HEENA

HEENA
BAB. 109. Aku harus menguji Om Aldebaran.



Keesokan harinya, di jam sepuluh pagi kurang lima belas menit, mobil Aldebaran sudah berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah Yusuf, di bawah pohon rindang di pinggir jalan Aldebaran menghentikan mobilnya.


Aldebaran mengambil handphonenya lalu menghubungi seseorang. Saat panggilan telepon dijawab oleh seseorang di seberang sana, Aldebaran langsung bicara.


"Saya hari ini minjam anakmu." Aldebaran menghentikan ucapannya lalu menatap wajah Heena yang terlihat menatap lurus ke depan. "Anak Istriku maksudku," ucapnya lagi dan sengaja mengatakan istri, entahlah kenapa Aldebaran jadi iseng seperti itu.


Sepertinya hati kecil Aldebaran mulai ingin menunjukan bahwa Heena adalah miliknya.


Cih! Istri umpat Michael di sambungan telepon sana, tiba-tiba telinganya mendadak panas mendengar Aldebaran mengatakan istri, hatinya terkoyak tidak terima, tapi lagi-lagi akal sehatnya menampar Michael, bahwa dirinya bukan siapa-siapa lagi bagi Heena.


Aldebaran tadi juga mendengar umpatan Michael, tapi malah tersenyum miring seolah puas sudah membuat pria itu merasa panas, sepanas mentari hari ini.


"Jaga anakku baik-baik!" Selesai bicara ketus dan dingin, Michael langsung memutus sambungan telepon.


Siapa juga yang mau mencelakai anak Istriku, Aldebaran ingin menjawab seperti itu tadinya supaya Michael makin panas, tapi malah sudah dimatikan lebih dulu.


Aldebaran melihat layar HP nya yang berubah menyala bertanda panggilan mati.


Sementara Heena sejak tadi menahan ingin tertawa, bagaimana bisa Aldebaran mengatakan mau meminjam Yusuf, seolah Yusuf barang, memangnya orang kalo skillnya hanya di bidang kerja, itu susah untuk mengatakan bahasa yang benar.


Heena menggelengkan kepalanya seraya membuka pintu mobil, ia ke luar untuk menyambut Yusuf di depan gerbang sekolah, sementara sopir yang biasa mengantar jemput Yusuf, sudah Heena suruh pulang lebih dulu.


Aldebaran tetap menunggu di dalam mobil, sembari matanya terus menatap punggung Heena, di bawah sinar matahari yang terik, rambut hitam panjang Heena semakin terlihat berkilau, yang dibiarkan tergerai indah.


Apa lagi saat Heena sedikit menunduk untuk menangkap tubuh mungil Yusuf yang berlari ke arahnya lalu membawanya berputar-putar.


Persis pemain iklan di TV shampo Lifebuoy, glek! Aldebaran menelan ludah dengan kasar.


Kamu kelamaan sih Al, pasti kamu pengenkan elus-elus, belai-belai rambut Heena kan? bisik hati Aldebaran menggodai.


Tidak! Aldebaran menyangkal menggelengkan kepalanya cepat.


Halah bohong! bisik hati Aldebaran lagi.


Ah! Aldebaran mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengalihkan pandangannya, bisa-bisanya hanya melihat rambut Heena tergerai indah langsung membuat pikirannya tidak waras.


Sampai akhirnya Heena membuka pintu mobil lalu duduk, sementara Yusuf dan Ane duduk di kursi belakang.


Aldebaran melajukan mobilnya, kini tujuannya di sebuah tempat yang di sana akan banyak sekali ikan hias, Yusuf sangat menyukai ikan koi, jadi Aldebaran dan Heena memilih tempat itu untuk menghibur Yusuf.


Dua orang yang lagi sama-sama dilema memikirkan caranya berkata jujur pada Yusuf, Heena yang sebagai ibunya mendadak jurus jitu sebagai ibu blank, apa lagi Aldebaran yang cerdasnya di dunia bisnis harus mengambil hati anak kecil, butuh tenaga ekstra.


Heena menoleh menatap wajah Aldebaran, tapi seperti melihat ada yang beda, tapi apa? Heena bingung sendiri.


Itu adalah wajah Aldebaran yang terlihat bersemu karena tadi melihat rambut Heena berkilau indah.


