
Hari ini adalah akhir pekan, Yusuf yang sudah mendengar kabar bila Mamanya hamil, pagi ini langsung datang mengunjungi Mamanya bersama Ane, Nelly tidak ikut tetap tinggal di rumah karena di rumah ada Tuan Michael, jadi tidak perlu khawatir.
Yusuf saat ini memeluk Heena, wajahnya tersenyum terus terlihat bahagia bocah kecil itu.
"Yusuf mau punya adik, Ma?" tanya Yusuf seraya menatap wajah Heena.
"Iya," jawab Heena seraya mengusap wajah Yusuf.
"Di sini, Ma?" tunjuk Yusuf di perut Heena.
"Iya sayang," jawab Heena dengan gemas.
"Holeee ..." teriak Yusuf seraya mengangkat kedua tangannya, yang kemudian kembali memeluk Heena.
Heena menciumi puncak kepala Yusuf, saat ini dirinya juga merasa sangat bahagia, masih diberi kesempatan untuk merasakan hamil lagi, Heena sangat bersyukur.
"Hei ada si tampan kecil," sapa Bibi Sekar yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Heena, lalu duduk di pinggiran ranjang sebelah Heena berbaring.
"Bagaimana keadaan kamu saat ini sayang?" tanya Bibi Sekar pada Heena seraya menyentuh pundak Heena.
Heena menoleh. "Baik Bibi."
"Mama Yusuf mau minum," ucap Yusuf seraya menatap wajah Mamanya.
"Biar Ane ambilkan Tuan Muda," ucap Ane yang langsung siap berdiri.
"Tidak mau, Yusuf mau ambil sendili kan bental lagi mau punya adik," ucap Yusuf dengan menggelengkan kepalanya.
Heena dan Bibi Sekar tertawa bersama melihat tingkah Yusuf.
"Iya sayang," jawab Heena, yang kemudian Yusuf turun dari ranjang dibantu Ane, kemudian mereka berdua berjalan menuju dapur.
Aldebaran masuk bersama dua pelayan.
"Tolong kalian bereskan barang-barang di kamar ini dan masukan ke dalam kardus," perintah Aldebaran.
"Baik Tuan," jawab patuh dua pelayan wanita.
"Al, kamu jadi pindahan? Apa tidak sebaiknya tinggal di sini dulu sampai Heena lahiran," saran Bibi Sekar pada Aldebaran yang saat ini sudah duduk di pinggiran ranjang depan Bibi Sekar.
"Jangan khawatir Bibi, nanti Al akan menyewa suster untuk menjaga Heena dua puluh empat jam." Aldebaran menjawab mantap seraya memijit kaki Heena
Bibi Sekar ahirnya mengikuti saja, walau dalam hati ingin menahan, tapi juga tidak akan bisa, karena mereka berhak menentukan hidup mereka masing-masing, dirinya hanya bisa mendoakan yang terbaik.
Aldebaran kemudian pamit untuk melihat rumah barunya, sebelum besok pindahan ke sana.
Mencium punggung tangan Bibi Sekar lebih dulu, lalu mencium kening Heena.
Bersama Dika, Aldebaran akan mengunjungi rumah barunya, tidak jauh jaraknya dari rumah Bibi Sekar, hanya menempuh waktu tiga puluh menit sudah sampai, karena masih dalam kota yang sama.
Sampainya di tempat tujuan, di rumah Aldebaran yang baru sudah ada beberapa orang yang saat ini sedang membersihkan rumahnya.
Dari gerbang utama sampainya di rumah rumayan jauh, karena depan rumah ada taman bunga dan pohon hias yang terawat cukup luas.
Tinggi rumahnya sampai tiga lantai, di belakang rumah juga ada kolam renang, dan ada juga tempat olah raga yang sudah lengkap dengan alat-alat olahraga.
Beberapa barang seperti kursi, meja, almari, serta hiasan rumah yang lain, sudah disusun rapi.
Saat besok pagi Heena datang, rumah sudah siap untuk ditempati. Dan ini kejutan untuk Heena.
Karena Aldebaran ingat bila Heena sangat menyukai bunga, itu lah alasannya di halaman depan rumah ia buat taman bunga.
Bila Aldebaran sibuk melihat rumah barunya, Rengky saat ini juga sibuk sedang menentukan mau bulan madu kemana bersama Ayunda.
