
Heena yang malam ini ingin menginap di Apartemen Ayunda, setelah selesai berpakaian ia langsung berangkat, masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan.
Di Apartemen Ayunda.
Setelah menerima pesan dari Heena, bahwa sudah berangkat, Ayunda meletakkan hpnya, tiba-tiba bel apartemennya bunyi, Ayunda membuka pintu yang ternyata Ibunya.
Ibu Jamilah datang dengan baju basah kuyup dan wajah pucat.
"Ayunda, tolong Ibu." Ibu Jamilah menggenggam tangan Ayunda.
Ayunda yang khawatir dengan keadaan ibu Jamilah, ia langsung membawa masuk, meminta Ibu Jamilah untuk berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya.
Ayunda berjalan ke dapur membuat teh hangat untuk Ibunya. Ayunda berjalan ke ruang tamu seraya meletakkan teh hangat di atas meja.
Ayunda duduk di sebelah Ibunya yang sudah berganti pakaian, tiba-tiba Ibu Jamilah memeluk Ayunda dengan menangis tersedu-sedu.
"Ayunda, tolong Ibu, hanya kamu satu-satunya harapan, Ibu?" Menangis pilu di pelukan Ayunda.
Ayunda yang masih bingung dengan situasi yang di dapat, ia hanya bisa mengusap punggung Ibu Jamilah supaya lebih tenang.
Setelah merasa Ibu Jamilah tenang, Ayunda menatap wajah Ibunya yang terlihat ketakutan.
"Ibu ... bercerita lah ada apa? Ayunda akan mendengarkan."
"Rumah milik Ibu mau diambil renternir, dan kakakmu Heena tidak mau membantu, Ibu."
Ayunda langsung menghela nafas berat saat mendengar pernyataan ibunya, yang lagi-lagi, harus mengorbankan Kak Heena.
"Ibu? Ayunda mohon, benar-benar mohon ... jangan meminta kak Heena, kasihan dia, Ibu."
Ucapan Ayunda langsung menyulut emosi Ibu Jamilah. "Tidak, Nak! dari pada Ibu mengorbankan kamu lebih baik Ibu mengorbankan kakakmu Heena, karena dia hanya anak angkat Ibu!"
Deg!
Tidak hanya Ayunda yang terkejut, tetapi wanita cantik yang baru melangkahkan kakinya masuk juga merasa terkejut, tidak! lebih dari terkejut, Heena menggelengkan kepalanya hampir-hampir tidak percaya.
Ayunda menoleh ke arah Heena yang masih mematung di pintu dengan tatapan mata masih terkejut, Ibu Jamilah langsung menutup mulutnya, ia tidak menyangka akan keceplosan.
Heena berjalan ke arah Ibu Jamilah, matanya terkunci terus menatap Ibunya yang menggelengkan kepalanya.
"Ibu? katakan semua itu salah."
Ibu Jamilah semakin terisak menangis, ia tidak sanggup menjelaskan rahasianya yang sudah ia jaga rapat-rapat selama bertahun-tahun.
Mendapati Ibu Jamilah yang hanya diam saja dengan menangis tersedu-sedu, membuat Heena mengartikan bahwa yang ia dengar tadi adalah benar.
Tidak tahu harus berkata apa, Heena membuang nafas kasar berkali-kali seraya tersenyum getir, perlahan tubuhnya ambruk, kakinya terasa lemas, seketika kehilangan pijakan.
Heena menangis tertunduk, perasaannya terasa hancur mendapati kenyataan bahwa ia bukan putri Ibu Jamilah, lalu siapa Ibunya? pikirnya terus bertanya-tanya.
Ibu Jamilah turun dari tempat duduknya, ia mendekati Heena, memeluk Heena dengan tangis yang terus membanjiri pipinya.
Heena mengangkat kepalanya menatap Ibunya, dengan sorot mata sangat terluka, bibirnya kelu, ingin rasanya berbicara lantang namun lidah tidak bisa bergerak seperti yang ingin ia ucapkan.
