HEENA

HEENA
BAB 132. tiga CCTV



Heena terkejut saat melihat Tuan Bara kini sedang meneteskan air mata, dan tiba-tiba Tuan Bara memeluk Heena, dalam pelukan Heena Tuan Bara terus bicara menyesal dan maafkan berkali-kali, sebagai anak yang memiliki ikatan darah tentu tidak bisa bila Heena tidak membalas kata maaf Ayahnya sendiri, meski gantinya marah mengetahui ayahnya yang jahat, tapi Heena akan melanjutkan sandiwaranya pura-pura tidak tahu.


Tuan Bara melerai pelukannya, kemudian menangkup wajah Heena. "Maafkan Ayah."


Heena mengangguk dan tersenyum. "Sudah Heena maafkan Ayah."


Tuan Bara kembali memeluk Heena setelah mendengar kalimat yang putrinya ucap barusan, sungguh Tuan Bara tidak menyangka bila pertemuan pertamanya akan mendapat maaf langsung dari putrinya yang sudah ia lantarkan sejak bayi.


Tadinya ia pikir akan mendapat penolakan dari putrinya, dan akan ada sesi mendrama, tapi ternyata ini tidak, sungguh dalam hati Tuan Bara sangat bersyukur.


Kini Tuan Bara beralih menatap Ibu Fatima, setelah melerai pelukannya dengan Heena.


"Fatima, terimakasih sudah mau membantu saya untuk menemukan putriku," ucapnya tulus bahkan air matanya menetes, dan saat mengucap kata putriku, tangan Tuan Bara mengusap puncak kepala Heena.


Ibu Fatima juga membalas dengan anggukan kecil dan tersenyum, tapi dalam hatinya masih khawatir, benarkah Tuan Bara akan seterusnya baik dengan Heena atau cuma saat ini saja, Ibu Fatima terus bertanya dalam batinnya.


"Saya akan memberikan imbalan yang besar untukmu, Fatima. Karen sudah membantu saya."


"Tidak usah Tuan tidak perlu." Ibu Fatima menggeleng cepat ia menolak sungguh ia tidak minta apa-apa, dan jika boleh bibirnya berucap ia hanya ingin minta tolong sayangi Nona Heena, jangan perlakukan dia dengan kasar. Namun permintaan itu seperti tertahan di tenggorokan Ibu Fatima saja, sungguh dirinya tidak miliki keberanian untuk mengatakan itu semua.


Tuan Bara kembali bicara yang intinya tidak menerima penolakan, "Fatima kamu harus menerima pemberian saya."


Ibu Fatima ahirnya menerima pasrah, menolak pun sudah ia lakukan tapi Tuan Bara tetap bersikeras.


Tuan Bara beralih menatap Heena. "Apa kamu mau pulng bersama, Ayah?"


Ditanya seperti itu oleh Tuan Bara, tentu Heena tidak bisa mengambil keputusan sendiri, Heena beralih menoleh ke arah Aldebaran, yang saat ini berdiri di samping Lulu.


Tuan Bara mengikuti arah mata Heena, kini pandangannya berhenti panda sosok pria, kening Tuan Bara berkerut seolah sedang bertanya dalam hatinya sendiri siapa dia?


Aldebaran yang mendengar ucapan Tuan Bara tadi, ia menganggukkan kepalanya dan Heena melihat itu, setelah mendapat persetujuan suaminya, Heena beralih menatap wajah Ayahnya, yang ternyata saat ini Tuan Bara sedang memperhatikan Aldebaran.


"Ayah, dia adalah suami aku," terang Heena yang sekalian memperkenalkan status Aldebaran pada Ayahnya, supaya tidak ada yang tertutupi lagi.


Dan mendengar kalimat yang keluar dari bibir putrinya, seketika Tuan Bara beralih menatap Heena, sungguh dalam hati Tuan Bara masih tidak percaya bila putrinya sudah menikah, dalam hati ada perasaan bersalah karena tidak hadir di acara pernikahan putrinya.


Mata Tuan Bara berkaca-kaca. "Sungguh?" tanyanya memastikan.


Dan Heena mengangguk kecil sembari tersenyum. Tuan Bara kembali memeluk Heena seraya menciumi rambut Heena, Tuan Bara menangis haru, ini sungguh kabar bahagia, dan berpikir pasti Tiara istrinya juga akan bahagia mendengar kabar ini.


