HEENA

HEENA
BAB 46. Memanfaatkan.



Malam ini Heena menginap di rumah sakit, tidur di sofa sambil memeluk Yusuf. Ane tidur di bawah menggelar karpet, tadi Ane sempat pulang mengambil baju ganti untuk Tuan Mudanya sekalian membawa karpet.


Pagi hari bangun tidur, Heena kembali berijin tidak masuk kerja hari ini, karena kondisi Yusuf yang tidak mau ditinggal.


Heena mengusap rambut Yusuf yang masih tidur terlelap. Kini Heena duduk bersandar, pahanya ia gunakan untuk bantalan Yusuf.


Heena pelan-pelan meletakkan kepala Yusuf, karena ia mau bangkit mau mencuci muka.


Saat Heena mau masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba melihat Michael yang sadarkan diri. Heena langsung mendekati Michael dan tidak jadi cuci muka.


"El-El kamu sudah sadar, aku-aku panggilkan dokter sekarang, ya. Tunggu, ok." Heena sedikit gugup melihat Michael sudah sadar, dengan cepat Heena ke luar untuk memanggil dokter, tidak berselang lama Heena dan dokter serta para suster sudah datang.


Dokter memeriksa keadaan Michael, Heena masih di ruangan tersebut menunggu dengan perasaan was-was.


Dokter selesai memeriksa, lalu mengatakan bahwa keadaan Michael saat ini cukup membaik.


Mendengar pernyataan dari Dokter, seketika Heena merasa lega.


Syukur lah bila Michael baik-baik saja, gumam senang Heena dalam hati.


Dokter pergi meninggalkan ruangan tersebut, Heena mendekati Michael dan tersenyum kearahnya.


Di tempat lain.


Mulan sengaja pagi ini membuat sarapan untuk dibawa ke kantor, karena untuk ia kasih buat Aldebaran.


Dengan senyum menebar, Mulan masuk ke dalam perusahaan, para orang yang lewat berpapasan dengan Mulan, mereka menunduk hormat, karena tahu Mulan putri pemilik perusahaan ini.


Sampai di dalam lift, Mulan masih tersenyum hingga ke luar lift dan masuk ke ruang kerja Aldebaran.


"Al ..." Mulan langsung masuk tapi ia tidak melihat Aldebaran berada di ruangannya.


"Di mana dia?" Mulan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Aldebaran?" Mulan mengulang memanggil kembali.


Tiba-tiba suara pintu terbuka, Mulan menoleh ternyata Aldebaran baru ke luar dari dalam kamar mandi. Melihat itu Mulan senang karena ia pikir Aldebaran tidak masuk kerja.


"Al, aku bawakan sarapan pagi untuk kamu." Mulan mengangkat bekal yang ia bawa untuk di tunjukan pada Aldebaran.


Aldebaran tersenyum kecil, kini ia duduk di sofa yang di hadapannya juga ada meja, jadi bisa buat meletakkan bekal makanan tersebut.


"Bukan nasi sih Al, tapi hanya sekedar sandwich, tapi ini asli buatan aku." Mulan berkata sungguh-sungguh.


Aldebaran mengambil satu potong sandwich lalu ia makan, rasanya rumayan menurut Aldebaran, hanya ada dua sandwich, Mulan meminta Aldebaran untuk menghabiskan.


Mulan mengambil botol minum lalu ia berikan untuk Aldebaran.


"Terimakasih." Aldebaran menerima botol minum tersebut lalu meneguk airnya.


Setelah selesai sarapan, Aldebaran membuka obrolan.


"Bisa Al, apa sih yang tidak buat kamu." Mulang menggenggam tangan Aldebaran seraya tersenyum manis.


Aldebaran tersenyum kecil. "Bisa kamu ambilkan, berkas-berkas ayah kamu lima tahun lalu."


"Untuk apa, Al." Mulan langsung memotong cepat dan tampak begitu bingung.


"Aku butuh, tidak ada maksud lain."


Aldebaran tidak menjelaskan maksud dari ia meminta berkas lama itu.


"Aku akan meminta sama ayah aku langsung, Al."


"Jangan, bila mau kamu harus mencari sendiri jangan ijin," potong cepat Aldebaran, yang semakin membuat Mulan tidak mengerti, tapi setelah mendengar alasan Aldebaran barusan, Mulan mencoba memahami.


"Aku tidak ingin mengganggu ayah kamu, tolong lakukan tanpa ia tahu."


Mendengar kalimat itu, Mulan menggenggam erat tangan Aldebaran. "Pasti," ucapnya sungguh-sungguh dengan tersenyum manis.


Aldebaran sengaja menggunakan Mulan untuk membantunya mendapatkan berkas-berkas lama itu, memanfaatkan kebucinan Mulan terhadapnya, Aldebaran berharap semua berjalan lancar sesuai rencananya.


Sesuai permintaan Aldebaran, Mulan mendatangi ruang Ayahnya saat Ayahnya sedang Meeting di luar.


Mulan segera masu ke dalam, dan mulai mencari berkas lama itu. Mulan juga bingung bahkan merasa kesulitan untuk mencarinya.


Tumpukan file-file sangat banyak, Mulan memilah satu per satu, apa lagi berkas tersebut sudah lima tahun yang lalu, pasti berada di bawah.


Mulan terus mencari tidak mau menyerah karena ingin membuat laki-laki yang ia cintai senang.


Baju Mulan sampai sedikit kotor karena terkena debu, pencarian Mulan terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang sepertinya ia cari.


Kini Mulan sudah mendapatkan berkas lama itu, Mulan tersenyum ahirnya bisa menemukan, Mulan merapihkan lagi tumpukan file-file tersebut, setelah itu Mulan kembali ke ruang kerja Aldebaran.


Saat Mulan baru membuka pintu, tiba-tiba terkejut.


Deg!


Ayah, bagaimana ini, batin Mulan takut.


Pak Muklis menatap Mulan dengan tatapan penuh curiga, namun karena tiba-tiba ia merasa mulas, jadi tidak mementingkan Mulan lagi.


Mulan mengusap dadanya setelah Ayahnya pergi masuk ke dalam. Dengan langkah cepat Mulan langsung pergi dan segera menemui Aldebaran untuk menyerahkan berkas tersebut.


Sementara Aldebaran sudah menunggu Mulan untuk kembali, Aldebaran langsung menutup pintu dan mengunci setelah Mulan masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Al, aku dapat." Mulan menyerahkan berkas itu pada Aldebaran.


Aldebaran tersenyum menerimanya. Kini Aldebaran mulai memeriksanya, dan semua benar, ini adalah berkas yang ia cari.


Namun karena Mulan masih berada di dalam ruangannya, Aldebaran lebih memilih menyimpan berkas itu kembali, karena tidak ingin rencananya diketahui oleh Mulan.