
Cukup lama Heena menangis sampai dirinya merasa benar-benar cukup tenang. Sedari tadi Dokter hanya mengamati Heena dan Aldebaran, menunggu keluarga pasiennya lebih tenang baru ia akan menjelaskan.
"Tolong jelaskan semuanya, Dokter?" pinta Heena yang saat ini sudah duduk sempurna, dan sudah merasa siap mendengar apa pun yang akan Dokter sampaikan.
Di bawah meja tangan Heena Aldebaran genggam, supaya wanitanya bisa kuat menerima kenyataan ini.
Dokter menghela nafas, seolah ini berat untuk dirinya sampaikan, tapi ini adalah kewajibannya sebagai Dokter, menatap Heena dan Aldebaran bergantian sebelum ahirnya bicara, "Pasien bernama ibu Fatima, setelah kami melakukan tes pemeriksaan, kami menemukan sebuah virus di dalam tubuh ibu Fatima, virus ini bekerja dengan lambat tapi dalam waktu yang ditentukan orang tersebut bisa meninggal."
Deg! deg! Jantung Heena berdetak lebih cepat seraya semakin kuat menggenggam tangan Aldebaran.
"Setelah kami amati dan dari data yang keluar tadi, virus tersebut bekerja selama tiga tahun," jelas lagi Dokter tersebut.
"Bila boleh tahu, virus itu asalnya dari mana ya, Dok?"
Bukan Heena yang bertanya tetapi Aldebaran, mendengar penjelasan Dokter membuat Aldebaran tertarik dengan kasus ini, sementara Heena sudah tidak bisa apa-apa lagi, tapi sudah lebih kuat sekarang tidak menangis lagi hanya begitu terkejut saja.
"Virus itu ada ketika ada seseorang yang menyuntikan dalam tubuh korban."
Deg! Aldebaran dan Heena sama-sama terkejut, bila sepeti itu berati Ibu Fatima memiliki seorang musuh, tapi apa mungkin pikir Aldebaran, karena tidak ingin salah mengartikan Aldebaran bertanya lagi.
"Apa kah Dokter bisa mengobati?" tanya Aldebaran yang semakin penasaran.
Dokter itu menggeleng. "Kami hanya bisa memberikan obat untuk menjaga daya tahan tubuh pasien, namun perjalanan waktu bila tidak mendapat obat untuk menghilangkan virus itu ibu Fatima akan meninggal." Dokter berhenti bicara dan menghela nafas.
"Orang yang telah menyuntikan virus ke dalam tubuh ibu Fatima dialah yang bisa mengobati, karena bila dia bisa menciptakan virus berarti dia juga sudah menyiapkan obatnya." Jelas lagi Dokter tersebut.
Mendengar penjelasan itu Heena berubah marah, terlihat jelas dimatanya yang sedang menahan kekesalan itu, bahkan tangan Heena tanpa sadar mencengkam kuat tangan Aldebaran, hanya satu yang Heena ingin lakukan saat ini, yaitu mencari orang yang sudah berani membuat ibunya seperti itu.
Setelah merasa sudah tidak ada lagi yang akan dibicarakan, Heena dan Aldebaran pamit ijin keluar dari ruang Dokter tersebut.
Sampai di luar, Heena yang saat ini pundaknya dipegang oleh Aldebaran, melepaskan tangan Aldebaran itu dan menatap wajah pria itu. "Al, aku tidak terima dengan perbuatan orang itu yang sudah berani membuat ibu Fatima sakit!" ucap Heena dengan emosi yang tinggi bercampur tangis.
Aldebaran memegang pundak Heena lagi, Heena menahan kekesalannya dengan menoleh ke arah samping. "Tenanglah, aku tahu ini berat untuk kamu dan semuanya, tapi kamu harus tenang supaya kita menemukan jalan keluarnya." Terang Aldebaran, dan di detik kemudian menarik Heena dalam pelukannya.
Tangan Aldebaran mengusap-usap lembut rambut Heena, dirinya tahu betul yang dirasakan Heena saat ini, siapa yang terima ibunya dibuat sakit seperti itu, lalu sebuah konspirasi apa yang orang itu buat sampai harus melibatkan orang kalangan biasa, apa keuntungannya? semua pertanyaan itu ada dipikiran Aldebaran.
