
"Minta maaflah yang benar!" ucap Aldebaran dengan suara yang tinggi.
Angel mau berucap sesuai perintah Aldebaran, tapi terhenti saat mendengar suara Aldebaran lagi.
"Bukan padaku, tapi pada Istriku." Aldebaran bicara dingin dengan tatapan murka.
Deg! Angel seketika mengangkat kepalanya kini tatapan matanya bertemu dengan mata Heena, sungguh Angel tidak pernah menduga bila harinya akan sesial ini, bagaiman bisa ia meminta maaf pada wanita yang sangat ia benci, apa lagi saat orang-orang mulai berbalik berbisik membicarakan dirinya, Angel mengepalkan tangannya, mau marah tapi ia tidak kuasa.
"Aku minta maaf ... Aku minta maaf." Ucap Angel ahirnya meski dalam hati ia marah harus minta maaf kepada Heena, tapi demi karirnya selamat, Angel menurunkan egonya.
Sama halnya dengan Heena, ia juga marah dengan Angel, tanpa sengaja wanita itu sudah membuat acara yang dibuat oleh Suaminya jadi kacau berantakan.
Heena tidak menjawab kata maaf Angel, Heena beralih menatap wajah Aldebaran. "Mari kita pergi."
Heena masih menangkap wajah kesal dan marah di wajah Aldebaran, tidak ingin suaminya semakin terpancing emosi, Heena mengajak Aldebaran untuk pergi.
Usapan lembut tangan Heena di lengan Aldebaran, seketika membuat laki-laki itu menurut, apa lagi saat melihat tatapan sendu mata Heena, di mata Aldebaran malah seperti kelinci yang minta di sayang-sayang. Kasihan Lucu gemas jadi satu.
Orang-orang yang berkerumunan mulai bubar mencari tempat mereka yang nyaman, setelah melihat Aldebaran dan Heena pergi meninggalkan tempat acara pesta itu.
Acara pesta masih tetap berlanjut, bagi siapa saja yang mau menikmati, karena hanya pesta untuk bersenang-senang.
Yang membahas masalah kerjaan juga ada, yang membahas masalah yang baru terjadi juga banyak.
Asisten Dika membawa Angel untuk diminta pertanggung jawaban, dan orang-orang yang tadi ikut membully Heena.
Heena dan Aldebaran saat ini sudah berada di dalam kamar yang ada di hotel tersebut.
Mereka duduk berhadapan di pinggiran ranjang, Aldebaran melihat tampilan Heena dan riasan Heena, cantik hatinya mengakui, yang tadi ia abaikan karena hanya terfokus dengan masalah yang ada.
Heena kepalanya menunduk, air matanya masih saja ke luar tanpa permisi, padahal ia tidak sedih, tapi bila lagi terharu memang seperti ini, Heena jadi malah cengeng.
Aldebaran menengadahkan telapak tangan kiri di bawah pipi Heena, supaya air mata Heena jatuh ke telapak tangannya.
Apa yang dilakukan Aldebaran ini malah membuat Heena semakin menangis, entah malah jadi semakin cengeng, Heena juga kesal sendiri sama dirinya sendiri.
Sudah dong Heena jangan menangis! Malu tahu dari tadi kamu nangis terus, kapan sih kmu bahagianya, masa sedih nangis, terharu pun juga nangis, suara hati Heena memarahi diri sendiri.
Tidak berselang lama setelah dimarah-marah oleh bagian hatinya, Heena ahirnya berhenti menangis, namun kali ini berganti rasa malu yang luar biasa saat mendengar bunyi perutnya yang lapar.
Kruk!
Kruk!
Astaga Henaaaaaa! batin Heena menjerit. Sungguh saat ini Heena merasa sangat malu, andai bisa menghilang Heena ingin langsung menghilang dari hadapan Aldebaran.
Aldebaran terkekeh saat mendengar bunyi perut Heena yang lapar seraya mengusapkan tangan yang tadi digunakan untuk menengadah air mata Heena ke rambutnya.
