggung putranya, dan tidak lama Yusuf tertidur di gendongan Heena.
Heena menidurkan Yusuf di kamarnya, setelah itu ia menghampiri dua orang yang sudah membuat Yusuf menangis.
Byur.
Heena menyiram wajah Mawar dengan air. "Masih berani kamu mengusik anakku, aku tidak akan tinggal diam.
Michael yang tentu membela Mawar ia langsung menarik tangan Heena dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.
Michael menyiram tubuh Heena hingga membuat pakaian wanita itu basah kuyup.
"Hentikan, Michael!"
Jeritan wanita itu seolah tidak di dengar oleh Michael, pria itu terus mengguyur tubuh Heena dengan air, entah karena marah atau kesal karena Heena tidak peduli lagi dengannya.
"Layani aku malam ini," bisiknya di telinga Heena.
Entah mengapa melihat tubuh Heena yang basah membuat Michael menginginkan sesuatu.
Mawar yang kesal karena melihat Michael menarik Heena masuk ke dalam kamar Heena, dan kini sudah dua jam pria itu tidak kembali ke kamarnya, padahal udah janji akan tidur bersamanya terus.
Hingga menjelang pagi, Mawar semakin kesal yang ternyata semalaman Mickael tidur di kamar Heena.
Arghhhh.
Mawar berteriak, ia merasa Michael sudah membohongi.
Di kamar sebelah, Michael menatap wanita yang saat ini sedang di bawah selimut yang sama.
Michael mengusap rambut Heena, wanita itu masih terlelap karena kelelahan, yang harus melayani keinginan Michael yang memintanya berkali-kali tadi malam.
"Aku marah, jika kamu tidak peduli lagi denganku," gumamnya seraya mengeratkan pelukannya.
Heena mengeliat, dan saat membuka mata ia mau protes namun belum sempat berucap, bibirnya lebih dulu di kunci oleh ciuman Michael.
Dan pagi itu keduanya kembali mengulangi pergumulan panas hingga dua kali, dan membuat Heena jadi malas mau bangun, merasa lelah.
Michael yang sudah rapih dengan pakaian kerja, ia menemui Yusuf. "Pagi ini, Papa, yang anatar sekolah, Mama masih tidur."
"Hole ..." teriak kegirangan Yusuf, karena diantar Papanya.
Michael yang melihat Mawar tampak kesal, saat ia berpamitan mau kerja sekalian antar Yusuf sekolah, ia tidak peduli, pikirnya ia sudah puas mendapatkan Heena tadi malam bahkan pagi juga.
Soal mawar ia berpikir cukup dibelikan tas branded wanita itu sudah ceria lagi.