Heena dan Aldebaran kembali berjalan menuju ruangan Ibu Fatima.
Sampai di sana masih berdiri di ambang pintu, Heena melihat Lulu yang menangis pilu seraya memeluk Ibunya. Tangisnya sampai terasa menyayat hatinya sendiri, dan semakin tidak kuat Heena melihat Lulu menangis saat teringat penjelasan Dokter.
Heena tidak jadi masuk ke dalam, ia kembali keluar lagi namun bukan duduk di kursi tunggu, melainkan Heena berlari entah mau kemana, Aldebaran mengejar langkah lari Heena yang cepat itu.
"Heena!" teriak Aldebaran yang terus mengejar langkah kaki Heena, namun wanita itu seolah tidak menghiraukan teriakan suaminya, ia terus berlari untuk mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan hatinya yang sedang marah kesal campur jadi satu.
Aaaaaaaaaaa!
Teriak Heena setelah sampai di taman belakang rumah sakit, Aldebaran seketika menghentikan langkahnya setelah mengerti apa yang diinginkan istrinya itu.
Aaaaaa!
Teriak Heena kedua kali dengan air mata yang bercucuran deras di pipinya, saat ini Heena hanya merasa tidak berdaya dan merasa tidak berguna, ingin marah sama dirinya sendiri yang tidak bisa diandalkan dalam situasi seperti ini.
Heena berteriak menangis membawa tubuhnya ambruk tertunduk di atas rerumputan taman belakang tersebut.
Aku tidak berguna, aku tidak bisa berbuat apa-apa? Heena menggelengkan kepalanya, bagaiman bila akan terjadi sesuatu yang parah dengan ibu Fatima, siapa yang akan aku salahkan, Aaaaaa! Heena terus berteriak menyalahkan dirinya sendiri.
Aldebaran yang sudah tidak tahan melihat Heena menyalahkan dirinya sendiri, pria itu melangkah mendekat lalu dengan gerakan cepat langsung memeluk Heena erat, wanita itu memberontak minta dilepaskan, namun Aldebaran semakin erat memeluknya.
Hingga marah dan kesalnya perlahan-lahan mereda, kini Heena menjatuhkan tubuhnya lemas dalam pelukan Aldebaran. Masih terdengar tangis pilu dari suaranya.
"Tenanglah, aku tidak ingin kamu menyalahkan terus dirimu sendiri, ini bukan salahmu, berhentilah kamu menyalahkan dirimu sendiri." Aldebaran bicara lembut di telinga Heena.
"Aku harus apa? Al." Heena bicara masih campur Isak tangisnya.
"Cukup tenang, jangan menyalahkan dirimu, seperti yang saya katakan tadi." Aldebaran menangkup wajah Heena dan menatap dalam bola mata wanitanya.
Heena mengangguk, Aldebaran kembali memeluk Heena. Setelah merasa lebih baik Aldebaran mengajak Heena untuk mencari makan, kini keduanya berjalan menuju kantin di rumah sakit.
Sampai di sana Heena duduk, Aldebaran memesan makanan, dan tidak berselang lama sudah kembali dengan dua mangkuk mie dan dua botol teh dingin.
Heena dan Aldebaran memakan mie tersebut, sampai lupa dari pulng ke rumah sampai sekarang baru mengisi perut.
Tapi anehnya juga tidak merasa lapar, ini saja karena tiba-tiba Aldebaran teringat bila belum makan.
Dan mungkin efek kesal dan marah karena belum makan pikir Aldebaran yang malah terkekeh dalam hati.
"Mau nambah?" tanya Aldebaran saat melihat mie di mangkuk Heena sudah mau habis. Heena menggeleng cepat tanda tidak mau.
Aldebaran mengangguk dan kembali menyuap lagi. Heena yang sudah habis duluan mie di mangkuknya langsung meminum teh botol, dilanjut Aldebaran yang juga sudah habis makannya.
Aldebaran memesan lagi mie ayam untuk diberikan buat Lulu, menunggu mie yang lagi dibuatkan, Heena dan Aldebaran bersandar, tidak lama kemudian mereka berdua sudah berjalan kembali masuk ke rumah sakit dengan tangan Heena menenteng plastik isi mie ayam untuk Lulu.