HEENA

HEENA
BAB. 42. Bersama mengantar sekolah Yusuf.



"Yusuf ...."


"Mama ..." teriak Yusuf dan langsung berlari ke arah Heena yang berdiri di samping Michael.


Ya, ahirnya Heena memutuskan untuk menemui Yusuf lebih dahulu, baru nanti ia akan pulang ke rumah.


Yusuf saat ini berada di gendongan Heena dengan membawa mainan mobil nya. "Mama dan Papa, pulang baleng." Yusuf melihat Heena dan berganti Michael.


"Iya, karena tadi Mama ingin menemui Yusuf, jadi sekalian bareng, Papa."


Namun yang berkata tersebut bukan Heena, tetapi Michael seraya mengusap puncak kepala Yusuf.


"Bermain sama Mama dulu, Papa ke atas dulu."


"Baik, Pa." Yusuf tersenyum.


Michael berjalan ke kamarnya, sementara Heena masuk ke dalam kamar Yusuf. keduanya lalu bermain, aneka macam mainan Yusuf di kelurahan, Ane juga ikut membantu.


Yusuf bermain merangkai robotan, Heena juga mengikuti untuk menyenangkan hati putranya. larut bermain hingga tiba malam hari, saatnya harus makan malam.


Kini ketiganya sudah berada di meja makan, tempat dimana dahulu Heena sering tempati, ada perasaan yang tidak enak ketika mengingat dahulu dan sekarang bukan siapa-siapa lagi, hanya karena Yusuf yang membuat semua masih terhubung.


Heena dan Michael makan tanpa suara, hanya Yusuf yang membuat ruang makan tidak sunyi, karena celotehnya yang manja minta ini itu karena ada mamanya.


"Ayo tinggal dua suap lagi habiskan," ucap Heena, dan langsung di sambut dengan mulut lebar-lebar Yusuf, Heena menyuapi dengan tertawa merasa lucu ekspresi wajah putranya.


Tuhan, aku bahagia melihat dua malaikatku tertawa dan tersenyum di hadapanku langsung, seandainya waktu bisa aku putar kembali, aku tidak akan menyia-nyiakan dia, maafkan aku Heena.


Setelah makan malam selesai Heena menemani Yusuf di kamar.


Yusuf berbaring di ranjang dengan Heena memeluk Putranya supaya cepat tidur.


"Mama, Yusuf bahagia." Yusuf mengusap wajah Heena.


"Yusuf, ingin selalu dekat, Mama." Yusuf berkata pelan, matanya berkaca-kaca.


"Yusuf, ingin bisa sepelti dahulu, Mama." Yusuf memeluk Heena.


Heena mencium puncak kepala Yusuf. "Sayang, kita akan terus bersama, meski dalam keadaan yang berbeda, doakan saja supaya Mama segera dapat rezeki dan kita tinggal bersama."


"Apa, Papa mengijinkan, Ma."


"Mengijinkan, Sayang."


Yusuf berusaha ingin melihat mata Mamanya, ingin mencari tanda kebohongan, namun bocah kecil itu seolah menemukan bahwa Mamanya tidak bohong.


"Mama."


Heena mencium kening Yusuf. "Tidurlah, Nak. Besok sekolah."


Heena mengusap punggung Yusuf supaya anak itu segera tidur.


Heena yang tidak bisa tidur, ia berjalan ke arah jendela, lalu membuka pintu balkon.


Saat matanya melihat ke bawah, ia menangkap sosok Michael yang sedang duduk di taman depan seorang diri.


"Sedang apa dia malam-malam ini."


Heena yang tidak ingin mencampuri urusan Michael memilih diam, karena takut membuat bumerang, karena ia belum tahu bila Michael sudah di tinggalkan oleh Mawar.


"Mama ..." teriak Yusuf memanggil Mamanya saat melihat Heena tidak ada di ranjang, padahal tadi sudah janji mau tidur bersamanya.


Heena langsung berjalan masuk menghampiri Yusuf. "Sayang, ini Mama. Ada apa sayang."


Heena memeluk Yusuf menenangkan putranya yang baru saja menangis.


Heena mengajak Yusuf untuk tidur kembali, sementara Michael pria itu tadi sempat melihat Heena, saat wanita itu ingin kembali masuk ke dalam kamar karena mendengar suara tangis Yusuf.


Michael membuang nafas berat, mengetahui mungkin Heena juga tidak bisa tidur seperti dirinya.


Tiba pagi hari.


Heena membangunkan Yusuf untuk sekolah.


"Sayang, ayo bangun."


Emm.


Yusuf semakin menarik selimut belum mau bangun, karena ia pikir Ane yang membangunkan.


"Sayang, ini Mama. Kalau tidak mau bangun nanti Mama tinggal."


Ucapan Heena seketika ampuh, Yusuf langsung bangun dan langsung minta dimandikan oleh Heena.


Di meja makan, Michael yang sudah siap dengan pakaian kerjanya, ia menghampiri pelayan yang menyiapkan sarapan.


"Apa semua sudah selesai, Bu?"


"Sudah, Tuan. Bekal untuk Tuan Muda juga sudah selesai."


"Bagus." Michael meraih kursi lalu duduk.


"Tuan, mau dibuatkan kopi?"


"Boleh," ucap Michael, Bibi langsung ke dapur dan membuat kopi untuk Tuanya.


Tidak berselang lama, Heena dan Yusuf tiba di meja makan.


"Papa ..." ucap Yusuf yang kini berjalan di gandeng Heena.


Michael menoleh ke arah putranya yang terlihat tampan dan ceria hari ini.


"Papa, aku sekolah mau di antal, Mama." Yusuf mengadu pada Papanya, yang langsung membuat Michael tersenyum melihat putranya begitu antusias semangat hari ini.


"Ok, Yusuf belajar yang rajin ya hari ini."


"Siap, Papa." Yusuf menjawab cepat dengan tersenyum.


Setelah sarapan pagi selesai, serta bekal dan keperluan Yusuf sekolah aman tidak ada yang tertinggal, Heena bersama Ane dan juga Yusuf berangkat diantar oleh Michael.


Sampai di sekolah Yusuf, Anak itu menyalami tangan Heena dan juga Michael sebagai tanda hormat pada kedua orang tuanya.


Heena dan Michael juga mencium pipi Yusuf, yang langsung membuat hati Yusuf bahagia, karena jujur hal ini baru pertama kali.


"Seling-seling, Ma, Pa. Antal Yusuf ke sekolah," pintanya sebelum pergi dari hadapan keduanya orang tuanya.


"Iya, Sayang."


Jawab keduanya bersamaan tanpa sadar, Yusuf diantar oleh Ane masuk ke dalam sekolah, sementara Heena terpaksa menerima tawaran Michael yang akan mengantar dirinya sampai tempat kerja.


Di sepanjang jalan Heena hanya diam, seraya melihat ke arah luar. Michael sesekali mencuri pandang melalui kaca mobil.