
Tujuh bulan kemudian.
Perut Heena saat ini sudah membesar, karena usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan, dua bulan lagi Heena akan lahiran.
Bila dibandingkan besarnya perut pada umumnya, perut Heena lebih besar karena bayi Heena dinyatakan kembar.
Heena sudah tidak pernah kemana-mana lagi, bila berjalan suka capek, bila ke mall Heena selalu duduk di kursi roda, dan Aldebaran yang mendorongnya.
Meski Aldebaran sudah melarang Heena untuk tidak perlu belanja baju bayi, tapi Heena ingin belanja sendiri untuk bayi-bayinya.
Dan sekarang semua perlengkapan bayi sudah komplit, untuk kamar bayi juga sudah di siapkan ruangannya, namun belum di susun kamarnya.
Setiap harinya perawat Devi selalu sigap di samping Heena, apa lagi bila Aldebaran sedang kerja, Perawat Devi miliki tanggung jawab penuh pada Heena.
Sekarang Aldebaran lebih protektif, benar-benar tidak ingin terjadi bahaya pada kandungan Heena, bahkan di rumahnya sudah di bangun lift, dan itu membantu Heena, karena saat ini Heena kesusahan bila harus menapaki anak tangga.
Saat ini Aldebaran dan Heena sedang mengikuti senam ibu hamil, namun mereka melakukannya di rumah, pemandu senam ibu hamil Aldebaran undang.
Bunga sedang berjongkok di atas bola yang besar, latihan ini biasanya untuk memudahkan nanti bila lahiran normal. Serta menguatkan otot pinggul.
"Baik latihan hari ini cukup sampai di sini," ucap pemandu senam.
Aldebaran mendekat membantu Heena berdiri, pemandu senam kemudian ijin pulang, Aldebaran mengajak Heena menuju dapur, Heena duduk di ruang makan, Aldebaran membuatkan susu hamil untuk Heena.
Sekarang badan Heena jadi gemukkan, karena hamil dan apa lagi anak yang Heena kandung kembar.
"Minumlah, sayang?" Aldebaran menyerahkan segelas susu yang baru dirinya buat untuk Heena, Aldebaran mengusap rambut Heena dengan sayang.
Susu buatan Aldebaran hangat jadi Heena langsung meminumnya habis hingga tidak tersisa.
Heena memang suka susu, tapi saat hamil saja, bila sedang tidak hamil sebenarnya Heena tidak suka susu, mungkin pengaruh bayi juga.
Tiba-tiba hp Heena berdering.
"Siapa?" tanya Aldebaran seraya menarik kursi di sebelah Heena, lalu duduk di sana.
"Ayunda," jawab Heena yang seketika menggeser simbol warna hijau, wajah Ayunda yang pucat seketika Heena lihat, karena saat ini menggunakan video call.
Ditanya Heena, Ayunda di sebrang sana mengangguk. "Mual-mual terus kak?" rengek Ayunda dengan wajah memelas lemas.
"Apa kamu-."
"Iya kak, aku lagi hamil," jawab Ayunda di seberang sana sebelum Heena melanjutkan perkataannya.
"Wah ... Selamat! Sudah berapa minggu?" tanya Heena antusias.
"Empat Minggu kak," jawab Ayunda, dan bersamaan itu terdengar suara Rengki.
"Sayang, makan dulu." Rengky di sana membawa nampan berisi bubur.
"Ya udah ya, matikan ya ... Dadah."
Setelah bicara, Heena langsung mematikan sambungan telepon, Aldebaran saat ini sudah mendusel-dusel ke leher Heena, menyukai aroma tubuh Heena.
Meski pun Heena kegelian pria itu tidak akan melepaskan, pokoknya sampai puas baru Aldebaran menyudahinya.
Tangan Aldebaran mengusap perut Heena, merasakan tendangan kecil dari bayi di dalam perut Heena.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu mereka." Aldebaran masih mengusap perut Heena.
"Kita belum punya nama lho untuk mereka." Heena mengusap rambut Aldebaran.
"Oh, iya. Nanti kita cari bersama-sama." Aldebaran mencium pipi Heena.
"Nama yang bagus yang beda dari yang lain," lanjut ucap Aldebaran seraya menatap Heena, tangannya masih mengusap perut Heena.
"Yang langka, Tukijo aja kan langka," ucap Heena terkekeh.
"Hah! Itu kan nama Abang sayur."
Hahahaha!