
Setelah pulang habis mengunjungi Yusuf, Heena tidak langsung pulang, ibu satu anak itu melanjutkan aktivitasnya hari ini yaitu mengunjungi Ibu Jamilah di rumah sakit jiwa.
Dan di sinilah Heena sekarang, berdiri bersama suster yang selama ini menangani Ibu Jamilah.
"Sejauh ini perkembangan ibu Jamilah sudah jauh lebih baik ... Tidak seperti awal saat sampai di sini ... Ibu Jamilah sudah bisa diajak berkomunikasi meski ibu Jamilah masih sering melamun ... namun perubahan ini sudah jauh lebih baik," terang suster tersebut yang membuat hati Heena berucap syukur, dengan harapan Ibu Jamilah bisa sembuh, dan menjadi orang lebih baik.
"Jadi sekarang ibu saya sudah tidak pernah berteriak-teriak lagi, Suster?" tanya Heena sembari melihat ke arah Ibu Jamilah yang saat ini tengah duduk di teras belakang sembari melihat bunga-bunga bermekaran.
Di belakang walau tidak luas memang dibuat khusus untuk taman, yang biasanya setiap pagi semua pasien akan mengikuti aktivitas senam.
"Tidak lagi, Nyonya. Dan kami sangat berterima kasih bila keluarga mau sering-sering berkunjung kemari untuk menjenguk ibu Jamilah," jelas Suster itu lagi seraya menatap Heena yang masih terus memperhatikan Ibu Jamilah.
Heena mengangguk. "Kami sekeluarga akan usahakan sering datang kemari, terimakasih sudah merawat ibu saya dengan baik sejauh ini," ucap Heena sembari tersenyum ke arah suster tersebut.
"Sudah tugas kami, Nyonya," balas suster tersebut dengan tersenyum juga.
Setelah pembicaraan selesai suster pun pergi kembali bekerja, sementara Heena berjalan mendekati Ibu Jamilah yang saat ini duduk sendiri dengan menatap lurus ke depan.
Deg! Sekuat apa pun Heena berusaha tegar melihat kondisi wanita yang sudah merawatnya sejak bayi, tatapi tetap saja hatinya terkoyak sakit melihat ibunya seperti ini.
"Ibu ..." ucap Heena seraya memeluk Ibu Jamilah dari samping yang saat ini Heena duduk di sebelah Ibu Jamilah.
Ibu Jamilah tidak bergeming, Heena menangis seraya semakin mengeratkan pelukannya, namun mendengar suara tangis Heena, Ibu Jamilah meneteskan air matanya.
"Ibu cepat sembuh, nanti pulang bersama Heena dan Ayunda," ucap Heena yang masih terus memeluk Ibu Jamilah.
"Heena," ucap Ibu Jamilah tanpa menoleh masih menatap lurus ke depan tanpa berkedip.
"Iya Ibu, pulang bersama Heena," jelas Heena lagi seraya menatap wajah Ibu Jamilah dalam pelukannya.
Dan seketika air mata Ibu Jamilah keluar kembali, Heena menghapusnya, pelan-pelan Heena mengajak Ibu Jamilah berbicara, membicarakan semua kenangan bersama yang telah terlewati.
Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit.
Ayunda saat ini sedang membagikan undangan pernikahannya untuk teman-temannya sesama dokter.
"Cieee, Dokter Ayunda mau nikah," canda salah satu temannya.
"Yang jomblo sudah berkurang ni."
"Cie ... Ciee."
Ayunda hanya tersenyum saat mendengar teman-temannya mencandainya.
Salah satu temannya membuka undangan yang barusan Ayunda berikan.
"Wah kamu menikah sama CEO!" ucapannya sedikit terkejut. "Mau dong kenalin sama aku bila calon suami kamu punya teman CEO juga, hehehe," lanjut ucapnya yang langsung diserbu ledekan oleh para teman-temannya yang lain.
Huuuuuu. "Suka promosi."
Ayunda hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah para teman-temannya, profesi mereka memang seorang dokter, tapi bila sedang berkumpul begini juga seperti pada orang yang umumnya.
Tina sahabat Ayunda datang, menepuk pelan bahu Ayunda, Ayunda yang teringat rencana sore hari ini akan ke mall bersama Tina, berpamitan pada semua teman-temannya, waktu kerja Ayunda sudah selesai, dan sebelum menikah ada yang mau Ayunda beli.
