HEENA

HEENA
BAB 131. Putriku.



Heena langsung memeluk tubuh Ibu Fatima yang terlihat ketakutan, di dalam pelukan Heena, Ibu Fatima merasa sedikit tenang.


Keduanya malah terlihat seperti seorang anak dengan Ibunya, yang saling menguatkan.


Setelah Ibu Fatima terlihat lebih tenang, Heena melerai pelukannya, dan meminta ijin untuk keluar sebentar.


Heena saat ini duduk di kursi ruang tunggu, Heena mengeluarkan ponsel dan kemudian menghubungi Aldebaran.


Di sambungan telepon Heena menceritakan semuanya pada Aldebaran, bahwa sudah menghubungi Tuan Bara, dan meminta Aldebaran juga untuk segera kembali.


Setelah sambungan telepon terputus, Heena menyandarkan tubuhnya seraya mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam.


Heena menenangkan pikirannya yang saat ini terasa mau pecah, beberapa hari ini memang sangat mengejutkan semuanya, berawal bertemu Lulu sampai sekarang akan bertemu Ayahnya, yang tidak pernah Heena pikirkan selama ini.


Aku masih miliki Ibu dan Ayah, tapi mereka tidak bersama aku sejak kecil, dan kenapa aku terlahir dari orang tua seperti mereka, mengapa aku harus miliki Ayah yang jahat.


Suara batin Heena dan seketika sudut matanya mengeluarkan cairan bening, dalam kesendiriannya saat ini rasanya semakin sesak yang Heena rasakan.


Semua cerita tentang kedua orang tuanya yang Ibu Fatima bicarakan, bagikan kaset berputaran di otak Heena.


Heena membuka mata dengan nafas terengah-engah, benar-benar seperti mimpi buruk, kemudian Heena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, sembari menunduk.


"Kak?" Lulu menepuk pundak Heena pelan, Heena menoleh yang kini melihat Lulu sudah berdiri di sampingnya.


Heena tersenyum kemudian mengajak Lulu untuk duduk di sampingnya, Lulu melihat mata Heena yang basah. "Kak Heena menangis?" tanyanya sembari tangannya menggenggam tangan Heena.


Heena tersenyum. "Tadi mata Kakak kena debu." Heena berbohong, tapi Lulu mengangguk percaya dan tidak menanyakan soal itu tadi.


Heena teringat sesuatu bila hari ini ayahnya akan datang, Heena ingin memberi kesan baik, seperti layaknya seorang anak yang lain, Heena meminta Lulu untuk menjaga Ibu Fatima, karena dirinya harus keluar sebentar.


Dan di sini lah Heena sekarang, di pusat perbelanjaan, Heena membeli seperti buah dan juga aneka minuman, Heena juga tidak lupa mendatangi toko kue untuk membeli kue, setelah keranjang belanjaan yang Heena bawa sudah penuh, Heena membawa ke kasir untuk membayar tagihan.


Kebetulan di kasir tidak mengantri, sehingga Heena tidak perlu berlama-lama, dan kini Heena sudah berjalan menuju mobil taksi yang tadi sudah ia pesan.


Setelah Heena dan semua barangnya masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju di jalan raya, Heena membuka handphone yang terdapat pesan masuk dari Aldebaran, yang mengatakan sudah menuju rumah sakit, Heena membalasnya dengan emot hati. Bibir Heena tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, mobil yang Heena tumpangi kini sudah sampai rumah sakit, Heena mengeluarkan barangnya yang menjadi dua kantong plastik, lalu membawa masuk ke dalam.


Heena berjalan cepat untuk segera sampai di ruang rawat Ibu Fatima, setelah sampai di sana, Heena menyusun semua barang yang tadi ia beli, dan beberapa ada yang segera di makan untuk Lulu dan Ibu Fatima.


Pintu ruang tersebut terbuka, Aldebaran datang, Heena langsung menyambut kedatangan Suaminya itu, peluk-peluk dan cium-cium.


Kini semua sudah beres dan hanya tinggal menunggu Tuan Bara datang.


Di tempat lain.


Tuan Bara saat ini sudah berada di dalam mobil bersama dua pengawal dan satu sopir pribadi yang saat ini mengendarai mobil.


