
Matahari mulai naik menandakan pagi sudah tiba, semua orang di muka bumi kembali beraktivitas seperti biasanya.
Heena membantu Aldebaran memasangkan dasi dan setelah rapi, Heena juga membantu Aldebaran memakai jas hitamnya, balutan jas yang pas di badan Aldebaran yang semakin membuatnya terlihat tampan dan gagah.
Heena memilihkan jam tangan di antara deretan jam mewah milik Aldebaran, untuk digunakan hari ini.
Heena mengambilnya satu lalu ia memasangkan jam tangan itu di pergelangan Aldebaran.
Setelah semua siap tidak ada yang tertinggal, Heena dan Aldebaran berjalan bersama keluar kamar, saling bergandengan tangan.
Pagi ini Aldebaran ada perjalanan bisnis di Bekasi, jadi tidak ikut sarapan pagi, tidak nginap nanti sore juga pulang.
Heena mengantar Aldebaran sampai di halaman rumah, melambaikan tangan ke arah Aldebaran sebelum kaca mobilnya benar-benar tertutup rapat.
Mobil melaju keluar gerbang masuk ke jalan raya, Heena kembali masuk ke dalam, hari ini dirinya juga ada acara untuk mempersiapkan pernikahan Ayunda.
Di dalam ruang makan Bibi Sekar dan Paman Syafiq sudah mulai sarapan, Bibi Sekar mengajak Heena untuk sarapan, namun Heena menolak mau membersihkan diri dulu.
Sementara di bawah, Bibi Sekar dan juga Paman Syafiq juga membahas acara pesta pernikahan Rengky yang sebentar lagi di gelar.
Sembari sarapan pasangan yang sudah tidak lagi muda itu tersenyum bahagia, ahirnya putra satu-satunya akan menikah juga, tanpa disangka jodohnya tidak jauh juga.
Selesai sarapan Paman Syafiq dan Bibi Sekar langsung pergi dari rumah, hari ini keduanya akan menemui W.O untuk acara pernikahan putranya.
Sementara Heena yang sudah selesai mandi dan juga berpakaian, langsung turun ke lantai satu, pagi ini Heena hanya sarapan menggunakan roti tawar untuk mengganjal perutnya, sejak semalam entah mengapa rasanya malas makan.
Saat ini Heena sedang dikejar waktu, Ayunda sudah mengirim pesan memintanya untuk segera sampai di apartemennya, Heena ahirnya menghabiskan roti tawar yang ia makan sembari berjalan.
Di halaman rumah sopir sudah siap, Heena langsung masuk ke dalam mobil, tidak lama kemudian mobil pun melaju.
Setelah menempuh tiga puluh menit, mobil pun sampai di area apartemen Ayunda, Heena segera keluar mobil dan masuk ke dalam menuju lift.
Sampai di lantai lima belas, pintu lift terbuka, Heena segera keluar dan menuju ke ruang kamar apartemen Ayunda.
Heena yang sudah biasa datang ke sini jadi ia tahu password kamar Ayunda, Heena membuka pintu yang ternyata di dalam sana sudah ada dua teman Ayunda.
"Kak Heena?" Ayunda mendekati Heena lalu keduanya saling berpelukan.
Setelah itu empat wanita di dalam ruangan ini mulai mempersiapkan untuk acara pernikahan Ayunda nanti.
Sementara di kediaman Michael.
Pria duda anak satu itu sangat memuji masakan Nelly yang sangat lezat, awalnya Michael merasa apa cuma dirinya yang memuji bila masakan Nelly lezat, ternyata semalam sehabis makan malam Michael bertanya pada Putranya, dan ternyata jawaban Yusuf sama seperti dirinya.
Dan sarapan pagi ini Nelly juga yang memasak, lagi-lagi Michael dibuat terkejut dengan rasa hasil masakan Nelly yang pagi ini benar-benar lezat.
Hanya sekedar nasi goreng biasa sih pikir Michael tapi rasanya beda, Michael juga melihat putranya sarapan pagi dengan lahap, dan Michael bertanya pada Yusuf ingin memastikan apa kah sama lagi dengan yang ia rasakan.
"Sayang, nasi gorengnya lezat?"
"Lezat banget, Pa." Yusuf menjawab dengan antusias seraya mengangkat dua ibu jarinya.
