
Siang hari di tempat pusat perbelanjaan terbesar di kota ini.
Heena dan Aldebaran sedang bertemu klien, kini sedang berada di restoran yang terdapat di pusat perbelanjaan tersebut.
Heena dan Aldebaran bersama manajer salah satu stasiun televisi, mereka membicarakan soal gambar hasil karya yang Heena buat, bila manager stasiun televisi menyetujui, akan dibuatkan film animasi di salah satu stasiun televisi.
Manajer tersebut melihat gambar hasil karya Heena dengan sangat teliti, Heena meremat jemari-jemarinya merasa takut bila di tolak, semakin cepat detak jantungnya saat mendengar helaan nafas dari manager tersebut.
Heena menatap penuh khawatir, hingga sebuah suara pernyataan langsung membuat ia bernafas lega memuji penuh rasa syukur.
"Baik, saya setujui dengan gambar ini, dan akan segera kami hubungi perusahaan Anda, serta pembicaraan kontrak."
Aldebaran dan Heena berjabatan tangan dengan Manager tersebut.
Dilanjut dengan makan siang, setelah itu Manager pergi lebih dulu, Heena dan Aldebaran juga ingin pergi dari tempat tersebut.
Kini keduanya mulai berjalan menuju pintu ke luar, namun sebelum sampai pint ke luar masih berada di dalam diantara toko-toko pakaian. Heena mendengar suara yang tidak asing memanggilnya, Aldebaran juga Heena menghentikan langkahnya.
"Mama ..." teriak Yusuf seraya berlari ke arah Heena.
Heena membalikkan badan dan langsung menangkap tubuh kecil Yusuf membawa ke gendongannya.
"Mama, Yusuf cenang beltemu Mama di sini," celotehnya dengan antusias.
Heena tersenyum seraya menciumi Yusuf.
Ternyata ini anaknya Heena, dia sangat mirip dengan Michael, gumam hati Aldebaran.
Heena melihat Michael bersama Mawar berjalan ke arahnya.
Ternyata dia bersama Mawar, batin Heena.
Heena menoleh ke arah Aldebaran. "Tuan, kenalkan ini putra saya namanya Yusuf."
Heena beralih menatap putranya. "Sayang, kenalkan dirimu pada, Tuan ini."
Yusuf tersenyum, tangan mungilnya terulur ingin menjabat tangan Aldebaran. "Om ... nama aku Yusuf."
Aldebaran tersenyum lalu mengusap puncak kepala Yusuf.
"Yusuf, ayo kita lanjut belanja, jangan ganggu Mama, Nak. Mama lagi sibuk."
Sebuah suara Michael langsung membuat Yusuf minta turun dari gendongannya.
Yusuf berjalan mendekati Papanya, lalu melambaikan tangan ke arah Heena sebelum pergi meninggalkan Mamanya.
Heena mengusap sudut matanya yang basah, hatinya selalu menangis setiap kali pisah dengan putranya.
Heena dan Aldebaran melanjutkan langkahnya untuk kembali ke perusahaan.
Mawar yang berjalan bersama Michael pikirannya terus teringat Aldebaran yang wajahnya tidak asing ia liat.
Aku seperti pernah melihat wajah pria itu? iya benar aku pernah melihat tapi hanya dalam foto, pria itu adalah laki-laki yang dicintai Mulan teman aku, iya tidak salah lagi. Tapi mengapa ia bisa bersama Heena, ada hubungan apa mereka? aku harus memberitahu pada Mulan, ucap Mawar dalam hati.
Tidak butuh waktu lama hanya empat puluh menit, mobil yang di kendarai Asisten Dika telah sampai lobby parkiran di perusahaan Paman Malik.
Aldebaran langsung berjalan cepat memasuki lift, menuju lantai paling atas.
"Paman," ucapnya setelah sampai di ruang kerja Paman Malik.
"Aldebaran, masuklah, Paman sudah menunggumu." Paman Malik menepuk sofa sebelahnya ia duduk.
Aldebaran berjalan mendekati Pamannya yang duduk di sofa, Aldebaran duduk di samping Pamannya.
Di gedung D.A Corp.
Heena sibuk menyelesaikan pekerjaannya, sebelum dua jam lagi tiba waktunya pulang.
Tidak menghiraukan meski sesekali mendengar pembicaraan Tia dan Syifa yang entah membicarakan apa.
Menggambar adalah tempat menyalurkan rasa sedih, emosi, dan bahagia. Itulah alasan mengapa Heena suka sekali melukis.
Butuh konsentrasi yang serius, itu lah sebabnya Heena jarang menimpali pembicaraan Tia dan Syifa.
Meskipun begitu Tia dan Syifa juga tidak menggunjing Heena, karena mereka menyadari pekerjaan Heena butuh keseriusan.
Waktu terus berputar, kini telah tiba waktunya untuk pulang.
Heena mengemasi barang-barangnya, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu ia berjalan ke luar, mengunci pintu lebih dahulu. Tia dan Syifa sudah ke luar lebih dulu.
Heena berjalan menuju tempat bus, menunggu beberapa saat bus datang.
Tiba-tiba hujan deras turun membasahi bumi, Heena melihat ke arah jalanan, tiba-tiba teringat Yusuf yang bila hujan seperti ini Putranya itu ketakutan.
Mama takut, Mama. Sedikit melintas ucapan Yusuf di pikirannya.
Hujan masih terus deras mengguyur jalanan kota, bus yang sudah berhenti, membuat Heena harus berteduh dulu di halte.
Setelah menunggu cukup lama, ahirnya hujan mulai berhenti meski masih ada rintik-rintik hujan yang turun, Heena melanjutkan langkahnya yang sudah tidak jauh dengan rumahnya.
Sampai rumah, Heena langsung mandi dengan air hangat, menyiram tubuhnya supaya tidak sakit karena yang habis tersiram air hujan.
Di perusahaan Paman Malik.
Aldebaran langsung pamit ijin pulang, setelah yang menjadi tujuannya datang ke mari terselesaikan.
Asisten Dika masih setia menunggu di bawah.
Langsung melajukan mobil setelah memastikan Tuanya sudah masuk.
Mobil mulai membelah jalanan kota yang licin habis diguyur air hujan.
Aldebaran menatap jalanan seraya memikirkan perkataan Paman Malik, tentang masalah perusahaan Ayahnya dulu yang bangkrut secara tiba-tiba, hati Aldebaran semakin sakit hanya mengingatnya saja, yang mungkin pada kenyataannya pasti ada orang dalam yang sudah merencanakan itu semua.
Asisten Dika melirik sekilas ke arah belakang melihat Tuannya, yang duduk bersandar seraya menatap ke luar dengan tatapan sulit diartikan.