Sebagai seorang Ayah yang sudah menunggu kelahiran putrinya sendiri selama sembilan bulan, namun saat telah lahir dibohongi putrinya telah meninggal, tentu Tuan Bara sangat kecewa dan sakit hati terhadap istri pertamanya Tiara.


Dan setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya tepat hari ini dirinya akan bertemu Putrinya, dalam diamnya ternyata Tuan Bara juga sangat merindukan putrinya itu, berharap bila suatu hari ada kesempatan ingin bisa bertemu putrinya lagi, dan bersyukur seolah Tuhan menjawab harapannya itu.


Dan sekarang tidak akan tinggal harapan karena sekarang akan menjadi kenyataan.


Tuan Bara sengaja datang sendiri tidak bersama kedua istrinya, bisa saja ia mengajak Mala istri keduanya, tapi Tuan Bara tidak melakukan itu karena di pertemuan pertama ini, dirinya ingin berbicara berdua saja dengan Heena, penantiannya bertahun-tahun, kerinduan yang terpendam selama ini akan ia curahkan pada putrinya hari ini.


Ayah sangat menyayangimu, Nak. Sungguh dahulu Ayah tidak tahu bila kamu masih hidup, Ayah yang bodoh sudah percaya saja dengan Ibumu, dan hari ini Ayah ingin minta maaf karena telah melantarkan kamu, batin Tuan Bara, tanpa permisi sudut matanya mengeluarkan cairan bening.


Tidak lama kemudian mobilnya kini sudah sampai di rumah sakit tempat Ibu Fatima di rawat.


Tuan Bara dan dua pengawal saat ini berjalan masuk ke dalam rumah sakit, mereka bertiga mengunakan stelan jas hitam, tubuhnya tinggi dan berbadan kekar, cukup di lihat saja sudah bisa menebak bahwa mereka orang kaya.


Tuan Bara bersama dua pengawal terus berjalan menuju ruang rawat Ibu Fatima, Heena yang berada di dalam sana saat ini merasa cemas,telapak tangannya sudah terasa dingin, namun sebisa mungkin ia akan menguatkan dirinya.


Aldebaran yang saat ini menggenggam tangan Heena tentu ia bisa merasakan bila telapak tangan Heena saat ini terasa sangat dingin.


Aldebaran meraih dagu Heena untuk menatapnya. "Jangan takut ada aku."


Heena yang melihat Aldebaran tersenyum manis malah menggoyangkan badannya tersipu malu, ucapan kata manis Aldebaran selalu bisa membuat hati Heena lumer setiap saat, padahal saat ini situasi sedang serius bukan sedang becanda, tapi entahlah mungkin Heena yang gampang baperan, baper dengan ucapan suami tidak apa-apa lah pikir Heena, yang semakin membuat dirinya tersenyum malu.


Tingkah lucu Heena membuat Aldebaran terkekeh, tangan Aldebaran terangkat ingin mengusap rambut Heena, namun bersamaan itu pintu ruangan tersebut terbuka, tangan Aldebaran berhenti di udara sembari menoleh ke arah pintu, kini matanya melihat sosok tiga pria.


Ibu Fatima yang tadi berbaring ini mau berusaha untuk duduk, Heena membantu Ibu Fatima.


Tuan Bara yang saat ini masih berdiri di dekat pintu, matanya menelisik wajah Heena, wajah yang cantik perpaduan Tuan Bara dan Ibu Tiara, saat Heena menolah ke arah nya Tuan Bara tersentak kaget.


Mata itu sangat mirip dengan milik Tiara, batin Tuan Bara. Sembari berjalan semakin ke dalam mendekati ranjang Ibu Fatima.


Heena merasakan bila Ayhnya saat ini tengah berdiri di sampingnya, namun Heena memfokuskan matanya menatap Ibu Fatima.


Ibu Fatima melihat Tuan Bara. "Tuan dia adalah-."


"Putriku," sarkas cepat Tuan Bara dengan pandangan lurus menatap wanita cantik di depannya.


Heena belum menoleh, entah kenapa kepalnya teras berat walau hanya sekedar untuk menoleh, sampai Heena mendengar namanya di sebut dua kali oleh pria yang sama.


"Putriku."


Kali ini suara yang Heena dengar seperti tertahan menahan tangis, Heena menoleh.


Deg!