Michael yang sedang menyuap makanan tiba-tiba melihat Nelly datang, mendengar suara tongkat Nelly, ternyata Nelly meletakkan kotak bekal milik Yusuf di atas meja.
Bibir Michael sudah mau bicara mau minta dibuatkan bekal juga, tapi tidak jadi karena tiba-tiba dirinya sadar bahwa bukan Yusuf yang pantas minta bekal.
Akhirnya Michael melanjutkan sarapannya yang tinggal tiga suap lagi, tapi dalam hatinya sangat ingin bila makan siang nanti memakan masakan buatan Nelly.
Hemm ada apa ya dengan aku batin Michael yang kemudian meneguk air minum, dan setelah Yusuf juga sudah siap, semua orang keluar bersama, hari ini Nelly tetap ikut ke sekolah Yusuf.
"Papa, kursi belakang kotor," ucap Yusuf pada Papanya seraya menunjukan bagian yang kotor.
Michael melihat itu, dan baru teringat bila kemarin dirinya membawa barang dan lupa belum dibersihkan, nanti siang rencana mau membawa mobilnya ke tempat pencuci mobil.
"Ya sudah jika begitu salah satu di depan, ya?" ucap Michael ahirnya seraya menghidupkan mesin mobil.
"Mbak Nelly aja ya yang di depan," ucap Yusuf lalu membantu Nelly untuk membuka pintu mobil yang di depan, setelah Nelly duduk Yusuf menutup pintu.
Ane yang melihat itu tersenyum, padahal tadi ia yang ingin membantu, tapi Tuan Mudanya lebih dulu yang membantu Nelly.
Yusuf dan Ane kemudian masuk ke dalam mobil, Michael menoleh menatap Nelly sebelum ahirnya melajukan mobilnya.
Dalam hati Michael sebenarnya masih sangat penasaran dengan latar belakang gadis buta itu, setiap kali melihat wajah Nelly, Michael mengakui bila gadis itu cantik bahkan sangat cantik, wajahnya bukan orang Indonesia asli, kulitnya yang putih lebih seperti blasteran dengan Amerika, namun Michael belum bisa bertanya hal-hal yang menyangkut latar belakang gadis itu, tidak ingin membuat Nelly ketakutan.
Namun soal kebutaan Nelly, Michael sudah memastikan bila gadis itu benar-benar buta, tidak membohongi dirinya.
Tidak lama kemudian mobil sampai di sekolahan Yusuf, Nelly yang kesusahan melepas sabuk pengaman, Michael membantu melepaskannya, kemudian membantu menyerahkan tongkat Nelly.
Yusuf dan Ane sudah berada di luar, saat Nelly sudah membuka pintu mobil, Yusuf mendekat lagi dan membantunya. Kemudian berjalan bersama menuju gerbang sekolahan.
Michael kemudian melajukan mobilnya menuju kantor.
Hari ini semua orang menyelesaikan pekerjaannya masing-masing hingga sampai sore hari. Ada yang beristirahat lalu kembali pulang, ada yang lanjut kerja lembur sampai malam.
Malam ini Heena sedang membuat kopi untuk Aldebaran yang baru saja pulang dinas dari kota Bekasi.
Setelah kopi buatannya jadi, Heena membawa kopi tersebut ke dalam kamar, saat Heena baru masuk dan meletakkan kopi di atas meja, Aldebaran baru selesai berpakaian yang habis mandi.
Heena yang melihat rambut Aldebaran masih basah, meminta Aldebaran untuk duduk lalu Heena mengeringkan rambut Aldebaran dengan hairdryer.
Sembari sedikit memijit kepala Aldebaran supaya rasa pusing dan lelahnya hilang.
Setelah selesai, Heena mengajak Aldebaran duduk di sofa, Aldebaran menyeruput kopi buatan Heena, hingga tinggal setengah, kemudian membaringkan tubuhnya di sofa dengan kepalanya di atas paha Heena.
Heena mengusap rambut Aldebaran, pria itu matanya terpejam, pikirannya teringat dahulu saat ibunya masih ada sering melakukan hal seperti ini, mengusap-usap lembut rambutnya saat dirinya tiduran di pangkuan ibu.
...****************...
Hai kak sekarang hari Senin, boleh ya minta vote nya, klik di yang seperti saya lingkari itu ya, tolong bantu karya Author supaya populer 💖💖💖