
Aldebaran saat ini sedang duduk di pinggiran ranjang sembari mengancingkan baju kemejanya, di belakang, Heena seperti sedang mencari sesuatu, matanya tengok-tengok ke lantai tapi tidak menemukan yang ia cari.
"Al, di mana ****** ***** aku dan b.h aku!" tanya Heena dengan sedikit kesal.
Aldebaran yang baru selesai mengancingkan kemejanya menoleh ke belakang menatap Heena. "Lha memang di mana?" tanya balik Aldebaran tanpa bersalah.
"Hiss, jelas-jelas kamu yang melempar tadi," jawab kesal Heena setelah mendengar ucapan Aldebaran yang malah balik tanya.
"Lha di mana tadi aku asal lempar aja, hehehe." Aldebaran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah bantu cari," putus Heena sembari bangkit dari atas ranjang tanpa busana, yang kemudian terus mencari ****** ***** dan b.h nya di lantai sekitar dan di bawah ranjang juga.
Aldebaran juga ikut mencari menyibak selimut dan juga di bawah ranjang, namun tiba-tiba ponselnya bunyi, Aldebaran mengangkat telepon tersebut.
"Tuan, sebentar lagi meeting mau dimulai," ucap Dika di sambungan telepon sana.
"Meeting diundur tiga puluh menit lagi, tunggu saya datang." Selesai bicara Aldebaran langsung mematikan panggilan telepon tersebut secara sepihak.
Di ruang meeting tampak sedang bisik-bisik mengatakan ada apa? Tumben CEO telat datang.
"Ada Nyonya di dalam ruang kerja CEO," jawab Dika saat mendengar bisik-bisik para karyawan, supaya tidak berlanjut berpikir yang tidak-tidak.
Sementara Aldebaran setelah tadi mematikan sambungan telepon, kembali membantu Heena.
Kamar yang tadi rapi kini berubah berantakan karena Heena dan Aldebaran mengobrak-abriknya.
"Di mana sih Al?" tanya Heena setelah mencari namun juga belum ketemu.
"Hehe, sudahlah tidak usah pakai ****** ***** dan b.h, langsung aja pakai baju kamu."
"Tapi tidak-," ucapan Heena terhenti saat Aldebaran langsung memakaikan kembali baju Heena.
Heena terdiam terpaku campur kesal, tidak ada pilihan selain menggunakan pakaiannya kembali tanpa dalaman.
Setelah membantu memakaikan baju untuk Heena, Aldebaran merapihkan rambut Heena dengan tangannya, kemudian mengecup sekilas kening Heena, dan mengajak keluar kamar.
"Duduklah di sini, dan tunggu aku sampai aku kembali," ucap Aldebaran setelah mendudukkan Heena di kursi sofa. Heena mengangguk, Aldebaran terus berjalan meninggalkan Heena.
Semua orang langsung berdiri saat melihat Aldebaran masuk ke ruang meeting, dan baru duduk setelah melihat Aldebaran duduk.
Meeting bersama petinggi perusahaan dimulai, dan baru selesai setelah dua jam berlangsung.
Aldebaran kembali ke ruang kerjanya melihat Heena tertidur di sofa, Aldebaran mencium kening Heena sekilas kemudian berjalan menuju kursi kerjanya.
Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Aldebaran selesaikan sebelum jam pulang kerja tiba.
Tepat pukul empat sore semua pekerjaan Aldebaran sudah selesai, berkas-berkas di atas meja kerjanya sudah ia rapihkan, dirinya tumpuk jadi satu di sisi kiri atas mejanya.
Tidak lama kemudian Dika datang ke ruangannya, dan bersamaan itu Aldebaran mengangkat Heena yang sedang tidur di bawa keluar untuk pulang.
Sampainya di lobby, Aldebaran yang baru keluar lift sembari mengangkat Heena yang sedang tidur, seketika jadi pusat perhatian para karyawan khususnya kaum wanita, melihat adegan manis bosnya pada istrinya seketika ada yang menjerit seraya menggigit jari, ada meronta-ronta minta tolong hatinya merasa iri, ada yang lunglai sampai ambruk di lantai.
Mereka semua memang lebay, ya tapi siapa yang tidak akan lebay bila melihat bos tampannya miliki hati dan sikap setampan wajahnya cara melakukan pada istrinya.
