
Sudah beberapa hari ini Heena tidak masuk kerja, bahkan Heena sudah mengajukan surat pengunduran diri. Mengetahui hal itu Aldebaran langsung menemui Heena.
Saat ini Aldebaran berada di rumah Heena, sedang berdiri di depan pintu rumah Heena, Aldebaran mengetuk pintu, tidak berselang lama Heena membuka pintu tersebut.
Deg!
Keduanya saling diam terpaku, Heena terkejut saat tiba-tiba Aldebaran sudah berdiri di depan pintu, sementara Aldebaran merasa bersalah, dan kedatangannya saat ini ingin meluruskan masalahnya dengan Heena.
Heena memutus pandangan matanya, dan kemudian mau menutup pintu itu lagi, namun dengan segara kaki Aldebaran menghalangi pintu tersebut, hingga membuat pintu tidak bisa ditutup.
"Ijinkan aku bicara." Aldebaran melihat Heena yang memalingkan wajahnya.
Heena menghela nafas panjang, tanpa menjawab ucapan Aldebaran, Heena membiarkan Aldebaran masuk ke dalam, Heena duduk di sofa seraya melihat ke bawah, Aldebaran duduk di sofa di depan Heena, dengan meja sebagai pembatas.
"Kenapa kamu tidak masuk kerja."
Mendengar kalimat yang di ucapkan Aldebaran, mau tidak mau Heena harus menjawab, "Ini lebih baik untuk hubungan kita."
"Hubungan kita masih Sumi istri," jawab cepat Aldebaran.
Heena kembali membuang nafas berat. "Aku rasa ini tidak perlu diperpanjang."
"Menurutku perlu," jawab cepat Aldebaran.
"Al."
"Heena."
Setelah menyebut nama masing-masing dalam waktu bersamaan, Heena dan Aldebaran saling menatap, bila tatapan Heena penuh luka, Aldebaran menatap penuh rasa bersalah.
Heena menangis, memohon pada Aldebaran, "Biarkan aku pergi, Al. Kita hanya menikah siri dan itu tidak ada artinya apa-apa, ada Mulan yang mencintaimu."
"Selama aku tidak mengijinkan, jangan coba-coba pergi, Heena." Aldebaran menatap tajam ke arah Heena. Bagian hatinya yang kecil merasa tersinggung dengan ucapan Heena yang mengatakan pernikahan siri tidak ada artinya apa-apa. Padahal Aldebaran masih baru mau ingin membicarakan masalah ini dengan Pamannya.
"Al, kamu egois!" Heena berteriak semakin menangis.
"Kamu harus tahu posisi aku saat ini, Heena," ucap cepat Aldebaran.
"Tapi kita memang tidak bisa bersatu, Al. Aku ... aku bingung harus menjelaskan bagaimana dengan Yusuf." Heena menutup wajahnya yang menangis, tubuhnya terlihat bergetar.
"Aku akan membantumu untuk menjelaskan."
"Kamu mau jelaskan seperti apa, Al. Yusuf masih kecil dan aku yakin dia tidak akan paham, aku takut melukai hatinya." Heena kembali mengingat saat-saat bersama Yusuf yang begitu bahagia ketika Heena mengurus Michael waktu sakit.
Heena semakin menangis pilu, bingung harus bagaimana, saat ini hanya ingin sendiri, tidak ingin bertemu siapa-siapa.
Aldebaran terdiam juga menyelami pikirannya sendiri, Aldebaran juga merasa bersalah, tidak menyangka akan berada di situasi yang serumit ini.
Melihat Heena yang sepertinya begitu terpukul dengan masalah ini, membuat Aldebaran merasa kasihan dengan Heena.
Aldebaran membuang nafas panjang. "Istirahat lah, aku akan pergi, tapi tolong kamu jangan pergi."
Setelah berkata seperti itu, Aldebaran terus berlalu dari rumah Heena.
Heena menghapus air matanya, lalu menutup pintu rumahnya, Heena masih bingung dengan yang Aldebaran ucapkan melarangnya untuk tidak pergi.
"Apa mau mu, Al." Tubuh Heena meluruh ke bawah bersandar di pintu, menekuk lututnya dan menangis.
Aldebaran yang saat ini sedang menyetir mobil, pikirannya juga masih memikirkan masalah ini, hingga membuatnya tidak fokus, dan hampir saja menabrak orang yang mau menyebarang.
Ciiiiittttttt.
Aldebaran langsung menghentikan mobilnya dengan cepat, mengusap wajahnya dengan kasar seraya bersandar di sandaran kursi mobil.
Setelah merasa lebih tenang, Aldebaran kembali melajukan mobilnya kini tujuannya ke rumah Pamannya.
Heena menatap jendela luar yang ada di kamarnya, waktu sudah menunjuk malam hari, di luar juga sudah gelap, hanya ada lampu sebagai penerang, beberapa hari ini Heena seperti kehilangan semangat.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, Heena berjalan menuju pintu ruang tamu, Heena mengintip dari jendela ternyata Ayunda yang datang, Heena langsung membukakan pintu.
"Ayunda," ucap Heena seraya memeluk adiknya itu.
Ayunda membalas pelukan Kakaknya. Keduanya kini berjalan masuk, Heena mengajak Ayunda masuk ke dalam kamarnya.
Heena yang tidak bisa berbohong dengan Ayunda, ahirnya ia memilih menceritakan masalahnya dengan Ayunda, tentang kejadian di vila, dan berakhir pernikahan siri Aldebaran dengannya, Heena bercerita sambil menangis, Ayunda merasa kasihan dengan Kakaknya itu, Ayunda memeluk Heena untuk wanita itu supaya lebih tenang.
Malam ini Ayunda menginap di rumah Heena, menemani Kakaknya karena tidak tega bila harus meninggalkan pulang.
Sampai waktu larut malam, Heena juga belum tidur, namun Ayunda yang tidur di sebelahnya sudah tidur sejak tadi.
Heena mengambil handphonenya yang tiba-tiba ada bunyi pesan masuk, dan setelah membaca pesan tersebut, raut wajah Heena menjadi berubah tidak terbaca.