HEENA

HEENA
BAB. 113. Merestui.



Selepas selesai berkebun, Aldebaran juga Yusuf mandi, saat ini Heena sedang memandikan Yusuf di kamar Yusuf.


Di rumah ini Yusuf sudah miliki kamar sendiri, Bibi Sekar yang minta karena bila sewaktu-waktu Yusuf menginap itu lebih enak.


Yusuf dimandikan tapi malah bermain air, membuat baju yang Heena pakai jadi basah, tapi Heena menikmati itu, tidak memarahi juga, biarlah putranya berbuat sesuka hatinya, karena mengingat jarang bersama, apa pun momennya Heena tidak akan lewatkan.


Setelah lima belas menit, Yusuf selesai mandi, anak kecil itu langsung berlari keluar setelah tubuhnya di balut oleh handuk.


Membuat Heena langsung ikut menyusul dengan langkah cepat juga, takut Yusuf akan jatuh.


Namun karena bajunya yang basah, Heena tidak bisa membantu Yusuf untuk memakai baju, karena bila ia berdiri berlama di dalam kamar Yusuf, maka lantainya akan basah, karena terkena tetesan air dari bajunya.


Ahirnya Ane yang membantu Yusuf untuk memakai baju, sementara Heena ke luar berjalan menuju kamarnya.


Heena memutar handel pintu lalu melangkah masuk ke dalam, Aldebaran yang saat ini sudah berpakaian bersih langsung menoleh saat pintu kamarnya dibuka.


Deg!


Aldebaran menatap Heena tidak berkedip, baju Heena yang basah membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.


"Al kamu sudah selesai mandi?" tanya Heena saat melihat pria itu kini sudah rapih berdiri di depan cermin, tangannya masih memegang sisir, rambutnya masih belum rapih, tapi malah terlihat keren di mata Heena.


Aldebaran langsung memutus pandangannya saat ucapan Heena menyadarkan lamunannya yang sudah traveling.


Aldebaran beralih menatap cermin kemudian melanjutkan niatnya tadi yang ingin menyisir rambut.


Heena berjalan masuk ke dalam kamar mandi, melihat itu Aldebaran langsung bernafas lega seraya meletakkan sisir di atas meja rias sembari menatap wajahnya di cermin.


Ehem ehem kamu pengen kan Al? bisik hati Aldebaran yang lain.


Tidak! Tidak seperti itu! jawab hati Aldebaran dengan tegas.


Hahahaha, bisik hati Aldebaran yang lain tertawa mengejek.


Aldebaran menggeleng cepat, memilih ke ruang kerjanya untuk mengalihkan pikirannya, bila tidak dialihkan khawatir kewarasannya terganggu, yang kebetulan tadi ada laporan dari Dika, yang harus Aldebaran selesaikan melalui email.


Saat Heena selesai mandi dan berjalan ke luar, Aldebaran sudah tidak ada di dalam kamar, Heena senyum-senyum sendiri padahal tidak ada yang lucu, sambil terus berjalan menuju ruang ganti, Heena masih senyum-senyum sendiri.


Hatinya merasa bahagia, tidak tahu apa sebabnya, padahal tadi cuma melihat Yusuf dan Aldebaran berkebun bersama, ternyata kebersamaan mereka berdua telah membuat ibu muda itu merasa hatinya berbunga-bunga.


Sudah memakai pakaian pun Heena masih senyum-senyum sendiri, saat ini berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya yang sedikit basah karena habis keramas.


Ke luar dari dalam kamar Heena masih senyum-senyum, senyum terus senyum-senyum terus, Bibi pelayan yang melihat Nyonyanya tersenyum jadi ikut senyum, padahal bukan senyum dengan bibi pelayan, ternyata senyum-senyumnya Heena menular.


Heena sudah masuk ke dalam kamar Yusuf, bibi pelayan yang lagi beberes masih senyum-senyum sendiri, sampai temannya yang lain menoel baru bibi pelayan kembali ke mode awal. Sadar yang baru dirinya lakukan seperti orang gila.


Di dalam kamar Yusuf, anak kecil itu yang saat ini duduk di pinggiran ranjang, tdi juga menangkap senyum-senyum Mamanya, Yusuf mengerutkan dahinya berpikir apa yang membuat Mamanya sampai senyum-senyum sendiri itu.


