HEENA

HEENA
BAB 150. Heena hamil.



"Istri Anda baik-baik saja Tuan, dan selamat istri Anda saat ini tengah hamil," ucap Dokter dengan tersenyum.


"Ha-hamil Dokter!" ucap Aldebaran dengan terkejut namun bahagia.


"Iya Tuan itu benar, namun karena istri Anda dalam keadaan lemah jadi harus banyak istirahat," jelas dokter itu lagi.


"Ba-baik Dokter," balas Aldebaran, dan setelah dokter pergi, Aldebaran langsung masuk ke dalam, di ruangan ini hanya tinggal dirinya dan Heena, suster juga baru saja keluar.


Aldebaran memeluk Heena yang saat ini masih tidur efek obat bius, Aldebaran menghujani ciuman di pipi di kening di dagu dan juga bibir Heena.


Aldebaran kembali memeluk Heena, hatinya sungguh bahagia dengan kabar baik ini. Hamil kata itu benar-benar membuat Aldebaran merasa mendapat hadiah yang besar, melebihi menang tender yang pernah ia dapat.


Mengingat ini adalah calon anak pertamanya, Aldebaran segera menghubungi Dika, untuk memberikan hadiah untuk Heena.


"Kau beli sekarang juga vila yang kemaren tuan Alex tawarkan," perintah Aldebaran pada Dika di sambungan telepon.


Merasa dalam bahagia, vila yang kemaren Tuan Alex tawarkan langsung mau Aldebaran beli tanpa bernegosiasi.


Dika saat ini langsung melakukan perintah Tuannya.


Sementara Aldebaran kembali duduk di samping ranjang pasien seraya menggenggam tangan Heena.


Aldebaran melihat Heena mengerjabkan matanya, sembari terus memandang wajah Heena, Aldebaran mencium punggung tangan Heena.


"Aku dimana?" tanya Heena dengan suara terdengar lemah seraya mengedarkan pandangannya melihat sekeliling.


"Kamu di rumah sakit, sayang? ucap lembut Aldebaran seraya mengusap rambut Heena.


"aww!" keluh Heena saat merasakan kepalanya sangat pusing.


"Jangan banyak bergerak, kamu sedang hamil dan dokter meminta kamu harus banyak istirahat," cegah Aldebaran saat melihat Heena mau duduk namun kepalanya terasa berat.


Heena yang mendengar ucapan Aldebaran barusan yang mengatakan hamil, samar-samar Heena dengar, dengan mata menatap sayu ke arah Aldebaran, Heena memastikan lagi apa yang ia dengar.


"Kamu bilang apa tadi? Hamil, aku hamil?" tanya Heena sembari menatap wajah Aldebaran yang saat ini tersenyum ke arahnya.


"Iya, kamu hamil," jelas Aldebaran lagi seraya mengusap perut Heena. "Di sini ada malaikat kecil kita," ucapnya yang kemudian mencium perut Heena yang masih rata.


Heena yang sangking bahagianya mendengar kabar kehamilannya dan perlakukan hangat Aldebaran barusan, sampai tidak bisa berkata-kata. Dan seperti biasa Heena yang cengeng pasti langsung menangis.


Aldebaran yang melihat itu langsung menghapus air mata Heena. "Jangan menangis ini adalah hari bahagia kita, kamu harus jaga dia sampai dia lahir ke dunia dan bersama kita."


Heena mengangguk masih dengan derai air mata, Aldebaran menciumi mata Heena, dan seketika tangis Heena berhenti.


Heena kemudian teringat acara pernikahan Ayunda dan Rengky, bila dirinya ada di sini sekarang, lalu di sana keadaan bagaimana pikir Heena.


"Sayang, jam berapa sekarang?" tanya Heena dengan suara lemah.


Ditanya jam oleh Heena, Aldebaran langsung melihat arlojinya, sekarang menunjuk pukul dua siang.


"Jam dua siang, ada apa sayang?" ucap Aldebaran seraya mengusap punggung tangan Heena.


"Tidak ada, hanya saja bagaimana keadaan di sana, lebih baik kamu kabarin bibi Sekar," saran Heena, yang langsung Aldebaran jawab dengan anggukan kepala.


Karena sedang bahagia mendengar kabar bahwa Heena hamil, sampai lupa tidak mengabari Bibi Sekar, padahal tadi mintanya untuk memberi kabar bila sudah tahu keadaan Heena.


Di ballroom hotel, Bibi Sekar yang saat ini tengah mengambil minuman karena haus, tiba-tiba ponselnya bunyi, meneguk jus sebentar kemudian menggeser simbol warna hijau panggilan masuk dari Aldebaran.


