
"Bagaimana?" tanya Aldebaran pada Dika yang ia perintahkan untuk mencari gedung apartemen yang di jual.
"Sudah dapat, Tuan?" jelas Dika di sambungan telepon.
"Baiklah, urus segera administrasinya." Setelah berkata demikian, Aldebaran mematikan sambungan telepon.
Saat ini ia berada di ruang kerjanya yang ada rumah tersebut, setelah urusannya dengan Dika selesai, Aldebaran langsung ke luar untuk menemui Bibi Sekar yang tadi katanya ingin bicara sebentar dengannya.
Di ruang keluarga, hanya ada Bibi Sekar dan Paman Syafiq dan juga Aldebaran yang baru saja tiba.
"Al, Bibi punya usul, bagaimana bila kita adakan syukuran atas keberhasilan kamu, Al?" jelas Bibi Sekar mengatakan tujuannya mengajak Aldebaran bicara.
"Al, ngikut Bibi dan Paman saja." Aldebaran tidak akan melarang karena niat Bibi Sekar baik.
"Jika begitu, Bibi punya usul, bagaiman bila kita membuat acaranya di pantai asuhan, Al."
Aldebaran berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Tidak masalah, Bibi."
"Alhamdulillah," ucap Bibi Sekar dan Paman Syafiq bersamaan.
Setelah pembicaraan selesai, Aldebaran ijin masuk ke dalam kamar, karena waktu memang sudah semakin malam. Sudah waktunya semua orang untuk beristirahat.
Malam panjang pun telah terlewati, berganti pagi hari yang cerah.
Aldebaran yang sudah memakai baju kerjanya, namun lagi memakai dasi, Aldebaran yang saat ini berdiri di depan cermin, entah mengapa hari ini ia merasa tidak rapi saat memasang dasi, sudah berkali-kali ia bongkar dan lalu ia pasang lagi.
Heena yang baru ke luar dari dalam kamar mandi, masih mengeringkan rambut dengan handuk, Heena melihat Aldebaran yang terlihat kesal saat memakai dasi.
Heena mendekati, berniat mau membantu. "Al, boleh aku pasangkan dasinya." Kini Heena sudah berdiri di hadapan Aldebaran.
Pria itu tidak fokus dengan pertanyaan Heena, tapi fokusnya melihat air yang menetes dari rambut Heena.
Tanpa menunggu jawaban Aldebaran, Heena memasangkan dasi di leher kemeja Aldebaran, setelah selesai Heena menepuk pelan dasi bagian atas.
"Terimakasih."
Cukup satu kata yang ke luar dari bibir Aldebaran, setelah itu dia pergi ke luar kamar.
Heena menghela nafas panjang, dan baru sadar bila saat ini dirinya hanya menggunakan handuk untuk membalut tubuhnya.
Oh Heena! gumam kesal dalam hati seraya menepuk jidatnya sendiri, bagaimana bisa kamu seceroboh ini, pantas saja tadi dia pergi seperti terlihat aneh, pasti sudah menganggap kamu menggodanya. Heena ceroboh! umpat kesal Heena.
Huhh! rasanya malu sekali, andai Heena bisa sembunyi di lubang semut, pasti langsung ia lakukan sekarang juga, entah wajah seperti apa yang akan Heena pasang saat nanti bertemu Aldebaran lagi.
Sementara Aldebaran yang saat ini sudah dalam perjalanan, entah kenapa pikirannya sedari tadi sejak melihat air yang menetes dari rambut Heena jatuh di bahu mulusnya, malah membuatnya kepikiran terus.
Aldebaran membuang nafas kasar saat pikiran-pikiran itu tidak mau hilang, Aldebaran kemudian menghidupkan musik di dalam mobil yang ia putar sangat kencang. Untuk mengalihkan pikirannya.
Walau tidak sekejap langsung hilang, setidaknya membantu untuk mengalihkan.
Setelah beberapa menit, Aldebaran sampai di tempat tujuan, selesai memparkirkan mobilnya, Aldebaran menyembul ke luar mobil masih menggunakan kaca mata hitam, lalu berjalan di mana Dika sudah menunggunya di sana.
"Apa semuanya sudah beres?" tanya Aldebaran saat melewati Dika, dan terus lanjut berjalan.
"Sudah, Tuan." Dika menjawab sembari mengikuti langkah Aldebaran yang berjalan di depannya.
Aldebaran melihat-lihat gedung yang akan dijadikan kantor baru untuk Al-Gazali Group, mensurvey dari beberapa lantai hingga beberapa ruangan, Aldebaran menyukai dan memang perlu diakui kerja Dika memang bagus selalu memuaskan.
"Mulai hari ini, kamu sudah boleh membuka lowongan kerja di setiap bagian." Aldebaran berkata seraya menepuk pundak Dika, sebelum ahirnya ia pergi.
Dika yang mendapat perintah dari Tuannya, langsung melaksanakannya, yang langsung membuat pengumuman lowongan kerja di web milik Al-Gazali Group, yang baru dibuatnya.
Bila Aldebaran dan Asisten Dika sibuk dengan urusan perusahaan baru, Heena dan juga Bibi Sekar sibuk untuk acara syukuran.
Saat ini Heena dan Bibi Sekar, diantar bersama sang sopir, untuk mendatangi salah satu panti asuhan, di mana acara syukuran nanti akan diadakan di panti asuhan.
Bibi Sekar yang sebagai donatur tetap di salah satu panti asuhan, yang biasa ia datangi, kini ia mengajak Heena untuk datang ke sana.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit, mobil sampai di panti asuhan.
Bibi Sekar mengajak Heena untuk berjalan mendekati pintu panti asuhan, setelah tadi ke luar dari dalam mobil.
"Ibu Cece, begini dengan kedatangan kami ke sini, karena ingin mengadakan acara syukuran di panti asuhan ini?" jelas Bibi Sekar setelah duduk di ruang penerima tamu, bersama Ibu Cece selaku ketua panti asuhan.
Ibu Cece tersenyum. "Kami tidak masalah Ibu Sekar, dan kami mengucapkan sangat terimakasih pada Ibu Sekar."
"Baiklah Ibu Cece, sepertinya acara akan dimulai besok hari," jelas Bibi Sekar dengan senyum cantiknya di wajah.
Setelah pembicaraan itu, Bibi Sekar dan Heena pamit, saat langkah keduanya sudah ke luar pagar panti asuhan, tiba-tiba ada suara anak kecil memanggilnya.
"Mama ...."
Heena mendengar suara itu serta tangis pilu anak kecil itu, Heena belum balik badan dan melihat, tiba-tiba hatinya sedih teringat Yusuf.