Ternyata Heena di dalam kamar Putranya cukup lama, sampai tiba malam hari jam makan malam.


Makan malam di lalui dengan hati yang bahagia, Yusuf masih memiliki satu misi lagi untuk menguji Om Al nya, dan rencana dalam pikirannya bila besok Om Al berhasil, Yusuf berjanji dalam hati akan langsung memberi restu.


Anak kecil itu makan malam semakin lahap, saat bayang-bayang rencana yang ia susun akan berjalan lancar, lalu melihat ekspresi Om Al nya, sungguh Yusuf sudah tidak sabar.


Setelah makan malam, Heena minta ijin pada Aldebaran bila malam ini akan tidur di kamar Yusuf, mengingat besok sore Yusuf sudah kembali ke rumah papanya.


Aldebaran mengijinkan, dan malam ini Aldebaran tetap tidur di sofa tidak di atas ranjangnya, tapi guling yang biasa Heena pakai Aldebaran ambil, lalu ia peluk saat tidur di sofa, eh lucunya.


Aldebaran melewati malamnya dengan nyenyak, Heena dan Yusuf juga melewati malamnya dengan nyenyak.


Bila di kamar Yusuf Heena sibuk membantu Putranya memakai seragam sekolah, berbeda dengan penghuni kamar lainnya, Aldebaran yang sudah membuka mata, malah malas-malasan tidak segera bangun lalu mandi.


Masih dalam posisi memeluk guling Heena, aroma wangi parfum Heena yang menempel di guling bagaikan jimat yang membuat tidur Aldebaran benar-benar nyenyak.


Aldebaran sampai benar-benar malas untuk bangun, tapi putaran waktu di jam dinding seolah memaksa dirinya memang harus segera bangun, karena harus bekerja.


Saat ini sudah duduk, tapi masih malas, teringat pasti akan malu bila Heena masuk kamar dirinya belum mandi, Aldebaran seketika bangkit dan berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah tiga puluh menit, semua kini berkumpul di ruang makan untuk sarapan, Heena duduk di samping Yusuf seraya menyuapi putranya.


Yusuf sambil kunyah-kunyah matanya terus menatap Om Al.


Aldebaran duduk di depan mereka, saat ini mulai menyuapkan sandwich ke dalam mulutnya, satu gigitan ia kunyah-kunyah, Aldebaran memakan sampai matanya terpejam-pejam saat merasakan sandwich buatan Heena terasa sangat asin.


Aldebaran lalu meminum teh hangat niat hati untuk menghilangkan rasa asin sampai terasa pahit di lidah, tapi teh hangat juga rasanya asin, selesai minum Aldebaran sampai menjulurkan lidahnya.


Yusuf puas dalam hati, dan menunggu reaksi Om Al nya selanjutnya, Heena panik saat melihat Aldebaran makan sandwich dan teh hangat buatannya.


"Al ada apa?" tanya Heena seraya berdiri menatap Aldebaran dengan penuh kepanikan.


Namun Aldebaran tidak bisa berkata-kata, melihat Aldebaran hanya diam saja, Heena insiatif mengambil sandwich yang sudah Aldebaran makan.


Heena menggigit tepat bekas gigitan Aldebaran, melihat itu Aldebaran tercengang bagaimana bisa Heena menggigit tepat bekasnya, kan masih banyak bagian yang bisa Heena gigit.


"Asin!" teriak Heena seraya segera mengambil gelas berisi air putih lalu meneguknya.


Aldebaran berdiri dan kini berganti Aldebaran yang cemas saat melihat Heena keasinan sampai harus segera minum. "Kamu tidak apa-apa, buang saja tidak usah di makan sandwich nya, mungkin tadi kamu lupa terlalu banyak memberi garam."


Aldebaran berkata panjang lebar, hanya itu yang melintas di pikirannya, tidak sampai terpikir bila ini perbuatan Yusuf.


Dan pelakunya malah senyum-senyum, selain tersenyum karena melihat Mamanya dan Om Al nya terlihat romantis, Yusuf tersenyum sekarang ia sudah yakin dengan keputusannya bila akan merestui Mamanya dan Om Al nya, selama ini Om Al tidak pernah marah padahal seharusnya pria itu marah seperti kejadian barusan.