"Baiklah bila begitu aku akan pesan makanan, kita tidak perlu ke luar, cukup tunggu di sini nanti akan diantar." Aldebaran bicara sembari memegang hp dan akan melakukan pemesanan.
Setelah pesan makanan, Aldebaran masuk ke dalam kamar mandi, pintu diketuk ternyata saat Heena buka adalah sekertaris Govi, dia datang mengantarkan pakaian ganti untuk Heena, dan kemudian pamit ijin pergi.
Heena menerima paper bag yang Govi berikan, menutup pintu lagi dan masuk ke dalam, Heena membukanya ternyata tidak hanya pakaian untuk dirinya, tapi ada juga pakaian untuk Aldebaran.
Setelah beberapa menit Aldebaran ke luar dari dalam kamar mandi, ternyata pria itu tadi sedang mandi, terlihat saat ini rambutnya basah dan menggunakan handuk kimono.
Heena bersyukur saat Aldebaran menggunakan handuk kimono bukan handuk kecil yang hanya melilit di pinggangnya.
Bisa-bisa otaknya tidak waras memikirkan yang tidak-tidak.
Aaaaaa! Heena menjerit dalam hati sembari menggelengkan kepala cepat, bersyukur tidak memikirkan yang tidak-tidak, tapi menelan salivanya dengan kasar saat melihat dada Aldebaran yang masih terbuka sedikit.
Glek! Heena mendelik sungguh ini memalukan.
Terbengong dengan pikirannya sendiri sampai Aldebaran berdiri di depannya, menanyakan pakaiannya dengan suaranya yang khas dingin dan datar.
Heena menyerahkan pakaian Aldebaran, menatap terus punggung pria itu yang berjalan di menuju ruang ganti.
Setelah tiga puluh menit, makanan pesanan Aldebaran telah tiba, kini dan Heena sama-sama duduk di kursi dengan makanan di hadapan mereka masing-masing, Heena juga sudah mandi dan berganti pakaian.
Karena perutnya yang sudah terasa lapar, Heena makan dengan lahap, lupa lagi bila saat ini ia tidak sedang sendiri.
Makan sampai satu biji nasinya nempel di bibir, Aldebaran yang melihat itu, mengulurkan tangannya mengusap bibir Heena.
Deg! tubuh Heena seketika mematung saat merasakan ibu jari Aldebaran mengusap bibirnya, dan malu saat Aldebaran menunjukan satu biji nasi yang saat ini menempel di ibu jarinya.
Heena meringis menatap Aldebaran yang saat ini tersenyum kecil ke arahnya.
"Lanjutkan makannya? tidak usah buru-buru, tidak ada yang minta kok."
Mendengar kalimat itu Heena semakin meringis malu, namun rasa malunya berubah rasa haru saat mendengar ucapan Aldebaran lagi.
"Aku tidak mau kamu tersedak? makanlah dengan baik."
Di dalam hati Heena seketika bunga-bunga cintanya bermekaran, bagian hati yang lain langsung lumer, padahal Aldebaran berkata serius bukan berkata gombal yang hanya pemanis kata.
Ahirnya makan malam itu di lanjut dengan tenang dan baik, sesuai perintah Pangeran Aldebaran, bagaimana tidak disebut pangeran, bahkan Heena tidak tahu akan seperti apa jadinya bila tadi tidak ada Aldebaran yang tiba-tiba datang menolongnya bak malaikat.
Mengingat kejadian tadi Heena menghela nafas panjang. Sementara Aldebaran juga tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Bingung apa yang akan dilakukan setelah selesai makan malam ini, tubuhnya sudah lelah dan ingin segera tidur, tapi di ruangan ini tidak ada sofa buat tidur, Aldebaran dilema.
Berbeda dengan tempat lain, di sebuah ruangan di mana Asisten Dika sedang mengumpulkan orang-orang yang tadi bikin rusuh.
Mereka semua berdiri, bahkan yang tadi pingsan juga ikut berdiri meski kesadarannya belum cukup kembali.
Semua pelaku menunduk tidak ada yang berani melihat tatapan tajam Asisten Dika, pria itu tidak pernah terlihat semarah ini.