Aldebaran yang sudah sampai di dalam mobil, mau mendudukkan Heena, namun wanitanya malah terbangun, dengan mata terbelalak Heena reflek bergeser wajahnya ketakutan, kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
"Hei kenapa takut ini aku," tunjuk Aldebaran pada dirinya sendiri.
Setelah kesadarannya terkumpul Heena baru tenang. "Mengapa aku dibawa ke mobil?" tanya Heena sembari melihat sekelilingnya.
"Kita akan pulang, karena sudah mau malam." Aldebaran bicara sembari mengacak rambut Heena dengan gemas.
Heena mengangguk, namun baru saja Aldebaran mau menutup pintu mobil tiba-tiba mendengar suara perut Heena yang keroncongan, Aldebaran menghela nafas panjang, Heena menyengir kuda.
"Baiklah kita mampir ke restoran dulu," putus Aldebaran yang kemudian menutup pintu mobil dengan sempurna, dirinya masuk dari arah pintu sebelah, mobil melaju menuju jalan raya.
Di tempat lain.
Tepat pukul lima sore Michael keluar dari kantor, hari ini tidak seperti biasanya, dirinya akan pulng ke rumah lebih awal, karena miliki janji dengan Yusuf, kemarin putranya mendapat nilai terbaik, dan hadiah yang Yusuf minta hanya dirinya harus pulang kerja di awal waktu bukan malam hari lagi.
Dari ucapan putranya itu Michael sadar bila selama ini sudah mengabaikan putranya demi mengejar kesuksesannya lagi, tapi Michael juga ada alasan di balik semua itu, karena ingin segera memberikan kehidupan yang layak lagi bagi putranya seperti dulu.
Tapi setelah tahu hadiah yang diminta Yusuf adalah sebuah perhatiannya dan banyak waktu bersama, Michael akan sedikit merubah kerjanya demi Yusuf.
Mobil yang Michael kendarai tidak begitu cepat, tiba-tiba Michael seperti melihat seseorang yang ia kenal, Michael menghentikan mobilnya dan memastikan orang tersebut dari kaca spion mobil, dan setelah benar apa yang dirinya lihat, Michael keluar mobil, yang kebetulan di area sini mobil diijinkan berhenti.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Michael sembari melihat tas ransel di samping gadis buta itu.
Dan mendengar suara Michael, gadis buta itu langsung berdiri yang tadi duduk, wajahnya tampak ketakutan dan mau melangkah pergi.
"Aku bertanya kenapa Anda diam, dan aku melihat Anda menangis," ucap Michael lagi, sebenarnya Michael juga tidak kenal gadis itu, bahkan namannya saja ia juga tidak tahu, tapi entah mengapa dirinya merasa kasihan melihat gadis buta itu.
Gadis itu berbalik menghadap Michael, yang tadi membelakangi Michael. "Apa Anda akan percaya bila saya bicara yang sebenarnya." Gadis itu menangis sampai beberapa saat ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dan setelah lebih tenang kembali bicara, "Saya diusir dari rumah Tante saya karena saya tidak mau dijodohkan dengan laki-laki tua yang sudah miliki empat istri!" terang gadis itu dengan suara campur Isak tangis.
Gadis itu tahu bila calon pria yang akan di jodohkan adalah laki-laki yang miliki empat istri karena tantenya jujur, dan gadis itu menolak dengan konsekuensi harus mau diusir dari rumah tantenya.
Mendengar cerita gadis itu dan melihat tangis gadis itu, Michael bisa melihat gadis itu sangat ketakutan, tanpa banyak bertanya hal lain, Michael langsung bertanya nama gadis itu.
"Siapa nama kamu, bila kamu mau ... Bekerjalah di rumah aku membantu mengasuh putraku."
Bekerja di rumah, mengasih putra, tawaran itu seolah memberinya jalan keluar, dan berpikir tidak masalah bekerja di rumah laki-laki yang saat ini bicara dengannya sampai dirinya merasa aman.
"Baiklah saya mau bekerja di rumah Anda, dan nama saya, Nelly."
Saat itu juga ahirnya Michael mengajak Nelly si gadis buta ke rumahnya untuk bekerja, karena merasa kasian, dan untuk menggaji Nelly, Michael merasa masih mampu.