HEENA

HEENA
BAB 16. Bercerai



Setelah beberapa hari lalu Michael ke luar kota karena perjalanan bisnis, kini pria itu sampai Mansion tepat pukul Tujuh pagi.


Yusuf yang sudah rapih dengan pakaian sekolahnya langsung berlari mendekati Papanya saat tahu pria itu pulang.


"Papa ...."


Michael yang masih berdiri di ambang pintu masuk ruang utama, ia sedikit membungkuk dan langsung menangkap tubuh mungil putranya.


Tangan Yusuf melingkar di leher Papanya, bocah kecil itu mencium-cium pipi Papanya dengan sayang, seolah beberapa hari tidak bertemu papanya, benar-benar membuatnya merindu.


Michael mendudukkan Yusuf di kursi sofa yang berada di ruang keluarga, dan tangannya menunjuk paper bag yang di bawa pelayan yang tadi membawakan barangnya dari mobil.


"Papa, punya hadiah untukmu." Michael membuka bungkusan yang berisi mainan, dan seketika mata Yusuf terlihat bahagia saat melihat mainan yang Papanya bawa.


Sebuah mainan robot yang ada sayapnya dan bisa terbang bila tombol remote nya di tekan.


"Papa, Yusuf cuka, makacih, Papa." Yusuf kembali memeluk Papanya dan mencium pipi Papanya.


"Tapi ini tidak gratis, Yusuf harus belajar dengan pintar." Michael mengusap kepala Yusuf, dan di jawab anggukan cepat oleh Anak Kecil itu.


Dari tempat tidak jauh dengan keduanya, Mawar berdecak kesal melihat keakraban Ayah dan Anak itu. Wanita itu lebih milih kembali ke kamarnya dan tidak jadi ikut sarapan.


Suara Heena yang lembut membuat dua orang beda generasi yang sedang berpelukan itu seketika menoleh dan melerai pelukannya.


"Yusuf, ayo sarapan, Nak."


"El, kau sudah pulang, ayo sarapan sekalian."


Mendengar suara wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan Istri menyebut namanya dengan lembut, entah mengapa membuat rasa di dalam sana seperti terkoyak.


Ada perasaan belum siap untuk melepas, namun mempertahankannya takut lebih menyakiti.


Bersamaan Michael mendudukkan tubuhnya ia membuang nafas kasar, Heena mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk pauk yang menjadi kesukaan pria yang selama lima tahun ini menemaninya.


"Makanlah."


Michael menatap Heena, wajah bersih tanpa riasan sama sekali, hanya polesan lipstik yang sangat tipis namun aura cantiknya sangat kentara, Michael memandang tanpa berkedip.


Hingga sebuah suara terdengar dua kali memintanya untuk makan, menyadarkan dari lamunannya.


"Makanlah." Heena sekali lagi meminta Michael untuk makan, dan setelahnya ia melayani putranya.


Setelah selesai sarapan, Heena langsung mengantar Yusuf ke sekolah, sebelumnya ia sudah berpamitan pada Suami.


Di sepanjang jalan Yusuf berceloteh, menceritakan hari ini sangat merasa senang, karena dibelikan mainan baru, dan mengatakan akan belajar yang pintar supaya mendapat mainan banyak lagi dari Papanya.


Dan tidak terasa mendengar cerita Putranya, sudut matanya Heena mengeluarkan cairan bening, hatinya tiba-tiba merasa ngilu saat ia tahu betul, bahwa ia tidak bisa membelikan apa-apa setelah bercerai nanti, bahkan untuk membeli sesuap nasi saja ia belum tahu, dalam hatinya tiba-tiba membenarkan bahwa saat setelah bercerai nanti Yusuf lebih baik ikut Papanya, kerena tidak ingin anaknya merasakan hidup sengsara bersamanya.


"Kelak dewasa kamu akan mengerti, Nak," gumam pelan Heena seraya mencium puncak kepala Yusuf.


Sekolah Taman Kanak-kanak itu tidak terlalu luas namun di lengkapi dengan segala permainan anak-anak, Yusuf yang sangat menyukai bermain, dulu ia sendiri yang memilih sekolahan ini.


Tidak terasa waktu sudah berganti siang, jam sekolah Yusuf sudah selesai, kini saatnya untuk pulang.


Heena menggandeng tangan mungil Yusuf, namun tiba-tiba langkah kaki putranya terhenti saat mendengar suara temannya, dan langsung menoleh melihat temannya itu.


"Dadah, Yusuf."


"Dadah, Kulfi."


Kedua anak itu saling melambaikan tangan dan saling melempar senyum hingga gigi ompongnya kelihatan.


Ibunya Kulfi menunduk melihat Heena, lalu masuk ke dalam mobil, Heena kembali mengajak Yusuf untuk berjalan menuju mobil yang saat ini sopirnya sudah menunggu.


Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, Yusuf banyak bercerita tentang temanya yang bernama Kulfi, setelah tadi Heena menanyakan sosok Kulfi itu teman yang seperti apa ke Yusuf.


"Kulfi, teman baik Yusuf, Ma, dia pernah meminjamkan pewarna bilu saat pewarna bilu milik Yusuf tidak ada." Yusuf bercerita dengan sedih saat mengingat pewarna bilu miliknya diambil Agus teman sekolahnya yang suka jahaitin dia.


"Mengapa minjam? memangnya pewarna milik, Yusuf. Kemana?" Heena meraih dagu Yusuf, saat melihat putranya yang bersedih.


"Diambil Agus, Ma."


Heena terkekeh, wajah sedih Yusuf sangat terlihat lucu, Heena meraih Yusuf untuk duduk di pangkuannya dan memeluk anaknya dengan sayang.


Waktu telah berganti, hari berganti esok, wajah sedih pada wanita satu anak itu sangat kentara, hari ini ia tidak mengantar putranya ke sekolah, Yusuf ditemani Ane dan sopir ke sekolah, karena Heena tepat pagi ini ia akan ke persidangan bersama Michael untuk menuntaskan hubungannya dengan Suami.


Tepat pukul sepuluh pagi keduanya sampai di persidangan, melangkah ke dalam bersama dan duduk bersebelahan bersama, tidak menunjukan sebuah keluarga yang ingin bercerai itu lah yang ada di pandangan hakim.


Namun saat hakim memberikan beberapa pertanyaan dan menjelaskan sebelum nanti ada penyesalan, hakim menyarankan untuk dipikirkan lebih dulu.


Namun ternyata yang hakim dengar, keduanya menjawab tanpa keraguan bahwa tetap akan melanjutkan perceraian ini.


Tanpa hambatan, tanpa dipersulit, semua dilancarkan. Hakim mengetuk palu tiga kali bertanda kini keduanya telah benar-benar bercerai.


Hakim meninggalkan tempat itu, Heena dan Michael juga menyusul ke luar ruangan, bibir Heena terus tersenyum, Michael yang melihat itu menjadi sedih saat mengetahui fakta bahwa Heena benar-benar merasa bahagia pisah dengannya.


Sebelum Michael kembali ke mobil, ia mengatakan sesuatu pada Heena.


"Sekertaris aku akan mengantarmu ke rumah baru, dan uangnya sudah aku transfer ke rekening kamu." Menatap dalam bola mata Heena, wanita itu tetap tersenyum.


"Jaga diri baik-baik." Setelah mengatakan kalimat terakhir, pria itu langsung berjalan cepat ke arah mobilnya untuk segera kembali ke perusahaan.


Heena akan dijemput sopir untuk kembali ke rumah dan bersiap-siap.


Setelah kepergian Michael, Heena menangis dalam diam, entah bahagia atau bersedih.