Ibu Jamilah yang melihat Heena sangat rapuh ia kemudian menarik Heena ke dalam pelukannya, dan mulai menceritakan kronologinya yang mengadopsi Heena.
"Lalu di mana orang tua aku, Ibu?" Heena mulai bertanya setelah mendengar cerita dari Ibu Jamilah.
"Ibu, tidak tahu, kamu bisa mendatangi panti asuhan."
Heena menatap dalam bola mata Ibu Jamilah, mencari kebohongan di mata Ibunya, namun yang ia dapat adalah kebenaran, mata itu menunjukan ketulusan setiap kalimat yang Ibu Jamilah ucapkan.
Heena menggigit bibirnya seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak ..." teriaknya dengan menangis sembari bangkit berdiri meski tubuhnya terasa lemas, entah mendapat kekuatan dari mana Heena terus berlari ke luar tidak menghiraukan teriakan Ayunda yang memanggil namanya.
"Kak Heena, tunggu ...."
Ayunda melihat Heena sudah sembunyi di balik pintu lif.
Ayunda balik badan ia melihat Ibunya yang masih menangis. "Untuk apa Ibu menangis!"
Ayunda berkata sinis, ini semua tidak akan terjadi bila tidak karena keegoisan ibunya yang membeda kasih.
"Ibu, sangat jahat! kak Heena dari bayi Ibu yang ngurus, tapi Ibu tega menyakitinya." Ayunda membuang nafas panjang seraya membuang muka. "Ibu, sudah melupakan janji Ibu sendiri untuk terus menjaga kak Heena."
Setelah bicara seperti itu, Ayunda pergi masuk kamar meninggalkan Ibu Jamilah yang tangisnya semakin pilu. Meski selama ini ia begitu tega dengan Heena, tapi di hatinya yang paling dalam ia juga sayang pada Heena. "Maafkan Ibu, Heena," lirihnya.
Sementara di luar Apartemen, Heena terus berjalan meski saat ini hujan deras sedang mengguyur bumi, Heena tidak pedulikan tubuhnya yang basah, serta telapak kaki yang terasa perih karena tanpa alas kaki, yang ia lepas saat ingin berlari cepat meninggalkan kamar Ayunda.
Berjalan dengan tatapan kosong, tidak peduli dengan dirinya saat ini, apa lagi harus peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat Heena dengan aneh.
Heena berhenti melangkah, kini ia tertunduk di pinggir jalan raya, tangannya memukul dadanya beberapa kali, seolah ingin meluapkan rasa sakit di dalam sana.
Tangisnya semakin pilu, saat mengingat Ibu Jamilah yang begitu tega, serta pengorbanannya yang selama ini hanya semata karena bukan anak kandung.
Karena dia hanya Anak Angkat, kata-kata itu terus terngiang-ngiang di pikiran Heena seperti benang kusut.
Aaaaaa!
Heena berteriak meluapkan emosi dalam hatinya.
Tidak jauh dari Heena saat ini, ada mobil yang tiba-tiba berhenti, orang tersebut langsung ke luar mobil berjalan ke arah Heena dengan membawa payung.
Langkahnya terhenti tepat di samping Heena, Heena yang merasakan air hujan tidak membasahi tubuhnya lagi, ia mendongakkan kepalanya, kini matanya bertemu dengan mata elang dengan tatapan tak terbaca.
Heena menerima uluran tangan orang tersebut, namun saat mau berdiri tubuhnya terasa lemas, orang tersebut melihat telapak kaki Heena yang terluka, ia langsung membuang payung yang ia bawa lalu berjongkok menggendong Heena ala bridal.
"Aldebaran," suara lirih Heena sebelum ia tidak sadarkan diri.
Aldebaran membawa Heena masuk ke dalam mobil, niat hati tadi mau bertemu Asisten Dika, tapi malah bertemu Heena dalam keadaan mengenaskan.