HEENA

HEENA
BAB 134. Tidak seperti orang normal biasanya



Aldebaran mengetik lagi di handphone, kemudian menunjukan lagi ke Heena, sebuah kalimat yang bertuliskan bila Heena harus diam, sampai Aldebaran memastikan tidak ada lagi chip penyadap suara di kamar ini.


Heena mengangguk paham, dan malam itu mereka lewati tanpa ada yang bicara, sampai setelah bangun tidur pun, Aldebaran dan Heena saling diam.


Pagi ini Aldebaran harus datang ke perusahaan, Heena mengantar Aldebaran sampai dekat mobilnya, Heena melambaikan tangannya saat kaca mobil belum Aldebaran tutup.


Heena terus melihat mobil Aldebaran sampai menghilang di balik gerbang.


Tanpa Heena sadari, bahwa saat ini dirinya sedang di perhatikan oleh Tuan Bara yang saat ini berdiri di atas balkon kamar.


Entah apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini, yang kemudian kembali masuk ke dalam kamar, di dalam kamar ada Mala yang baru selesai mandi.


Mala yang melihat suaminya sedang memegang handle pintu, langsung buka suara, "Mau kemana, Mas?"


Tuan Bara yang mendengar suara Mala, mengurungkan niatnya yang mau keluar kamar, kemudian balik badan dan menatap Mala yang saat ini ternyata sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Mau kemana?" tanya Mala dengan tatapan penuh curiga.


Tuan Bara menghela nafas panjang. "Aku mau menemui putriku." Berhenti sebentar seraya menatap lekat wajah Mala yang terlihat sangat tidak suka mendengar dirinya menyebut putrinya.


"Jangan ikut campur urusanku, biar semua aku yang urus sendiri!" ucap tegas sembari berlalu dari kamar itu.


Mala mengepalkan tangannya seraya melihat punggung Tuan Bara yang menghilang di balik pintu.


Harusnya memang Mala bahagia mendapati putri suaminya masih hidup, tapi mengingat dirinya tidak boleh ikut campur, Mala jadi khawatir bila Suaminya berubah pikiran. Dan Mala tidak bisa menerima itu semua.


Mala meyakinkan dirinya bahwa harus tahu semua apa pun rencana Tuan Bara, karena ini demi keselamatan putranya.


Mala kemudian segera berpakaian dan kemudian menyusul Tuan Bara turun ke bawah, sampai di lantai satu Mala nampak mencari keberadaan suaminya dan Heena berada.


Ada Leha yang lewat di ruang keluarga itu, Mala langsung bertanya, " Leha apa kamu melihat Tuan ada di mana?"


"Tidak tahu, Nyonya," jawabnya cepat bertanda dirinya tidak tahu apa-apa.


Mala mengibaskan tangannya bertanda Leha boleh pergi. Mala terus berpikir kemana suaminya pergi, dan Mala kembali mencari lagi, namun sudah mencari ke seisi ruangan yang biasa Tuan Bara datangi, tidak bertemu juga dengan suaminya itu.


Ahh! Mala merasa sangat kesal, usahanya ingin tahu rencana suaminya secara diam-diam malah gagal karena tidak menemukan pria itu.


Sementara di tempat lain, saat ini Tuan Bara mengajak Heena masuk ke sebuah ruangan, yang di dalam sini terdapat semua foto-foto Ibu Tiara dan Tuan Bara, bahkan ada juga lukisan wajah cantik Ibu Tiara.


Heena masih fokus menelisik ruangan ini. Tuan Bara langkahnya terhenti sembari menatap foto pernikahannya dengan Ibu Tiara.


"Kamu tahu ini ruangan apa? Ini adalah ruangan khusus yang Ayah buat untuk mengenang kenangan Ayah dan Ibumu."


Tuan Bara menoleh ke arah Heena, menatap putrinya yang saat ini juga menatapnya. "Tidak ada yang pernah masuk ke ruangan ini selain Ayah dan Ibumu dan kamu saat ini."


"Dan ruangan ini tetap bersih karena Ayah yang membersihkan sendiri," lanjut ucapnya dengan bibir tersenyum kecil.