"Heena baik-baik saja Bibi, hanya perlu banyak istirahat karena Heena-," ucapan Aldebaran di sambungan telepon terhenti saat di sana ternyata ada suster yang masuk untuk memeriksa keadaan Heena lagi.


Sambungan telepon masih terhubung, Bibi Sekar terus menunggu kelanjutan yang mau Aldebaran bicarakan.


"Halo Bibi masih ada di sana?" suara Aldebaran di sambungan telepon, setelah suster keluar dari ruangan.


"Iya Al, bagaimana tadi?" tanya Bibi Sekar seketika setelah mendengar suara Aldebaran lagi.


"Heena hamil Bibi, jadi Bibi tidak perlu khawatir, dan sampaikan pada yang lain juga untuk tidak perlu khawatir," terang Aldebaran di sambungan telepon, yang seketika membuat Bibi Sekar bahagia.


"Baik Al nanti akan Bibi sampaikan."


Setelah pembicaraan itu sambungan telepon mati, Bibi Sekar menghabiskan minumannya kemudian berjalan mendekati suaminya.


Paman Syafiq yang diberitahu Bibi Sekar bahwa Heena hamil, juga merasa bahagia, itu artinya tidak perlu khawatir lagi.


Setelah memberitahu suaminya, Bibi Sekar kembali menemui Ayunda untuk memberitahu kabar bahagia ini.


Ayunda seketika mulutnya menggangga terkejut mendengar kalimat yang bibi Sekar sampaikan bila Kakaknya Heena sedang hamil, tadi pingsan di larikan ke rumah sakit.


Ayunda juga merasakan bahagia, bila tidak mengingat saat ini dirinya sedang miliki acara, sudah dapat dipastikan, saat ini juga Ayunda akan menemui Kakaknya itu.


Ayunda hanya bisa mendoakan dari sini, kakaknya dan calon ponakannya sehat.


Perlahan-lahan matahari mulai tenggelam, acara pernikahan masih berlanjut sampai malam.


Tamu undangan masih banyak yang berdatangan sampai saat ini, Ayunda yang merasa kelelahan, Rengky merasa kasihan melihat itu.


"Kaki kamu sakit, bila memang sudah tidak kuat kmu istirahat saja," ucap Rengky dengan lembut.


Tapi Ayunda tidak enak meninggalkan tempat acara, apa lagi sekarang masih pukul tujuh malam, tamu undangan akan datang banyak-banyaknya.


Ayunda menggelengkan kepalanya. "Aku masih kuat kok, tidak apa-apa."


Akhirnya Rengky tidak mau memaksa Ayunda, meski dirinya benar-benar merasa kasihan.


Bila Ayunda dan Rengky sibuk menyalami tamu undangan, berbeda dengan Aldebaran yang saat ini mau mengajak Heena untuk pulang.


Karena keadaan Heena yang sudah lebih baik, dokter mengijinkan untuk pulang.


Aldebaran mengendong Heena, meski Heena mengatakan tidak mau karena masih sanggup berjalan, tapi sepertinya tidak dihiraukan oleh pria yang begitu menyayangi istrinya itu.


Saat melewati koridor rumah sakit, semua pasang mata menatap Aldebaran yang saat ini sedang mengendong Heena ala bridal style.


Sampai di mobil, Aldebaran mendudukkan Heena dengan pelan, kemudian menutup pintu mobil, lalu Aldebaran masuk dari pintu sebelah.


Mobil melaju ke jalan raya, Heena dalam perjalanan tertidur, Aldebaran fokus mengemudi.


Tiba-tiba hujan turun deras, Aldebaran mengurangi kecepatan mobilnya karena tidak ingin membahayakan nyawa, jalan menjadi licin, seharusnya tiga puluh menit sampai kini menjadi empat puluh menit, mobil Aldebaran baru saja sampai rumah.


Aldebaran keluar lebih dulu, lalu menggendong Heena lagi, pintu utama sudah di buka oleh pelayan, Aldebaran langsung membawa Heena masuk ke dalam menuju kamarnya.


Sampai di dalam kamar, Aldebaran membaringkan Heena perlahan, baju Heena yang sedikit basah terkena air hujan, Aldebaran ganti dengan kemeja tidur. Mengeringkan juga wajah Heena yang basah kena air hujan.


Setelah Aldebaran mandi dan menggunakan pakaian, menyusul Heena tidur di atas ranjang, memeluk istri sekaligus malaikat kecil yang masih bersemayam di rahim istrinya.