
Suasana pagi hari yang cerah, Heena sedang menyiram bunga-bunga yang ada di halaman rumah, semenjak tidak lagi kerja Heena tidak memiliki kesibukan apa pun, dan beberapa hari lalu ia mulai menanam bunga di pot-pot, Heena ingin membuka usaha jualan bunga nantinya.
Setelah beberapa saat menyiram bunga-bunganya, Heena berjalan ke teras rumah lalu duduk di kursi.
Tiba-tiba Heena kepikiran berita Pak Muklis yang tadi pagi ia lihat di TV, masih tidak menyangka bila semua musibah lima tahun lalu adalah ulah Pak Muklis.
Heena jadi teringat Aldebaran, bagaiman perasaan Aldebaran saat tahu kecelakaan mobil Papanya adalah kecelakaan berencana, dan bagaiman perasaannya saat tahu pelakunya adalah orang terdekat Papanya, dan masih banyak pertanyaan bagaimana dan bagaimana di benak Heena untuk Aldebaran.
Heena baru tahu bila Mulan sangat mencintai Aldebaran sampai berani berbuat sejauh itu, dan semua tidak hanya berimbas pada Aldebaran tapi juga dirinya yang ahirnya putus dengan Aldebaran saat itu.
Heena mengingat semua kenangan lima tahun lalu, bahkan dirinya juga ikutan menyakiti Aldebaran, yang meninggalkan pria itu saat terpuruk di penjara.
Hah! Heena menutup wajahnya, sampai saat ini rasanya ia tidak pantas untuk di maafkan, bahkan tidak pantas hanya sekedar menjadi teman, tapi saat ini malah terikat pernikahan, Hah! Heena bingung dengan takdir yang dirinya jalani, ia menghindari Aldebaran karena juga rasa malu pada dirinya sendiri.
Heena menatap kosong lurus ke depan, siapa pun orang pasti bahagia bila disatukan oleh takdir bersama orang yang sejak dulu di cintai, tapi Heena berpikir posisinya saat ini beda, ia dulu pernah meninggalkan, dan sekarang statusnya janda, Heena merasa Aldebaran pantas mendapatkan seorang gadis yang belum memiliki anak sepertinya.
"Aku ikhlas bila Aldebaran ceraikan aku," ucap Heena terdiam sesaat. "Berati aku akan menjanda dua kali dong." Heena menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
Heena menghela nafas seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang saat tadi beberapa rambut menutup wajahnya saat ia menunduk.
Heena berpikir tidak ada yang ia harapan dari pernikahan sirinya, sudah menyiapkan hati seluas samudra bila nanti Aldebaran mentalak dirinya. Heena tersenyum miris.
Heena kemudian bangkit dari duduknya berjalan masuk ke dalam rumah.
Tidak berselang lama tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Heena.
Di tempat lain, Aldebaran yang saat ini sedang mengendarai mobil, tiba-tiba perasaannya tidak enak, ia mengurungkan niatnya yang ingin berangkat kerja, Aldebaran melajukan mobilnya ke rumah Heena.
Di rumah Heena, Heena merasa bingung masih pagi tapi sudah ada tamu, siapa pikir Heena.
Heena sudah selesai mandi barusan, rambutnya masih basah yang ia bungkus menggunakan handuk.
Heena membuka pintu dengan kening berkerut karena tidak mengenali tamu yang datang.
Dua pria di hadapan Heena terlihat saling pandang dan kemudian mengangguk, Heena langsung mau menutup pintu lagi saat menangkap gelagat mencurigakan dari kedua pria itu.
Namun belum sampai pintu tertutup, dua pria itu lebih dulu cepat menarik tangan Heena.
"Lepas! lepaskan ..." teriak Heena seraya memberontak.
"Diam!" bentak salah satu pria berbadan kekar.
Dua pria itu terus menarik Heena untuk berjalan masuk ke dalam mobil, Heena terus memberontak dan berteriak-teriak minta tolong, namun sayang tidak ada satu pun orang yang datang menolongnya.
Heena semakin takut saat mau di dorong masuk ke dalam mobil, tapi kakinya Heena menahan supaya tidak masuk ke dalam mobil.
Brukk!
Heena tersungkur ke kursi, sampai kakinya terasa sakit, kepalanya tiba-tiba terasa pusing, Heena berusaha duduk dan bersandar untuk menghilangkan rasa pusing. Heena masih belum menyadari di luar ada perkelahian karena kepalanya benar-benar terasa pusing.
Hingga tiba-tiba suara Aldebaran mengejutkan Heena.
"Heena, kamu tidak apa-apa?" Aldebaran masuk ke dalam mobil dan mengulurkan tangannya.
Heena menajamkan pandangannya bahwa yang ia lihat tidak salah, beneran Aldebaran yang ia lihat.
Belum sempat Heena meraih tangan Aldebaran, kaki Aldebaran lebih dulu di tarik oleh pria jahat itu.
Ahhh! Aldebaran meringis.
"Al ..." teriak Heena saat melihat Aldebaran di tarik di bawa ke luar mobil.
Saat kakinya terus di tarik, Aldebaran dengan gerakan cepat menendang pria tersebut menggunakan kakinya yang di pegang pria itu.
Pria jahat itu langsung tersungkur ke tanah, Aldebaran mendekati dan kembali memberi bogem mentah. Di wajah dan di perut pria itu, sampai pria itu memohon untuk Aldebaran berhenti tapi Aldebaran terus memukuli pria itu tanpa ampun.
Bugh!
Bugh!
Ahhww!
Aldebaran berdiri tegap seraya menatap pria yang saat ini terkulai lemas di atas tanah, dengan nafas yang memburu.
Heena matanya terbelalak kaget saat pria yang lain bangun dari pingsannya kemudian berjalan ke arah Aldebaran seraya membawa pisau yang mau di arahkan ke punggung Aldebaran.
"Al ...."
Mendengar suara teriakan Heena, Aldebaran berbalik badan dan...
Aldebaran langsung menangkis tangan pria itu hingga pisau di tangan pria itu jatuh, Aldebaran langsung menendang perut pria itu berkali-kali dan meninju wajah pria itu, bahkan meninju hidungnya saat pria itu menoleh ke samping.
Aldebaran menendang lagi perut pria itu sampai pria itu ambruk ke tanah.
Aldebaran menyibak rambutnya ke belakang sebelum ahirnya memberi pukulan lagi di wajah pria itu.
Setelah menyadari pria itu pingsan, Aldebaran berdiri lalu mendekati Heena yang berdiri di samping mobil yang terlihat ketakutan.
"Jangan takut, aku akan melindungimu." Aldebaran menatap Heena yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Heena.