HEENA

HEENA
BAB 50. Salah jebakan.



Mulan kembali ke vila dan menemui Aldebaran kembali, yang saat ini masih tiduran di sofa sambil memainkan handphonenya.


"Al, aku sepertinya harus pergi sebentar, kamu tidak apa-apa, kan. Bila aku tinggal." Mulan duduk di sofa di depan Aldebaran.


Hemm.


"Baiklah, aku akan secepatnya kembali." Mulan langsung beranjak pergi. Aldebaran tidak peduli ia tetap asyik dengan handphonenya.


Tiba-tiba Asisten Dika menelpon.


"Kenapa."


"Ada berkas penting yang harus Anda tandatangani sekarang, Tuan."


"Aku sedang di luar kota."


"Datanglah ke sini, aku tunggu," ucapnya kemudian, yang langsung Aldebaran matikan sambungan telepon tersebut.


Di perusahaan D.A Corp.


Asisten Dika melihat arlojinya waktu sudah menunjukan pukul satu siang, dan itu artinya ia kembali sibuk dengan pekerjaan penting yang harus ia segera selesaikan.


"Aku minta tolong siapa ya." Asisten Dika berpikir caranya supaya mendapat tanda tangan itu tanpa ia harus ke vila.


Masih sedang berpikir tiba-tiba ada suara wanita yang menyapanya.


"Tuan, maaf saya mau menyerahkan file ini."


Heena, apa aku minta tolong dia saja ya, gumamnya dalam hati.


Setelah meletakkan file di atas meja Asisten Dika, Heena ingin langsung pergi dari ruangan tersebut, namun baru mau membuka pintu namanya di panggil oleh Asisten Dika.


"Nona Heena, apa Anda bisa membantu saya."


Heena balik badan menatap Asisten Dika, Heena mengangguk kecil yang bertanda ia mau membantu.


Asisten Dika mengambil berkas di atas mejanya, kemudian memberikannya pada Heena. "Tolong Anda minta tanda tangan tuan Aldebaran, pergilah ke vila saat ini."


Mendengar kalimat saat ini Heena langsung bengong, Asisten Dika menjelaskan lagi, "Karena ini penting, alamatnya nanti saya kirim di hp Anda."


Heena menerima berkas tersebut, kemudian menunduk hormat sebelum ahirnya pergi dari ruangan tersebut.


Mengapa harus aku sih, batin keluh Heena seraya turun dari tangga.


Ting.


Heena menghentikan langkahnya kemudian melihat pesan masuk, yang ternyata dari Asisten Dika yang mengirim alamat padanya.


Heena menghela nafas panjang seraya memutar bola mata malas.


Heena merapihkan pekerjaan, kemudian ke luar dari tempat kerja berjalan menuju taksi online yang sudah menunggunya.


Setelah Heena masuk ke dalam mobil, mobil langsung melaju, di sepanjang jalan Heena hanya diam karena perjalanan jauh lama-kelamaan Heena tertidur.


Pukul empat sore Heena sampai di vila, membayar taksi online, kemudian berjalan menuju vila.


Heena memencet bel beberapa kali namun belum ada yang membuka.


Heena menunggu berdiri membelakangi pintu, Aldebaran membuka pintu sedikit terkejut saat ia melihat rambut panjang lurus itu.


Heena, gumamnya dalam hati.


Heena balik badan dengan tersenyum, senyumnya berubah kikuk saat matanya kini bertemu dengan mata Aldebaran.


Beberapa saat Heena bingung bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, padahal tujuannya sudah jelas datang ke mari karena meminta tanda tangan, tapi entah mengapa pikirannya jadi blank.


Aldebaran sudah berpikir bahwa Heena datang ke sini karena Asisten Dika yang pasti memintanya.


Heena mengikuti langkah Aldebaran yang masuk ke dalam vila, Heena melihat ruangan itu yang begitu besar dan mewah, banyak lukisan-lukisan indah serta ukiran patung yang juga indah terletak di ruangan ini.


