HEENA

HEENA
BAB 59. Kabur.



Mulan yang khawatir dengan keadaan Ayahnya, langsung mengambil kunci mobil dan menuju perusahaan Ayahnya.


Mulan tidak merasa tenang setelah Aldebaran mengetahui semuanya. Mulan mengendarai mobilnya dengan cepat, tidak peduli dengan keselamatannya diri sendiri.


Dan setelah beberapa menit, mobil Mulan sampai di perusahaan Ayahnya.


Mulan segera mendatangi ruang kerja Ayahnya. Mulan sempat berteriak marah pada salah satu karyawan yang tanpa sengaja menabraknya, padahal yang salah Mulan karena berlari-lari.


"Ayah ..." teriak Mulan memanggil Ayahnya, yang kini sudah berada di ruang kerja Pak Muklis.


"Ada apa Mulan, mengapa kamu teriak-teriak." Pak Muklis menghampiri Mulan.


Mulan membuang nafas kasar berkali-kali sebelum ahirnya bicara sesuatu yang membawa dirinya datang ke sini.


"Ayah, Aldebaran sekarang sudah tahu semuanya! Ayah harus pergi sekarang juga dari Indonesia."


Apa! Pak Muklis sangat terkejut, waktu yang sangat ia takuti kini terjadi.


"Mulan, Ayah harus pergi sekarang, kamu tidak apa-apa, kan. Bila Ayah tinggal." Pak Muklis menggenggam tangan Mulan.


Mulan menggelengkan kepalanya. "Jangan khawatirkan Mulan, Ayah. Pergilah."


"Mulan, putriku." Pak Muklis memeluk Mulan, keduanya kini saling menangis untuk beberapa detik.


Setelah itu Pak Muklis membawa berkas penting yang akan ia butuhkan nanti di luar negeri.


Setelah semua yang ingin ia bawa sudah dipastikan aman, Mulan dan Pak Muklis ke luar gedung perusahaan bersama.


Dalam perjalanan pulang, Pak Muklis sudah merasa khawatir dan takut, namun sebisa mungkin bersikap tenang karena tidak ingin membuat Mulan khawatir.


Setelah sampai rumah, Pak Muklis langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah, Pak Muklis mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam koper, Mulan juga membantu keperluan yang harus Ayahnya bawa.


Setelah memastikan semua tidak ada yang tertinggal, Pak Muklis kembali mengecup kening Mulan, sebelum ahirnya pergi dari rumah.


Mulan tidak mengantar Ayahnya ke bandara karena jaga-jaga bila polisi datang ia akan mengelak tidak tahu.


Dan benar saja, baru saja Pak Muklis pergi ke bandara, Polisi datang mengucapkan permisi.


Mulan yang belum menutup pintunya, ia menemui polisi tersebut, dan bersikap setenang mungkin.


"Maaf Nona, kami datang ke mari untuk bertemu, Pak Muklis." Polisi berkata seraya menatap Mulan yang saat ini tersenyum kecil.


"Maaf ya Pak, Ayah saya tidak sedang berada di rumah." Mulan berkata sungguh-sungguh.


Tiga orang polisi saat ini saling pandang, seolah sedang berbicara melalui pandangan mata.


Ketiganya sama-sama mengangguk, sebelum ahirnya salah satu polisi bicara, "Bila begitu kami akan menggeledah rumah ini, Nona!"


Tanpa persetujuan Mulan, Polisi langsung masuk ke dalam rumah untuk memeriksa.


Setelah memeriksa ke semua tempat di rumah Mulan, Polisi tidak menemukan keberadaan Pak Muklis, namun saat salah satu polisi masuk di kamar Pak Muklis, menemukan sesuatu bukti bila saat ini Pak Muklis sedang menuju bandara.


"Ayo Pak." Salah satu Polisi mengajak dua temannya untuk berjalan cepat, melihat hal itu Mulan merasa khawatir bila Polisi menuju bandara.


Setelah memastikan mobil Polisi sudah pergi, Mulan menelpon Ayahnya, namun nomor Pak Muklis sedang tidak aktif.


"Mungkin Ayah tidak ingin terdeteksi." Mulan berusaha menenangkan diri, yakin bahwa Ayahnya pasti akan selamat.


Di Bandara Sukarno Hatta.


Pak Muklis sedang menyamar, saat ini berjalan menarik koper untuk mau masuk ke dalam pesawat, karena sudah ada panggilan bila pesawat yang akan Pak Muklis tumpangi akan segera lepas landas.


Namun saat Pak Muklis mau melangkahkan kakinya masuk, tiba-tiba tangan seseorang menariknya dengan kuat.


Ahh!


Pak Muklis kaget, dan saat kesadarannya kembali, Pak Muklis menendang pria itu tepat pada kelemahannya.


Merasa ada celah Pak Muklis langsung berlari cepat, pria tersebut langsung mengejar Pak Muklis bersama rombongannya, di tengah-tengah banyaknya orang di bandara membuat pengejaran ini sedikit sulit.


Pak Muklis saat ini berhasil ke luar bandara, mencegat taksi dan langsung segera masuk ke dalam taksi.


"Cepat Pak, tolong cepat, Pak!" ucapnya seraya berteriak.


Para pria dan segerombolan polisi kini mengejar taksi itu dengan mobil.


Sopir taksi merasa ketakutan ahirnya tidak mau melanjutkan perjalanannya, Pak Muklis berhenti di tengah jalan, bersamaan itu ada beberapa mobil yang saat ini sedang menutupi mobil para polisi, Pak Muklis masuk ke mobil pickup, sembunyi bersama barang belanjaan yang diangkut mobil tersebut.


Mobil polisi sudah kehilangan jejak, mengira masih ada di dalam mobil taksi, mobil Polisi menghentikan mobil taksi tersebut.


Ternyata Pak Muklis sudah tidak berada di sana, para Polisi kembali mencari di sekitar area itu.


Pak Muklis yang saat ini sedang berada di mobil pickup merasa sedikit lega, saat mengetahui mobil polisi tidak mengejarnya lagi.


Entah di bawa ke daerah mana, Pak Muklis tetap berada di mobil pickup sampai malam hari.


Pak Muklis sampai merasa kelaparan, tapi mobil juga belum berhenti juga.


Tidak berselang lama, ternya mobil berhenti juga. Pak Muklis segera ke luar dari dalam mobil, berlari menuju jalan raya.


Di tempat lain.


Mulan malam ini tidak bisa tidur, sudah berusaha memejamkan matanya namun juga tetap tidak bisa tidur, Mulan terus kepikiran keadaan Ayahnya di luar sana yang menjadi buronan polisi.


"Ayah, maafkan Mulan." Mulan menangis ia sadar ini adalah kesalahannya dan Ayahnya yang harus menanggung semuanya.