
Seorang pria yang terlihat sangat lelah tubuhnya, kini menyandarkan tubuhnya di kursi kerja yang terletak di Mansion.
Pikirannya masih teringat permintaan putranya satu jam lalu sebelum putranya tidur.
"Papa, jangan sakiti, Mama."
"Yusuf, mohon, Papa?"
"Yusuf, janji tidak akan nakal lagi, Papa. Tapi mohon jangan sakiti, Mama. Huhuhu."
Michael membuang nafas kasar seraya mengusap wajahnya. Kini pria itu berjalan menuju kamar Heena.
Setelah pintu kamar terbuka, Michael berjalan mendekati ranjang lalu duduk di pinggir ranjang seraya menatap wajah Heena yang sedang tidur.
"Maafkan aku, Heena." Michael mengusap puncak kepala Heena.
Heena mengeliat namun tidak sampai membuka mata, Michael menjauhkan tangannya.
Semalaman itu Michael tidak bisa tidur hanya memikirkan keputusannya yang tepat, dan tepat hari ini, ia sudah menemui Heena di kamarnya.
Michael yang habis dari ruang kerjanya lalu masuk ke kamar Heena, tentu membuat Heena kaget karena saat ini sedang menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Kau! mengapa tidak ketuk pintu!" Heena bicara kesal.
"Ini juga kamarku." Michael berjalan santai menuju ranjang.
Heena segera mengambil pakaiannya lalu menuju kamar mandi, meski Michael adalah suaminya tetap saja Heena merasa malu.
Setelah Heena selesai berpakaian, Michael meminta wanita itu untuk duduk di sampingnya.
Michael membuka suara yang langsung membuat Heena membolakan matanya.
"Aku akan ceraikan kamu."
Deg!
"Cerai," ulang Heena, karena takut salah dengar.
"Iya."
Michael lalu menjelaskan bahwa ia akan memberikan rumah dan uang senilai seratus juta untuk Heena berpegangan untuk beberapa bulan.
Dan untuk hak asuh anak, Michael meminta Yusuf untuk ikut bersamanya, namun Heena boleh menemui Yusuf saat hari libur.
Heena menangis mendengar penjelasan Michael, entah menangis bahagia atau menangis sedih.
Perceraian bukanlah jawaban dari semua masalah, jika seandainya ia dicintai dan rumah tangganya harmonis seperti yang lain, Heena tidak akan minta cerai meski dulu alasan pernikahannya karena di jodohkan.
Heena menutup pintu kamarnya setelah Michael pergi, Heena juga melihat ada raut kesedihan di wajah pria itu, bahkan tadi saat berjalan ke luar kamar Michael terlihat mengusap sudut matanya.
Tubuh Heena bersandar di pintu, Heena masih belum percaya dengan apa yang di katakan oleh Michael, namun ingatannya kembali saat pria itu mengatakan maaf dengan tulus.
Bahwa semuanya benar adanya, Heena menyemangati diri untuk tidak boleh lemah, ia harus bersyukur karena setelah bercerai nanti ia bisa meraih kebahagiannya dan mengembalikan harga diri yang sudah tertindas.
Mengenai hak asuh, Heena tidak masalah, karena ia tahu bersama Michael maka kebutuhan materi putranya akan terpenuhi.
Dan satu Minggu sekali baginya tidak mengapa untuk bertemu, karena nanti ia berencana akan mencari kerja.
Sementara Heena mengantar Yusuf ke sekolah.
Hari ini Heena berencana akan habiskan waktu bersama putranya, karena nanti setelah tidak tinggal bersama tentu akan sulit untuk waktu bersama.
Dan tepat pukul dua belas siang, waktu sekolah Yusuf selesai, kini Heena mengajak Yusuf serta pengasuhnya mendatangi wahana permainan anak.
"Mama, Yusuf happy."
Heena menatap putranya yang terlihat sangat antusias dengan mata berbinar melihat tempat yang baru di datangi.
Heena sudah menyiapkan ganti untuk putranya dan dirinya, kini Ibu Muda itu dan anaknya sedang bermain renang.
Yusuf selalu tertawa sedari tadi, sebuah tawa yang jarang sekali di liat oleh Ane, Ane sebagai pengasuhnya merasa sangat bahagia melihat kebahagiaan keduanya hari ini.
Ane menganggap Heena adalah Nyonya yang sangat baik, ramah dan lembut, hingga disayangkan jika wanita sebaik itu terus disakiti.
"Semoga, Nyonya, segera mendapat kebahagiaan."
Ane segera berdiri dan meraih handuk saat melihat Heena dan Yusuf berjalan mendekat.
Yusuf sudah capek bermain air kini berganti baju dan berpindah bermain permainan yang lain.
Heena dan Ane terus mengikuti langkah Yusuf yang berpindah main ke permainan yang lain, seolah tidak kenal lelah, yang terpancar hanya aura happy.
Heena, wanita itu juga terus tersenyum, dan senyumnya perlahan memudar berubah wajah sendu, Heena yang tiba-tiba berpikir bahwa hari esok akan sulit untuk bersama seperti ini lagi.
Dari setiap harinya terus bersama, bahkan ia yang mengurus anaknya lalu tiba-tiba berjauhan, sungguh itu seperti di pisahkan.
Mama akan bekerja keras, supaya nanti bisa mengajak Yusuf tinggal bersama, batin Heena.
Heena mengusap matanya tanpa ia sadari, Ane terus memperhatikannya.
Ane memberikan tisu seraya tersenyum, Heena menerima tisu tersebut lalu tersenyum dan mengatakan maaf.
Yusuf mendekati keduanya. "Mama, lapal." Yusuf mengusap perutnya.
Hahaha.
Ane dan Heena tertawa bersama melihat tingkah Yusuf, ahirnya ketiganya kini menuju restoran dan meninggalkan tempat permainan.
Sebuah restoran yang terdapat ikan hias, Yusuf terlihat senang sedari tadi memberi makan ikan hias terus.
Heena memanggil Yusuf untuk makan setelah menu makan tersaji di meja.
Yusuf makan dengan lahap, Heena mengusap puncak kepala Yusuf dengan sayang.
Setelah selesai jalan-jalan lalu bermain dan berakhir makan, kini semuanya sudah sampai Mansion tepat pukul lima sore.
Baru melangkah masuk sudah mendengar suara hinaan dari Mawar.
"Belum janda kan, pergi pagi pulang sore." Mawar tersenyum sinis menatap semuanya.
Heena terus berjalan seraya menggendong Yusuf yang sedang tidur, ia tidak menghiraukan perkataan Mawar.