HEENA

HEENA
BAB. 66. Disambut hangat.



Setelah beberapa menit mobil yang Aldebaran kendarai sampai di rumah Pamannya.


Heena membuka pintu mobil dan melangkah ke luar, kini ia bisa melihat betapa besar dan megah rumah pamannya Aldebaran.


Heena kemudian mengikuti langkah Aldebaran yang berjalan menuju pintu masuk, dengan perasaan berdebar tidak nyaman, Heena berjalan di belakang Aldebaran.


Sampainya di teras rumah disambut dua pelayan, tanpa di perintah pelayan tersebut mengambil alih koper yang Heena bawa.


Perasaan Heena semakin berdebar saat langkah kakinya semakin berjalan masuk ke dalam rumah. Dan ....


Deg! Heena langsung berhenti mematung saat melihat wanita baya yang wajahnya masih sangat cantik menyapa Aldebaran.


"Al ... sudah pulang, Nak." Wanita baya memeluk Aldebaran yang di balas juga oleh Aldebaran.


"Bibi, paman di mana?"


Bibi, jadi wanita itu Bibinya Aldebaran, wahh masih sangat cantik dia, tapi sudah biasa si orang kaya cantik, batin Heena saat mendengar ucapan Aldebaran dengan Bibinya.


Bibi tersenyum. "Paman, tadi ada pekerjaan dadakan di kantor." Bibi melihat wanita yang berdiri di belakang Aldebaran. "Siapa dia?" tanya Bibi dengan kening berkerut.


Aldebaran menoleh ke belakang. "Kenalkan, dia Heena. "Aldebaran meminta Heena untuk melangkah maju mensejajarkan dirinya. "Istri aku," ucapnya lagi lirih.


Bibi mengulum senyum. "Kenalkan Bibi Sekar namanya."


Heena mengangguk. "Saya Heena, Bibi."


Setelah itu Aldebaran minta ijin untuk membawa Heena masuk ke dalam kamarnya, Bibi Sekar tersenyum hangat seraya mengusap pelan lengan Aldebaran dan mempersilahkan.


Sampai di dalam kamar, Heena memasukkan baju-bajunya ke dalam almari yang Aldebaran tunjukan, sebelahan dengan almari pakaian milik Aldebaran.


Heena sibuk dengan menyusun baju-bajunya dengan sesekali melirik Aldebaran yang saat ini duduk di kursi meja rias.


Tampilan kamar yang sederhana tidak ada foto atau gambar di dinding kamar, warna cat tembok putih tulang, tidak ada perlengkapan lain di ruangan ini, ada sofa panjang yang berukuran lebar.


Setelah selesai menyusun baju-bajunya, Heena ingin bicara dengan Aldebaran, kini Heena berdiri di dekat almari dengan menatap ke arah Aldebaran, meremat jemarinya dengan terus melihat Aldebaran.


Heena bingung mau bicara atau diam saja, di rumah ini ia tidak kenal siapa pun, hanya Aldebaran yang ia kenal, tapi mau bertanya tidak enak.


Ternyata Aldebaran sedang berbalas chat dengan Rengky, mengucapkan terimakasih karena sudah membelikan kursi sofa di ruang kamarnya.


Setelah urusannya selesai dengan Rengky, Aldebaran ingin mengurus perusahaan Pak Muklis yang belum selesai urusannya.


Saat melihat Aldebaran berdiri dan mau ke luar kamar, Heena buru-buru menahan.


"Tunggu!"


"Maaf aku harus memanggilmu apa." Heena menunduk malu campur tidak enak hati, karena pria di hadapannya saat ini adalah mantan kekasih juga sekaligus mantan bosnya kemarin.


Aldebaran sedikit membungkukkan punggungnya untuk melihat lebih jelas wajah Heena yang menunduk. "Bila aku memintamu untuk memanggilku sayang, apa kamu mau?"


"Sayang," ulang Heena cepat dengan terkejut seraya langsung melihat wajah Aldebaran.


Aldebaran menegapkan lagi tubuhnya seraya tersenyum kecil. "Terserah kamu mau panggil aku apa."


Aldebaran langsung melenggang pergi meninggalkan Heena yang masih berdiri mematung.


His menyebalkan sekali dia, bila sepeti ini membuat aku tidak enak hati saja, lalu aku harus memanggilmu apa.


Heena jadi pusing sendiri, dan ahirnya memilih istirahat tidur, kepalanya juga masih terasa sakit.


Heena berbaring dibatas ranjang, tangannya mengusap ranjang tersebut, yang sepertinya tepat yang sering Aldebaran tiduri, tercium dari aroma wangi yang Aldebaran pakai.


Cukup lama Heena termenung dengan pikirannya sendiri, hingga ahirnya ia tertidur.


Di kamar sebelah, Bibi Sekar baru saja mengangkat telepon dari Paman Syafiq, menceritakan bila istri Aldebaran sudah tinggal di rumahnya, Bibi Sekar juga bercerita sangat senang bertemu Heena karena tidak akan sepi lagi bila semua pada berangkat kerja.


Dan setelah selesai bicara dengan suaminya, Bibi Sekar ingin bincang-bincang dengan Heena, tapi saat ke luar kamar melihat Aldebaran yang katanya mau berangkat kerja.


Bibi Sekar membuka kamar Aldebaran yang ternyata tidak dikunci, dari sini Bibi Sekar bisa melihat ternyata Heena sedang tidur, Bibi Sekar mengurungkan niatnya tidak mau mengganggu Heena istirahat.


Setelah melewati mimpi yang indah, Heena bangun dari tidurnya tepat sore hari, setelah membasuh wajahnya dan kini nampak lebih segar, Heena kemudian ke luar kamar.


Ia bejalan melihat sebuah jalan ke belakang, yang ternyata di sana ada kolam ikan hias, Heena berhenti sembari melihat ikan-ikan berenang itu.


"Sedang apa, Nak?"


Suara lembut Bibi Sekar mengagetkan Heena yang kini sudah berdiri di samping Heena dan tersenyum hangat.


Heena dan Bibi Sekar kemudian duduk di kursi dekat kolam ikan hias tersebut.


Bibi Sekar berharap Heena betah tinggal di rumahnya, sebagai teman wanitanya, karena setelah semua orang berangkat kerja, Bibi Sekar sendiri, ia merasa kesepian tidak ada yang ia ajak ngobrol dan juga saat mau nyalon.


Heena hanya menanggapi dengan tersenyum, Heena merasa Bibi Sekar orang yang baik, tapi tetap saja Heena merasa khawatir, apa kah Bibi Sekar tetap baik bila tahu Heena sudah punya anak.


Heena juga belum berani cerita, mungkin hal ini akan ia bicarakan dulu dengan Aldebaran.


Bibi Sekar menggenggam tangan Heena dan tersenyum ke arah Heena, kemudian mengusap rambut Heena. "Semoga kalian berdua selalu bahagia."