Tuan Bara melerai pelukannya. "Jika begitu ayo segera pulang, ibumu pasti bahagia melihatmu dan mendengar kabar kamu yang sudah menikah." Tuan Bara bicara menggebu seolah sudah tidak sabar untuk tinggal bersama dengan putrinya yang sudah lama terpisah.


Heena mengangguk cepat.


Dan hari ini juga Heena berpamitan dengan Ibu Fatima juga Lulu, sama-sama menangis setelah beberapa hari dilewati bersama, namun Heena memang harus pergi untuk menyelesaikan masalah ini.


Aldebaran yang saat ini sedang mengemudi sekilas menoleh ke arah Heena, yang saat ini terlihat melamun. "Kamu kenapa lagi?" tanya lembut Aldebaran, matanya masih fokus melihat jalanan.


"Aku ... Aku bingung harus bersikap seperti apa saat nanti bertemu ibu?" jawab Heena apa adanya, memang saat ini itu lah yang sedang ia khawatirkan, bingung harus bersikap seperti apa. Heena tidak bisa membohongi hatinya bila dirinya benar-benar kecewa, meski biasanya hatinya selalu berubah luluh saat bertemu orangnya langsung.


Lucu sih, ya seperti itu sikapnya Heena.


Aldebaran tersenyum, bicara dengan mata fokus ke depan, "Bersikaplah biasa saja ... atau anggap saja saat bertemu aku langsung kamu peluk." Aldebaran terkekeh sembari menyalip mobil di depannya, tadi mobilnya di halang dua mobil di depan, mobil Tuan Bara sudah melaju agak jauh, Aldebaran mengejar lagi.


Heena menyebikkan bibirnya seraya berpikir bagaiman bisa Aldebaran menyamankan dirinya dengan Ibunya tentu jelas beda.


Dan tidak lama kemudian setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam tiga puluh menit, mobil kini memasuki rumah megah bak istana.


Cat dindingnya berwarna keemasan, terlihat berkilau indah.


Heena yang saat ini sudah berada di luar mobil menatap kagum rumah ayahnya, Tuan Bara mendekati Heena. "Nak, rumah ini adalah milikmu, ayo masuk." Tuan Bara membuat gerakan tangan mempersilahkan.


Aldebaran dan Heena juga Tuan Bara berjalan masuk ke dalam rumah bersama.


Di dalam rumah ini ternyata ada lift, saat ini Heena dan Aldebaran serta Tuan Bara berada di dalam lift menuju kamar utama yang berada di lantai teratas.


Lantai lima, kini semuanya berjalan keluar setelah pintu lift terbuka.


"Kita temui ibumu dulu," terang Tuan Bara sembari terus berjalan, di lantai ini Heena melihat banyak sekali ruang kamar, bila masih baru tinggal di sini Heena pikir perlu menghafal, bila tidak takut salah masuk kamar.


Kamar utama Tiara.


Jari telunjuk Tuan Bara menunjuk plangkat nama di depan pintu, Heena mengangguk kini ia sudah tahu karena mudah diingat.


Tangan kokoh Tuan Bara perlahan membuka pintu, pintu terbuka lebar, dari arah sini Heena bisa melihat ada seorang wanita yang tertidur di bawah selimut.


Nyut, jantung Heena ketika hal yang pertama ia lihat adalah wajah pucat ibunya, Heena mendekat dengan langkah perlahan, Aldebaran mengikuti di belakang Heena bersama Tuan Bara.


Heena duduk di sisi ranjang kemudian menyentuh wajah ibunya, Ibu Tiara yang merasa terusik tidurnya kini membuka mata, dan...


Seketika matanya terbelalak lebar dan langsung berusaha duduk, saat melihat siapa yang datang, wanita yang wajahnya sangat mirip dengannya.


"Ibu," ucap lirih Heena, yang kemudian langsung memeluk ibunya.


Tuan Bara menepuk bahu Aldebaran, kemudian keluar dari kamar Ibu Tiara.


Setelah pintu di tutup dari luar oleh Tuan Bara, tanpa sengaja Aldebaran melihat atap-atap ruang kamar ini, seketika mata Aldebaran membola.


Tiga CCTV, gumamnya, yang seketika Aldebaran merasa ada yang aneh