
Di gedung D.A Corp.
Tia dan Syifa tiba-tiba berjalan cepat ke arah Heena. Hari ini hari pertama Heena masuk setelah dua hari ia ijin karena sakit.
Heena langsung terkejut saat tiba-tiba Tia membisikkan sesuatu di telinganya.
Sesaat Heena terdiam setelah mendengar ucapan Tia, sesaat kemudian Heena setuju dengan rencana Tia dan Syifa.
Ketiga wanita itu ber tos, lalu tertawa untuk memulai sebuah rencana.
Sore hari itu, setelah pulang dari tempat kerja, Heena, Tia, dan Syifa. ketiga wanita cantik itu mendatangi pusat perbelanjaan, membeli aneka hiasan. Ada lampu, bunga, balon dan kertas warna.
Tidak hanya itu saja, ketiga wanita itu berjalan ke arah toko kue, dan memesan kue ulang tahun, yang diberi nama lengkap dengan tgl lahir.
Setelah selesai belanja keperluan yang ingin dibeli, ketiga wanita itu juga belanja untuk kebutuhannya sendiri.
Mengisi perut dahulu sebelum ahirnya mereka bertiga kembali ke D.A. Corp.
Tepat sekitar pukul delapan malam, ketiga wanita itu sampai di gedung D.A. Corp.
Bersama-sama membuka bungkusan yang mereka beli tadi, lalu mulai menyusun.
Ketiganya fokus dengan tugas masing-masing, hingga kantuk-kantuk mulai menyerang.
Tepat pukul dua belas malam semua yang mereka kerjakan baru beres, ketiga wanita itu menatap senang melihat sekeliling ruangan yang kini sudah di hias.
Malam ini ketiganya berencana akan menginap di sini, karena mengingat waktu sudah larut malam.
Di saat semuanya sudah terlelap, tinggal Heena yang masih terjaga, Heena tidur meringkuk di belakang Tia dan di depan Syifa.
Heena mengusap sudut matanya, yang entah sejak kapan bulir bening itu menetes, berusaha memejamkan mata namun lama sekali juga tidak kunjung tidur, hawa semakin terasa dingin hingga menusuk ke tulang-tulang.
Pagi hari.
Seperti biasanya, di jam delapan pagi Heena, Tia, dan Syifa. Sudah bersiap untuk bekerja.
Mereka sudah memegang pekerjaan masing-masing, yang tadi sudah sarapan bubur ayam dari orang tukang jualan keliling.
Tepat jam sembilan pagi, Asisten Dika dan Aldebaran datang.
Tia, Heena, dan Syifa. Sudah bersiap sekarang berdiri di belakang pintu.
Bersamaan pintu masuk di buka, Aldebaran dan Asisten Dika terkejut dengan pemandangan pagi yang dilihat.
"Happy birthday, Tuan Aldebaran ...."
Bersamaan lilin ditiup, semua orang bertepuk tangan, wajah senyum menghiasai semua orang.
Aldebaran, pria itu juga tersenyum, terlihat suka dengan kejutan sederhana yang dibuat oleh para karyawannya, yang tentu tidak pernah ia bayangkan bahwa mereka akan berbuat seperti ini.
Aldebaran memotong kue ulang tahun, ia potong untuk menjadi beberapa bagian, lalu ia bagikan ke semua karyawannya.
Semua menikmati kue disertai tawa, bahkan Aldebaran yang bisa dibilang jarang tertawa, hari ini dirinya tertawa.
"Tuan, maaf tidak bisa belikan kado," ucap Syifa seraya meringis.
"Kami juga, Tuan," timpal Tia sekalian berkata untuk Heena.
Aldebaran tersenyum, tidak masalah baginya hadiah tidak terlalu penting. Bahkan senyumnya terus menghiasai wajahnya hingga ia berjalan ke lantai dua yang diikuti Asisten Dika.
Rasanya ingin mengabadikan momen ini, karena jarang melihat Aldebaran bisa senyum setulus itu.
"Sumpah! aku jadi meleleh melihat si Bos senyum seperti itu," ucap Tia seraya menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
"Hiss! kamu apaan sih!" timpal Syifa seraya membawa Tia untuk kembali bekerja.
Berbeda dengan Heena, wanita itu sedari tadi tampak lebih banyk melamun. Dari saat makan kue hingga sekarang berjalan ke arah meja kerjanya, dengan pikiran entah ke mana.
Sore hari sepulang kerja, Heena terkejut saat sampai rumah ia mendapati ada Ibu Jamilah yang kini sudah menunggunya.
"Heena, Ibu mau minta maaf." Ibu Jamilah meraih tangan Heena.
Heena menghela nafas panjang, lalu mengajak Ibu Jamilah masuk ke dalam rumah.
Kini keduanya sudah saling duduk berhadapan, Ibu Jamilah kembali bersuara.
"Tolong maafkan Ibu, Nak." Ibu Jamilah mengatakannya dengan tulus, Heena hanya menatap Ibu Jamilah dengan aura tidak terbaca.
"Aku sudah memaafkan, Ibu." Heena memaksakan diri untuk tersenyum.
"Terimakasih, Nak. Apakah itu artinya kamu bisa membantu Ibumu ini, untuk melunasi hutang Ibu kembali."
Mendengar kalimat yang diucapkan Ibu Jamilah, langsung membuat hati Heena yang tidak terlihat mata itu langsung berasa teriris, ia tidak menyangka Ibunya masih bersikeras memintanya untuk melunasi hutang, melihat kondisi sekarang apa yang harus Heena lakukan.
"Maaf, Bu. Heena tidak bisa!" bicaranya tegas dan jelas seraya menatap mata Ibu Jamilah.
"Tapi, Heena."
Ibu Jamilah tidak lagi melanjutkan ucapannya saat melihat Heena memintanya untuk pulang, dengan berat hati Ibu Jamilah pergi, hatinya kecewa, kini putri yang ia andalkan benar-benar tidak mau membantunya.