Di kursi belakang Yusuf tertidur, selama dalam perjalanan semua tenang tidak ada yang buka suara, sampai akhirnya mobil sampai di tempat tujuan.


Yusuf sudah dibangunkan, kini sedang berjalan masuk ke dalam restoran seraya tangannya digenggam oleh Heena.


Heena, Yusuf, dan Ane berjalan lebih dulu, sementara Aldebaran menyusul langkah mereka di belakang, malah seperti pengawal.


Pria itu mulai merasa resah saat merasakan detik-detik harus berkata jujur dengan Yusuf sebentar lagi tiba, tidak makan sambal tapi peluh nampak di dahi, padahal tempatnya sejuk, Aldebaran makan tidak merasa tenang sama sekali.


Seandainya di suruh memilih ia lebih milih kerja lembur sehari semalam, dari pada harus membujuk anak kecil.


Iya itu kan profesimu, hanya membujuk anak kecil saja kamu takut, bisik hati Aldebaran mengejek.


Diam!


Tanpa sadar Aldebaran membentak, membuat Heena, Yusuf, dan Ane yang sedang lagi makan seketika menghentikan.


"Al, kamu kenapa?" tanya Heena setelah ia minum air, sementara Yusuf, dan Ane kembali makan.


Aldebaran menggeleng tanda tidak apa-apa, tapi Heena malah salah paham dikira pria itu sedang sakit karena wajah Aldebaran dan sikapnya tidak seperti biasanya.


Setelah makan siang selesai, semua sesuai rencana, Heena dan Aldebaran mengajak Yusuf melihat ikan koi, kolam ikan koi yang luas dan besar, mereka saat ini duduk seraya kaki mereka menjebur di air, ikan-ikan itu berenang-renang menyentuh kaki mereka, duduk sambil kasih makan ikan koi.


Setelah cukup menghibur Yusuf, kini mereka bertiga duduk di kursi, masih berada di pinggiran kolam ikan tersebut.


Heena yang tadi sudah mengatakan akan bicara serius dengan Yusuf, anak kecil itu seolah sekarang sedang menunggu apa yang ingin Mamanya katakan.


"Yusuf janji jangan marah dulu dengerin penjelasan Mama sampai selesai."


Yusuf mengangguk mendengar ucapan Heena.


"Yusuf, Mama sudah menikah ... sama Om Aldebaran."


Deg!


Aldebaran sedikit terkejut saat tiba-tiba Yusuf langsung beralih menatapnya setelah mendengar penjelasan Mamanya.


Satu dua tiga, Aldebaran sedang menghitung dalam hati, apakah Yusuf akan menangis tapi ternyata sampai saat ini Yusuf masih diam, tapi terus menatap wajah Aldebaran intens.


Yusuf mengunci tatapannya terus melihat Aldebaran karena anak kecil itu sedang bertanya-tanya dalam hati, apakah Om Al baik sama Mama, apa kah Om Al tidak jahatin Mama, apa kah Om Al sayang dengan Mama. Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dalam hati Yusuf untuk Om Aldebaran, dengan wajah terlihat cemas.


Tapi berbeda dengan Aldebaran dan Heena yang menangkap wajah cemas Yusuf, mereka berdua mengira bila Yusuf tidak setuju, padahal anak kecil itu cemas memikirkan Mamanya.


Benar-benar kompak kesalahpahaman mereka.


Perlakuan kasar Papanya dulu terhadap Mamanya sangat terekam kuat di memori otaknya, itulah sebabnya Yusuf tidak ingin Mamanya sedih dan nangis lagi.


Dan benar saja, mengingat Mamanya sedih dan menangis Yusuf sekarang malah menangis dan memeluk Mamanya.


Aldebaran langsung tepuk jidat, merasa lampu merah, lampu hijaunya masih jauh untuk terlihat, malah harus belajar membujuk-bujuk segala, dilema dalam pikiran kesalahpahaman nya sendiri.


Heena memeluk Yusuf yang menangis seraya menatap Aldebaran dengan senyum kikuk, dan benarkan keibuannya sekarang mendadak blank.


Yusuf mengintip Om Aldebaran dari pelukan Heena, seraya bicara dalam hati, aku harus menguji Om Al, apa kah pantas untuk Mama.