HEENA

HEENA
BAB. 34. Tertampar ucapan Heena.



Di hari berikutnya. Di sebuah gedung tinggi pencakar langit. Heena bersama Aldebaran sedang menghadiri sebuah acara Tender.


Pengajuan proposal beberapa hari lalu telah di terima oleh PT NEW, dan bila D.A Corp bisa menang, ini akan menjadi peluang besar.


Semua orang sudah berkumpul, acara sebentar lagi akan dimulai.


Di sebuah tempat duduk paling ujung, ada seorang pria yang menatap Heena dengan tatapan tidak terbaca.


Ada perasaan menyesal di lubuk hatinya yang paling dalam, meski selama ini pria itu selalu menepis perasaannya, menganggap hanya karena kasihan.


Ya, pria itu adalah Michael, hatinya seperti terkena percikan api melihat Heena yang semakin cantik dan selalu bersanding bersama pria lain. Ditambah pria yang selalu bersama Heena adalah mantan kekasihnya dulu.


Michael menghela nafas frustasi, semua adalah salahnya, kini ia tidak bisa melakukan apa pun, bahkan untuk sekedar bicara lebih banyak dengan Heena, ia tidak berani.


Suara pemimpin PT NEW menyadarkan lamunan Michael, dan langsung membuat semua orang di ruangan tersebut menoleh ke arahnya.


Beberapa hal beliau sampaikan, hingga satu per satu perwakilan Perusahaan harus mempersentasikan proposal masing-masing.


Acara berlanjut hingga dua jam lebih, jam makan siang istirahat sebentar lalu kembali pengumuman pemenang tender.


Semua orang di dalam ruangan tersebut berwajah tegang, menunggu hasil pengumuman yang akan pemimpin PT NEW sampaikan.


Satu kalimat yang langsung membuat hampir semua orang di ruangan tersebut menghela nafas, tetapi tidak pada nama yang disebut, ia begitu bahagia, bahkan hampir-hampir tidak percaya.


"Selamat atas kemenangan D.A Corp, dan selamat atas kerja sama kedepannya dengan PT NEW."


Dalam waktu bersamaan terdengar tepuk tangan meriah diberikan, pemimpin PT NEW berjabatan tangan dengan Aldebaran. Yang diikuti dengan yang lain, satu per satu orang di dalam ruangan ke luar, berikut pemimpin PT NEW yang menyusul ke luar juga, Aldebaran dan Heena ke luar paling terakhir.


Baru ke luar ruangan, Michael meraih tangan Heena, Aldebaran yang berdiri di samping Heena langsung menghentikan langkahnya seraya menatap Michael.


"Aku ingin berbicara sebentar dengan, Heena."


Mendengar ucapan Michael, Aldebaran kembali melanjutkan langkahnya seraya memakai kaca mata hitam, dengan satu tangan masuk ke dalam saku celananya.


Setelah kepergian Aldebaran, Michael melepaskan tangan Heena, saat merasakan Heena menarik tangannya.


Heena mengusap pergelangan tangannya seraya membuang muka tanpa melihat wajah Michael.


"Katakan, kau mau apa!" ucapnya dengan ketus. Heena akan bersikap seperti ini supaya orang-orang tidak lagi merendahkannya.


Michael berpikir Heena sudah banyak berubah, tidak seperti dahulu, sekarang sudah berani bicara ketus, bahkan penampilannya juga berubah.


Namun bagian hati kecil Michael merasa bangga pada Heena, karena melihat Heena hidup cukup baik meski sendirian di luar.


"Katakan, waktuku tidak banyak lagi." Sekali lagi Heena bersuara, karena mendapati Michael yang hanya diam menatapnya.


"Aku sudah maafkan."


"Kau belum maafkan aku, Heena."


Heena terkekeh masam. "Tahu dari mana?" Membuang muka ke arah lain.


Michael memegang bahu Heena, lalu membawa wanita itu untuk membalas tatapannya. "Karena aku sangat mengenalmu."


Heena melepas tangan Michael dengan kasar. "Sangat mengenal, kamu bilang!" Heena tersenyum getir. "Jika kau sangat mengenal aku, maka status kita bukan berubah mantan." Heena menekan kata mantan hingga membuat Michael gelagapan tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ah, sudahlah!" Heena mengibaskan tangannya sembari berlalu, meninggalkan Michael yang masih berdiri mematung, ucapan Heena barusan benar-benar menampar hati dan wajahnya.


Jika sekarang kamu ingin memperbaiki semuanya sudah susah El, lima tahun aku bertahan, belajar mencintai kamu, hingga kita miliki seorang putra tampan, tapi kamu sedikit saja tidak melihatku ada, maaf hati ini sudah sangat sakit, El. Bagaikan terbelah pecah dan aku sendiri tidak bisa menyatukan kembali. Heena bergumam dalam hati seraya mengusap air matanya yang membanjiri pipi.


Pintu lift terbuka, Heena langsung berjalan ke luar cepat menuju mobil Aldebaran.


Membuka pintu depan dan langsung duduk di samping sopir.


Heena menoleh ke belakang menatap Aldebaran yang sedang sibuk dengan handphone. "Tuan, maaf saya terlambat."


Hemm.


Heena kembali fokus ke depan, sopir melajukan mobilnya.


Di dalam gedung, Michael berjalan dengan langkah gontai, seolah kehilangan rasa semangat, ia masuk ke dalam lift, menyandarkan punggungnya, yang kebetulan hanya ia sendiri yang berada di dalam lift, semua perlakukan kasarnya terhadap Heena seketika melintas di matanya.


Arghhhh!


"Bodoh! bodoh!"


Michael meninju ruang lift melampiaskan kekesalannya pada diri sendiri.


Tiba-tiba handphonenya berdering, Michael melihat siapa yang menelpon, ternyata Mawar, pria itu kembali memasukan handphonenya ke dalam saku celana.


Sementara Heena kini sudah sampai rumah, hari ini tidak perlu kembali ke perusahaan, alasannya kebijakan dari Aldebaran.


Heena hanya bisa melambaikan tangan pada mobil yang membawa Aldebaran pergi.


Heena menghela nafas panjang seraya mengingat sikap Aldebaran selama ini, pria yang dulu hangat pada siapa pun kini berubah dingin dan berkesan cuek serta irit bicara.


Setiap harinya Heena hanya menyalahkan diri sendiri bahkan terbayang rasa bersalah, meski Aldebaran sudah mengatakan memaafkan dirinya, tetapi perubahan sikap membuat hati Heena ngilu.


Heena masuk ke rumahnya seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing, akhir-akhir ini banyak beban yang harus ia pikirkan.