Heena duduk di sofa, Aldebaran yang tadi sempat pergi kini kembali dengan membawa air minum untuk Heena.


"Minumlah."


"Terimakasih, Tuan."


Heena meminum air tersebut, Aldebaran mengambil berkas yang sudah tergeletak di atas meja, kemudian membubuhkan tanda tangan.


Selesai Aldebaran menanda tangani berkas itu, dalam waktu bersamaan hujan turun sangat deras.


Heena langsung menatap luar.


Bila begini aku tidak bisa langsung pulang, apes, batin Heena seraya menatap air hujan.


Aldebaran melihat ke arah pandangan mata Heena yang sedang melihat air hujan.


"Tunggulah di sini sebentar, sampai hujan ini reda."


Setelah berkata seperti itu Aldebaran pergi meninggalkan Heena sendiri di ruangan tersebut.


Sambil menunggu hujan reda Heena tiduran di sofa, sementara Aldebaran yang saat ini berada di sebuah ruangan berkaca, ia menatap ke arah luar yang terlihat begitu jelas pemandangan luar karena temboknya kaca.


Tiba-tiba handphonenya berdering yang ternyata adalah Mulan yang menelpon, Mulan memberitahu bahwa ia akan pulang malam karena masih sibuk dengan teman-temannya.


Sampai tiba malam hari ternyata hujan masih deras belum reda juga.


Heena berdiri di depan jendela menatap khawatir ke arah luar, Heena membuang nafas panjang.


"Nginap lah di sini."


Heena langsung terlonjak kaget saat tiba-tiba mendengar suara Aldebaran di belakangnya.


"Tuan, tidak perlu karena saya harus pulang."


Mendengar ucapan penolakan dari Heena, Aldebaran membuang nafas berat seraya menatap ke luar. "Jangan membatah ini demi keselamatan kamu."


Aldebaran berjalan berlalu. "Sebelah itu ada kamar, bisa kamu pakai," ucap lagi sebelum ahirnya pergi.


Heena membuang nafas berat, sekarang tidak ada pilihan selain menurut, Heena membuka pintu kamar tersebut, dan kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang, waktu baru pukul tujuh malam.


Tiga puluh menit kemudian, Heena sudah tertidur, tiba-tiba ada bel bunyi, Aldebaran yang belum tidur membuka pintu, namun setelah pintu di buka alangkah terkejutnya saat melihat banyak warga di depan pintu sekitar ada dua puluh orang.


"Ini dia orangnya, ayo kita bawa dia!" ucap salah satu orang.


"Tunggu-tunggu ada apa ini?" Aldebaran bertanya panik seraya menghalangi beberapa orang yang mau menerobos masuk.


"Kamu sudah berbuat mesum!" Dua orang kini sudah memegang tangan Aldebaran, Aldebaran memberontak tapi orang yang lainnya membantu memegangi Aldebaran.


"Ada apa ini!" Heena terkejut saat ke luar kamar ingin mengambil minum tapi malah melihat banyk orang, dan yang semakin membuatnya terkejut Aldebaran di tahan sama orang-orang tersebut.


Warga yang melihat Heena langsung menangkap Heena.


"Hei lepaskan, kenapa kalian menangkap aku!" Heena memberontak ingin dilepaskan.


"Diam! karena kalian berdua sudah berbuat mesum!"


"Mesum?" Heena sangat terkejut atas ucapan para orang, sementara Aldebaran sudah dua kali mendengar kata mesum.


"Lepas! lepaskan kami!"


Aldebaran dan Heena dibawa para warga, meskipun memberontak namun mereka tidak akan bisa lepas, dan mau menjelaskan juga para warga tidak akan percaya karena saat ini memang hanya ada mereka berdua di vila ini.


Satu orang yang tadi siang berbicara dengan Mulan, tersenyum menyeringai saat melihat Aldebaran dan Heena kini di bawa warga.