
Heena merasakan ada seseorang di belakangnya.
Deg!
Aroma parfum ini, batin Heena.
Heena menghentikan kegiatannya dan diam mematung, jantung Heena semakin berdegup kencang saat tiba-tiba merasakan nafas hangat yang menyapu telinga hingga pipi.
Karena saat ini Aldebaran tepat berdiri di belakangnya dengan sedikit membungkukkan badan, tangan Aldebaran memegang mouse yang tadi Heena pegang.
Aldebaran membenarkan gambaran Heena di komputer, memperkuat kesan pada gambaran tersebut sebuah sketsa wanita menangis.
Gambarannya menjadi indah, seperti terlihat hidup, batin Heena menatap kagum dengan hasil gambarannya yang barusan Aldebaran perbaiki.
"Apa kamu sedang bersedih?"
Ditanya seperti itu oleh Aldebaran tentu membuat Heena langsung kaget, meski kenyataannya ia menuangkan segala perasaanya dalam gambar, tapi Heena tidak ingin mengakuinya bila memang lagi bersedih.
"Bukan, Tuan. Ini memang karena saya lagi ingin." Selesai bicara Heena langsung memejamkan mata, tangannya sudah panas dingin merasa gugup.
Heena mendengar suara kaki menjauh, Heena menoleh yang ternyata Aldebaran kini sudah menaiki tangga menuju ruang kerjanya.
Heena menghela nafas lega seraya memegangi dadanya. "Aman sekarang." Heena masih melihat punggung Aldebaran, kemudian Heena mengalihkan tatapannya pada komputer lagi. Untuk melanjutkan pekerjaannya.
Siang hari Aldebaran di telpon oleh Mulan, membuatnya mau tidak mau harus menemui Mulan.
"Dika, segera kabarin saya," ucapnya sebelum pergi dari ruang kerjanya.
Asisten Dika mengangguk dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
Heena, Tia, dan Syifa langsung berdiri menunduk hormat saat melihat Aldebaran berjalan mau menuju pintu ke luar.
Aldebaran berjalan menuju mobil, memakai kaca mata hitam lalu membuka pintu mobil, Aldebaran masuk dan langsung mengemudikan mobilnya.
Di restoran, Mulan sudah duduk manis menunggu kedatangan Aldebaran, melihat terus ke arah pintu ke luar masuk untuk memastikan Aldebaran datang.
Mulan berdiri wajahnya terlihat cemas dan khawatir, melihat terus ke arah pintu masuk, sesekali melihat jam tangannya. "Al, kenapa lama sekali."
Baru saja Mulan berhenti berucap, Mulan melihat Aldebaran datang kini sedang berjalan ke arahnya dari pintu masuk.
"Al ..." teriak Mulan seraya melambaikan tangannya.
Mulan menarikkan satu kursi untuk Aldebaran duduk, setelah memastikan Aldebaran duduk, Mulan langsung mengatakan tujuannya mengajak bertemu.
"Al, sebentar lagi acara ulang tahunku, dan aku ingin merayakannya di vila, kamu mau kan temani aku."
"Tidak masalah," ucap Aldebaran singkat.
Mendengar ucapan Aldebaran, Mulan sangat bahagia, tersenyum lebar seraya menggenggam tangan Aldebaran. "Makasih Al, aku bahagia."
Aldebaran tersenyum kecil, Mulan menjauhkan tangannya dan kemudian melanjutkan makan siang.
Sebenarnya aku malas, tapi aku harus membuat Mulan tidak curiga, demi rencana aku berhasil, batin Aldebaran.
Aku sudah tidak sabar besok sampai di Vila, Al aku mencintaimu, dan mengumumkan pada semua orang bahwa kita sepasang kekasih, batin Mulan.
Setelah acara makan siang selesai, Aldebaran mengantar Mulan untuk pulang ke rumah.
Sementara Aldebaran setelah mengantar Mulan pulang, ia langsung menuju perusahaan Ayahnya Mulan.
Mulan berteriak senang seraya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Kini posisinya telentang seraya menatap langit-langit kamar.
Mulan tersenyum dengan menghela nafas, Mulan hatinya benar-benar bahagia, rencana yang sudah lama ia rencanakan.
"Aku harus bersiap sekarang," gumam Mulan seraya bangkit lalu berjalan menuju almari pakaian, Mulan menyusun baju-baju yang akan ia bawa besok ke dalam koper.
Di perusahaan.
Aldebaran yang mau masuk ke ruangannya, tiba-tiba mendengar namanya di panggil.
"Al."
Aldebaran menoleh ternyata Pak Muklis. Aldebaran tersenyum dan menunduk hormat.
"Saya dengar kamu dan Mulan akan pergi ke Vila besok, Ayah titip Mulan." Pak Muklis menepuk pundak Aldebaran, kemudian pergi meninggalkan Aldebaran.
Aldebaran menghela nafas panjang seraya menatap punggung Pak Muklis dengan aura tak terbaca.
keesokan harinya.
Mulan sudah siap dengan semua yang akan Mulan bawa, rencana akan menginap tiga hari, dan hari ketiga itu adalah hari ulang tahun Mulan.
Mulan dan Pak Muklis menunggu Aldebaran datang, kini mereka sudah berdiri di teras.
Mulan dan Pak Muklis tersenyum saat melihat mobil Aldebaran tiba, kini mulai memasuki pelataran rumahnya.
Aldebaran ke luar mobil berjalan mendekati Mulan, Mulan berpamitan dengan Ayahnya.
"Ayah, Mulan berangkat dulu." Mulan mencium punggung tangan Ayahnya, Pak Muklis memeluk Mulan dan mencium kening putrinya.
Aldebaran membawakan koper milik Mulan ke bagasi mobil, Pak Muklis melihat mobil Aldebaran, Mulan melambaikan tangannya ke arah Ayahnya sebelum menutup kaca mobilnya.
Mobil melaju meninggalkan kediaman rumah Ayahnya Mulan.
Dalam perjalanan Mulan terus bercerita ini dan itu, Aldebaran hanya menanggapi sesukanya saja.
Perjalanan sangat menyenangkan bagi Mulan, apa lagi ini liburan pertama bersama Aldebaran.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam kini mobil sudah sampai di tempat tujuan.
Sebuah Vila yang sangat besar, tempatnya sudah di bersihkan, di dekat Vila juga banyak rumah-rumah yang dihuni oleh orang-orang warga di sini.
Aldebaran dan Mulan ke luar Mobil, menghirup udara segar yang terasa sejuk.
Aldebaran dan Mulan berjalan masuk, untuk meletakkan barang-barangnya.
Aldebaran istirahat di kursi sofa sambil tiduran, Mulan mendekati Aldebaran. "Al, aku mau ke luar sebentar, kamu mau nitip apa?"
"Tidak usah."
"Baiklah aku pergi." Setelah berkata seperti itu Mulan langsung beranjak pergi.
Ternyata Mulan di luar menemui seseorang, entah siapa orang tersebut, Mulan tampak sedang membicarakan hal serius dengan orang tersebut.
Mulan tersenyum menyeringai menatap Vila di mana Aldebaran berada.