Saat ini keduanya sedang duduk di atas ranjang, tapi masih di kamar hotel, karena mereka menginap tidak ikut pulang semalam.
Ayunda menyandarkan kepalanya di pundak Rengky, sementara pria itu masih sibuk memilih-milih wisata.
"Bagaimana kalo kita ke Dubai?" tanya Rengky pada Ayunda, saat melihat wisata negara Dubai lebih indah.
"Boleh," jawab singkat Ayunda yang saat ini matanya mulai mengantuk.
"Baiklah kita akan ke sana," putus Rengky ahirnya, dan menutup majalah di depannya, kemudian meraih wajah Ayunda, dan mencium bibir wanitanya, sampai Ayunda kehabisan oksigen.
"Emm, aku ngantuk," ucap Ayunda seraya mau berbaring lagi.
Rengky menggelitik pinggang Ayunda. "Tidak boleh tidur ... Tidak boleh tidur."
Hahahah! " Lepaskan, aku geli ..." teriak Ayunda yang sudah tidak kuat merasa kegelian.
Rengky ahirnya melepaskan, dan berganti memeluk Ayunda dengan sayang.
Ayunda yang memang beneran mengantuk langsung memejamkan matanya, Rengky yang melihat itu menciumi mata Ayunda.
Rengky bersyukur bisa miliki wanita cantik seperti Ayunda, apa lagi seorang dokter juga, Rengky terus memandangi wajah cantik Ayunda saat tidur, dan semakin ia lihat tidak ada bosannya.
Rengky kemudian juga ikutan tidur di sebelah Ayunda.
Bila kedua pasang pengantin baru saat ini sedang tidur siang bersama, berbeda dengan pria duda di tempat lain, Michael sedari tadi hanya diam berdiri di tangga seraya melihat Nelly yang sedang bekerja.
Dari cerita Ane yang Michael dengar, meski Nelly buta, tapi Nelly miliki kelebihan, dia tetap bisa mengerjakan pekerjaan rumah, seperti masak, nyapu, ngepel, dan mengelap meja.
Namun Nelly melakukannya dengan pelan, dikarenakan dia miliki kekurangan yaitu buta.
Dan saat ini Michael menyaksikan sendiri bahwa apa yang Ane katakan itu benar.
Nelly saat ini sedang mengelap meja, dengan tangan satunya meraba-raba sekeliling untuk merasakan misal ada benda lain.
Dari pengamatan Michael, Nelly begitu hati-hati dalam bekerja, terlihat saat ini wanita itu yang tangannya merasakan ada vas bunga di sekitar meja, Nelly mengangkat vas bunga itu dan meletakkan kembali dengan hati-hati.
Michael mengamati Nelly dari sejak gadis itu mengelap kursi sampai meja, dan kini semuanya sudah selesai, Nelly meraba tongkatnya dan setelah mendapatkan tongkatnya, Nelly berjalan menuju dapur.
Michael melanjutkan langkahnya berjalan menuju kursi ruang keluarga yang tadi Nelly bersihkan.
Michael duduk seraya bersandar di sandaran kursi sembari menatap langit-langit ruangan tersebut.
Rumah tampak sepi tidak ada suara Yusuf, karena bocah itu masih bermain di tempat Mamanya.
Michael merasa kesepian, masih dengan menatap langit-langit ruang keluarga, Michael membuang nafas panjang, duduk termenung dan terdiam hanya sendiri, kesepian yang menemani.
Sementara kebahagian mulai datang untuk keluarga Aldebaran bersama Heena, Aldebaran yang sudah pulang dari tempat mengunjungi rumah baru, kini sedang memeluk Heena yang sedang duduk seraya bersandar di sandaran ranjang.
Kepala Aldebaran berada di dekat perut Heena dan seraya melingkarkan tangan di perut Heena.
Sedangkan saat ini tangan Heena mengusap rambut Aldebaran.
"Aku belum merasakan dia bergerak, kata orang-orang bayi dalam perut bisa bergerak-gerak?" ucap Aldebaran seraya mendekatkan telinganya dengan perut Heena yang masih rata.
Heena tersenyum. "Belum sayang, nanti bila sudah masuk ke tuju bulan akan aktif,"
Aldebaran menjauhkan lagi wajahnya dari perut Heena, tiduran sembari memeluk Heena.
Keharmonisan keluarga Aldebaran bersama Heena semakin hari semakin tercipta.