HEENA

HEENA
BAB 158. Jangan menangis ada aku



"Tu-Tuan be-benarkah ini Anda," ucap Nelly dengan gugup, dirinya yang buta tidak bisa melihat siapa yang saat ini menyanggah tubuhnya, tapi dari aroma parfumnya, Nelly mengenali bila ini parfum milik Michael.


Michael tidak menjawab dirinya tiba-tiba juga merasa gugup, lalu membawa Nelly berdiri tegap.


"Duduk lah," perintah Michael seraya menarik tangan Nelly menuntun untuk duduk di sofa.


Kini keduanya sama-sama duduk, sama-sama diam juga belum ada yang mau buka suara.


Sampai ahirnya Michael menghela nafas menetralkan suaranya supaya tidak terdengar gugup.


Michael menatap Nelly. "Nelly apa kamu masih ada orang tua, selama kamu bekerja kamu belum cerita."


"A-apa Tuan mau mengusirku?"


"Tidak, aku cuma ingin tahu aja," jelas Michael, wajahnya sudah merah untung saja Nelly tidak bisa melihat.


Supaya memudahkan aku meminang kamu Nelly, batin Michael seraya tersenyum, namun Nelly tidak bisa melihat senyum itu.


"Ayah dan Ibu aku sudah meninggal Tuan, meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, saat itu ada aku juga, dan yang selamat hanya aku, kedua orang tuaku tidak selamat, tapi karena kaca mobil yang pecah mengenai kornea dua mata saya, maka saat ini saya buta," jelas Nelly yang kemudian tangannya mengusap sudut matanya yang basah.


Kejadian pahit yang berakibat merenggut nyawa kedua orang tuanya, membuat Nelly tidak akan pernah melupakan kejadian itu.


Deg! Michael langsung terkejut, seketika merasa iba mendengar cerita dari Nelly, tidak menyangka wanita cantik yang saat ini duduk di sampingnya miliki masa lalu yang suram.


"Sejak ayah dan ibu pergi, aku tinggal bersama Tante, saat itu harta ayahku masih ada, tapi aku tidak tahu bagaimana ceritanya harta ayah habis, dan Tante miliki hutang, dan kemarin aku diminta untuk menikah dijadikan penebus hutang," jelas Nelly lagi, bibirnya berucap tegar tapi air matanya tetap menetes.


Nelly menoleh ke arah Michael seolah bisa melihat pria itu. "Terimakasih Tuan sudah mau menampung saya, bila tidak bertemu Tuan, saya tidak tahu harus kemana."


Hah, rasanya Michael ingin memeluk Nelly menenangkan wanita itu dan berkata jangan menangis ada aku.


Tapi sayangnya Michael tidak seberani itu, lagian harus mengikuti aturan-aturan, tidak boleh asal peluk main peluk.


"Tidak apa-apa, aku sudah maafkan kok," jawab Michael dengan tersenyum. Dan kini melihat senyum Nelly saat wanita itu mendengar kalimat yang barusan dirinya diucapkan.


Manisnya, batin Michael yang mengagumi senyum Nelly.


Sementara Nelly setelah berkata jujur dan minta maaf, seketika hatinya merasa plong tidak ada lagi beban yang menjadi rahasia.


Dan ternyata sejak tadi Yusuf dan Ane menguping interaksi kedua orang tersebut, Ane awalnya terkejut saat menangkap senyum Tuan Michael penuh arti, namun Yusuf meminta Ane untuk diam dan tetap melihat dua orang tersebut.


Tadinya Yusuf dan Ane ingin turun ke lantai satu, namun diurungkan niatnya saat melihat Papanya duduk bersama Nelly, meski Yusuf tidak mendengar apa yang mereka berdua ucapkan, tapi dari wajah papanya yang sedari tadi senyum-senyum tidak seperti biasanya Yusuf lihat.


Yusuf berpikir papanya menyimpan rahasia yang belum berkata jujur pada dirinya, Yusuf berencana akan bertanya nanti.


Ane mengajak Yusuf masuk ke dalam kamarnya lagi, sementara di bawah sana, Nelly ijin ke kamarnya, Michael yang lagi duduk sendiri saat ini senyum-senyum sendiri.


Siang ini Michael harus kembali ke kantor, dari jam yang dirinya ambil untuk menjemput Yusuf, sudah habis tapi Michael tidak menyesali itu, sudah cukup bahagia bisa ngobrol bareng dengan Nelly.


"Bagaimana ya caranya aku jujur tentang perasaanku pada Nelly," ucap Michael yang saat ini sudah berada di dalam mobil dan sedang menyetir mobil.


Michael jadi dilema.