Ada mug, guci, dan lukisan. Semua itu bergambar foto kedua orang tuanya.


Namun bila Ayahnya secinta itu pada Ibunya, mengapa nikah lagi pikir Heena. Heena kembali menatap Ayahnya.


Tuan Bara saat ini sedang berjalan menuju kursi, duduk dengan mata lurus ke depan. "Ayah sangat sedih saat ibumu harus difonis lumpuh, padahal sudah Ayah obatkan kemana pun, tapi tetap hasilnya tidak ada. " Tuan Bara menangis.


Heena berjalan mendekat lalu duduk di kursi samping Tuan Bara. "Memang ibu mulai sakit sejak kapan, Ayah?" Heena menatap lekat wajah Ayahnya yang saat ini terlihat sangat sedih.


Tuan Bara menoleh menatap Heena. "Sejak melahirkan kamu." Tuan Bara berhenti bicara kini beralih menatap lurus ke depan. "Ibumu terus sakit-sakitan sampai sekarang."


Tuan Bara menangis tergugu sampai punggungnya bergetar, Heena mengulurkan tangannya mengusap punggung Ayahnya.


Setelah lebih tenang Tuan Bara kembali bicara, kini wajahnya terlihat serius seraya menggenggam tangan Heena. "Tapi ada satu cara untuk menyembuhkan ibumu."


"Apa itu?" tanya Heena dengan antusias, penasaran dengan ucapan Ayahnya.


Tuan Bara menghela nafas panjang, menatap lekat-lekat wajah Heena dengan tatapan memohon. "Datanglah ke tempat ruangan di bawah tanah, pada malam bulan purnama."


Deg!


Heena reflek melepaskan tangannya yang dipegang Ayahnya, Heena bingung dengan yang dimaksud Tuan Bara.


Tuan Bara yang melihat Heena belum paham, ia kembali menjelaskan, "Di sana nanti kita melakukan pengobatan ibumu melalui ritual, Ayah punya kenalan seseorang yang bisa membantu kita, dan harus bersama kamu karena kamu adalah putri Ayah."


Heena masih diam mencerna yang di sampaikan Ayahnya, pikirannya terus bicara antara ritual, anak ayah, kesembuhan ibu. Mengapa harus menggunakan jalan ritual, itu seperti keyakinan mitis pikir Heena, lamunan Heena terbuyarkan saat mendengar suara Ayahnya.


"Kamu ingin ibumu sembuh, kan? Bila iya tolong, Nak." Tuan Bara menggenggam tangan Heena kembali, Heena yang melihat wajah Ayahnya yang begitu memelas jadi tidak tega, dalam hati ia akan bercerita masalah ini nanti pada Aldebaran, untuk mendapatkan jalan keluar.


Heena mengangguk, lebih baik saat ini ikuti saja kemauan Ayahnya. "Kalo Heena boleh tahu kapan malam bulan purnama tiba Ayah?"


"Tiga hari lagi," jawab cepat Tuan Bara dengan tersenyum, setelah mendapati putrinya setuju mau membantunya.


Heena tampak berpikir. "Baiklah Ayah."


Tuan Bara yang merasa begitu bahagia langsung memeluk Heena, Heena juga membalas pelukan Ayahnya, namun hatinya tidak bahagia, bukankah seharusnya bila bertemu Ayah kandung semua anak akan bahagia, tapi tidak yang di rasa Heena.


Heena merasa biasa saja, hanya miliki sedikit simpati, itu karena tidak tega melihat Ibu Tiara.


Setelah pembicaraan itu Heena dan Tuan Bara keluar dari ruangan itu, saat ini Heena sedang duduk di kursi teras rumah sembari melihat bunga-bunga bermekaran di depan teras.


Ada pelayan juga yang sedang bekerja merapikan bunga-bunga, duduk sambil melihat pemandangan itu Heena malah kepikiran hal yang tadi Ayahnya bicarakan.


Heena merasa ada yang aneh, tidak hanya sikap Ayahnya, tapi para orang-orang penghuni rumah ini juga aneh, tidak seperti orang normal biasanya.


Saat Heena masih melamun, merasakan pundaknya di tepuk pelan, Heena menoleh melihat siapa pelakunya. Dan...