Sampainya di mall, Ayunda dan Tina berkeliling dahulu, setelah itu mereka masuk ke toko yang menjual barang yang mau Ayunda beli.
Sementara Ayunda hanya melihat-lihat saja tanpa mau membeli. Tina nampak mengambil dua parfum, namun dengan wangi yang beda dan merek yang beda. Membayar tagihannya ke kasir, kemudian mengajak Ayunda keluar toko.
Sampai di depan pintu toko Tina menghentikan langkahnya dan menyodorkan salah satu parfum yang barusan Tina beli.
"Ini parfum buat nanti kamu malam pertama," bisik Tina tepat di telinga Ayunda seraya tertawa kecil.
Ayunda menolak melalui gerakan tangannya. "Aku tidak butuh, masih ada parfum di apartemen."
"Hiss, kau menolak hadiah dari sahabat kamu ini," ucap Tina seraya bibirnya mengerucut tajam.
Ayunda ahirnya tidak ada pilihan, untuk menolak parfum yang di bilang hadiah oleh Tina, setelah melihat wajah Tina tampak kecewa saat tadi ia menolaknya.
"Jika begitu sekarang kita nonton bioskop," ucap Tina kegirangan setelah parfum berpindah ke tangan Ayunda.
Ayunda mengangguk, sudah lama juga dirinya tidak menonton, selama ini waktunya hanya habis untuk bekerja, jarang sekali hanya untuk menghibur diri, dan kebetulan saat ini sedang keluar bersama Tina, maka Ayunda menyetujuinya.
Bila Ayunda asik mencari hiburan di mall bersama Tina, berbeda dengan Heena yang saat ini sudah sampai di rumah yang sedang duduk di depan cermin sembari menyisir rambut panjangnya yang habis keramas.
Heena saat ini teringat Ibu Jamilah, yang tadi terus mengucap kata maaf pada dirinya sampai wanita itu bersimpuh dan menangis.
Di lubuk hati Heena yang paling dalam ia tidak membenci, bahkan sangat berharap Ibu Jamilah bisa kembali ke jalan yang benar.
Tidak terasa air matanya kembali menetes, namun tiba-tiba ada telapak tangan yang menadah air matanya yang tadi jatuh, Heena menoleh ternyata Aldebaran, yang entah sejak kapan pria itu masuk.
Aldebaran mengusapkan telapak tangannya yang kejatuhan air mata Heena ke rambutnya.
"Al ...."
"Kenapa lagi, hem?" tanya Aldebaran sembari memeluk Heena dari belakang yang saat ini sedang duduk, dan mencium kening Heena sekilas.
Heena kemudian menceritakan pertemuannya tadi dengan Ibu Jamilah, dari keadaan Ibu Jamilah yang jauh lebih baik, juga tentang Ibu Jamilah yang tadi minta maaf padanya.
Aldebaran hanya diam sembari mendengarkan, Heena terus bercerita semua rasa sedihnya saat berkunjung menemui Ibu Jamilah tadi.
Aldebaran meletakkan dagunya di pundak Heena, kini sama-sama menatap ke arah cermin. "Coba kamu lihat, bila kamu bersedih wajah cantikmu hilang."
Seketika Heena tersenyum mendengar ucapan Aldebaran.
"Tuh kan kalo senyum gitu kamu cantik," ulang Aldebaran lagi seraya meminta Heena untuk kembali menatap ke cermin.
"Oh ayo lah, jangan menangis lagi, aku rasa kamu akan juara satu andai ikut casting film."
Hehehe, Heena tertawa.
"Of course," ucap Aldebaran lagi.
Heena masih saja tertawa, namanya juga perempuan jadi ya dikit-dikit baper.
"Kamu tahu ... Air mata kamu itu bagi aku itu mahal, plis jangan kamu buang hanya sekedar untuk menangisi hal yang kecil, haru nangis, sedih apa lagi, terus bahagianya kapan." Aldebaran mengacak rambutnya sendiri frustasi, memikirkan mahluk satu yang namanya perempuan.
"Hehehe, sudah-sudah maafkan aku," ucap Heena yang baru saja berdiri kini merapihkan lagi rambut Aldebaran.