
Tiga minggu berlalu.
Pagi yang cerah menambah semangat untuk para orang yang bekerja di pagi hari, Heena yang ke luar dari angkutan umum, ia berjalan menuju kantor, beberapa orang yang ia kenal saling menyapa satu sama lain, Heena tersenyum ramah, ramah dan kelembutannya membuat banyak orang menyukai sikapnya.
Sebelum sampai kantor Heena bertemu seorang wanita tua yang tiba-tiba tersandung dan jatuh, Heena membantunya untuk berdiri dan mengantar wanita tua itu untuk duduk minggir.
Heena ijin untuk masuk kantor, Nenek itu mengangguk mengerti, Heena berjalan menuju kantor yang tinggal dekat lagi, kakinya melangkah masuk gedung kantor.
Heena menatap ruang kantor, tempat ia mencari rezeki, senyum cantik mengembang di bibir mengawali harinya bekerja.
Tidak terasa sudah tiga minggu Heena bekerja di D.A Corp. Pekerjaannya selalu lancar, bahkan tim selalu mensupport satu sama lain, kekompakan yang kuat hingga tepat hari ini, peluncuran gem baru D.A Corp langsung di terima di pasaran, dan serta mendapat respon positif dari masyarakat.
"Ye ... ahirnya D.A Corp berhasil!" teriak Tia yang langsung mengajak Heena dan Syifa berdiri dari duduknya, kini mereka berpelukan bertiga.
Semua sedang berkumpul di ruang CEO, Aldebaran membiarkan bawahannya berteriak senang, karna ini adalah pertama kali keberhasilan dari D.A Corp. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan.
Dan jangan tanyakan berapa jumlah pinjaman uang Aldebaran di Bank, yang hanya untuk menutup kerugian, ia yang tidak ingin menyerah terus berusaha bersama tim, dan semua itu terjawab pada hari ini.
Aldebaran tersenyum, meski setiap gagal pria itu hanya biasa saja, marah juga tidak, tapi keberhasilan saat ini tentu berkat kerja keras salah satu bawahannya yaitu Heena.
Aldebaran berdehhem, ketiga wanita yang tadi sedang berpelukan langsung melerai pelukannya dan kembali duduk.
Semua diam tidak ada yang berani bersuara. Hingga sebuah kalimat membuat hati kedua wanita, Tia dan Syifa merasa senang.
"Makan siang kali ini kita semua makan di restoran, kalian saja yang milih tempatnya." Aldebaran bersandar di kursi seraya menatap semua karyawannya secara bergantian.
Tiba di salah satu restoran ternama, di ruang VIP Aldebaran mengajak karyawannya berkumpul untuk makan siang. Ruangan yang bersih wangi dan sejuk.
Lima orang duduk bersama menjadi satu meja, Aldebaran membebaskan karyawannya yang mau memesan sesuai kesukaannya, karna hari ini dirinya yang akan mentraktir.
Beberapa makanan mewah dengan harga yang rumayan, sudah tersaji di meja depan mereka semua.
Di sini yang paling merasa canggung adalah Heena, wanita itu merasa tidak nyaman, karna selain ini pertama kalinya makan lagi bersama Aldebaran, namun posisinya duduk saat ini tepat berada di sebelah kiri Aldebaran. Dan sebelah kanannya Asisten Dika.
Heena tahu pria yang pernah menjadi mantan tunangannya dulu, itu belum pernah bicara sepatah kata pun dengannya, tapi Heena mengerti alasannya yang masih kecewa terhadap dirinya, dengan besar hati Heena terima perlakuannya.
Diijinkan bekerja di kantornya saja, Heena sudah sangat bersyukur dalam hatinya.
Heena sesekali melirik Aldebaran melalui ekor matanya, yang di lirik makan dengan santainya dengan gaya elegan.
Setelah makan selesai, Aldebaran dan Asisten Dika pergi lebih dulu, namun sebelum pergi mengijinkan ketiga karyawannya itu untuk memesan makanan lagi.
Tia dan Syifa langsung kegirangan. "Ayo bungkus-bungkus, kapan lagi coba, mumpung si Bos lagi baik, hahaha."
Tia menoleh ke arah Heena. "Heena kamu mau pesan apa lagi?"
"Jus aja, cuaca panas banget, jus lebih segar." Heena mengusap tenggorokannya.
Selesai jam makan siang, Tia, Heena dan Syifa. Kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaannya hingga sore hari waktu jam pulang.
Ketiga wanita cantik itu berpisah menuju rumah masing-masing, namun sebelum sampai rumah Heena mampir di toko roti.
Heena membeli beberapa roti, setelah mendapatkan roti yang ingin ia beli, Heena berjalan ke arah kasir dan tanpa sengaja bertemu Yusuf putranya yang berdiri di sebelah Mawar yang lagi membayar di kasir.
"Yusuf." Mengingat sudah dua minggu tidak bertemu putranya, hatinya sangat rindu, Heena berjalan mendekati Yusuf dan ingin mau memeluk, namun tiba-tiba Mawar menarik Yusuf dan membawa lari.
"Mama ..." teriak Yusuf dengan menangis.
"Yusuf ... Yusuf!" Heena berlari mengejar Mawar, namun wanita licik itu sudah masuk dalam mobil.
Heena menggedor-gedor kaca mobil sembari memanggil nama Yusuf. Namun Mawar melajukan mobilnya dengan cepat hingga membuat Heena terjatuh.
Ahh!
Heena kembali berdiri dan kembali mengejar mobil Mawar, namun usahanya nihil, dengan berlinang air mata Heena memanggil Yusuf, saat melihat wajah putranya yang menempel di kaca mobil belakang menatap ke arahnya.
"Yusuf ...."
Heena menangis tertunduk, apa lagi saat melihat wajah putranya yang sedih juga, hatinya semakin sakit saat belum bisa membuat putranya bahagia.
Dua Minggu tidak bertemu bukan tanpa alasan, karena selama dua minggu Michael mengajak Yusuf pergi ke luar negeri, dan saat hari ini bertemu Yusuf, namun Mawar malah menjauhkannya.
Heena berusaha berdiri namun terkejut saat melihat pria yang ada di sampingnya dengan memberikan tisu padanya.
"Al ..." lirih Heena, ia yang belum percaya dengan yang ia lihat, Heena mengusap matanya untuk memastikan penglihatannya.