
Michael menoleh ke arah sumber suara, kini matanya melihat wanita cantik yang barusan menyapanya.
"Ayunda," ucap Michael yang kini melihat adik mantan istrinya itu tengah menarik kursi lalu duduk di depannya dengan meja sebagai pembatas.
Ayunda tersenyum sebelum ahirnya bicara, "Aku tadi melihat Kakak Ipar bersedih, apa karena kak Heena dan Yusuf?"
Michael tidak menjawab, ia hanya diam, dan sikap Michael ini membuat Ayunda tahu tanpa dijawab sekalipun.
"Maaf, Kak." Ayunda menunduk, kemudian bangkit lalu berjalan meninggalkan Michael sendiri.
Michael terus menatap punggung Ayunda yang semakin tidak terlihat berada dalam banyaknya orang di ruangan ini.
Sementara di sosial media, televisi mau pun yang lain, saat ini topik hangat perbincangan adalah Heena dan Aldebaran.
Kisah cinta mereka dibicarakan oleh banyk orang, karena hari ini semua orang bisa melihat beritanya, ada yang tahu dari siaran langsung di televisi, ada yang tahu dari handphone melalui aplikasi YouTube.
Stasiun televisi yang diminta untuk meliput acara secara live langsung naik ranting, kerja sama yang menguntungkan kedua pihak.
Meski bagi Aldebaran sendiri itu tidak terlalu penting, baginya yang terpenting semua orang harus tahu bahwa Heena adalah istrinya.
Bukan sekedar dirinya sudah menikah tapi tidak tahu siapa istrinya.
Sementara bagi stasiun televisi sendiri ini adalah keuntungan yang sangat besar, rantingnya sekaligus naik melonjak tinggi.
Sementara para orang-orang kalangan biasa yang menyaksikan di televisi di rumah masing-masing, terkagum-kagum dan merasa baper.
"Coba saja aku yang di posisi perempuan."
"Hanya mimpi bisa mendapat pria seperti itu."
"Benar-benar membuat yang jomblo meronta-ronta."
Suara mereka yang saat ini masih duduk manis di depan televisi di rumah masing-masing.
Sedangkan para pasien rumah sakit yang saat ini sambil bersandar menonton televisi, seketika tidak merasa sedang sakit, ada yang ikut menangis haru, ada juga yang berandai-andai bila dirinya menjadi wanitanya. Ada yang putus cinta sampai masuk rumah sakit, langsung punya semangat untuk sembuh.
Dan salah satu gadis kecil yang saat ini berdiri di pinggir jalan yang dekat ada toko, tanpa sengaja ikut melihat televisi yang sedang di nyalakan oleh pemilik toko.
Gadis itu langsung tersentak kaget saat melihat wanita yang sudah berhari-hari ini ia cari, ternyata saat ini sedang masuk dalam televisi, dan seperti yang gadis itu lihat, bahwa wanita yang sedang ia cari sedang berbahagia.
"Kak Heena, gumam Lulu seraya meneteskan air mata.
Lulu kemudian bertanya pada pemilik toko, bahwa acara itu di selenggarakan di alamat mana, pemilik toko memberitahu di salah satu hotel dan lengkap dengan namanya.
Lulu langsung segera mencari hotel tersebut, tanpa berpikir apa kah mungkin dirinya diijinkan masuk.
Selama berhari-hari ini Lulu hanya hidup di jalanan, kadang bila mau makan ia harus bantu-bantu ibu pedangan makanan untuk mencuci piring.
Lulu tidak pulang karena sudah tidak punya ongkos untuk membayar bis, ahirnya Lulu memutuskan tetap berada di jakrta sampai bisa bertemu Heena.
Tidak kenal hujan dan panas, Lulu terus mencari Heena, tidak merasakan haus atau lapar, yang ada dipikirannya hanya ingin bisa segera bertemu Heena.
Entah lah sudah seperti apa baunya, bagi Lulu yang sedang mencari Heena sudah tidak mengurusi mau bau tau wangi, yang terpenting masih sehat punya tenaga buat terus mencari Heena, itu lebih dari cukup.
Tempat hotel acara pesta pernikahan memang terletak sangat jauh dari tempat Lulu tadi melihat beritanya.
Sudah tahu alamatnya tinggal mendatangi tapi malah jauh tempatnya, sudah gitu tidak ada uang untuk menaiki kendaraan supaya cepat sampai.
Benar-benar perjuangan yang luar biasa besar, Lulu harus jalan kaki menyusuri jalanan yang bila di tempuh mobil itu sekitar satu jam, tidak bisa bayangkan bila saat ini harus Lulu tempuh hanya jalan kaki.
Lulu terus meyakin kan hatinya bahwa bisa segera bertemu Heena, bahkan bahagia Ibunya sudah menari-nari di pelupuk matanya.
Ibunya akan bahagia, bahkan lebih dari itu, ibunya bisa langsung sembuh saat nanti melihat Kak Heena berhasil ia bawa pulang untuk bertemu Ibunya.
Duar!
Duar!
Dua kali suara petir dan bersamaan itu hujan deras mengguyur bumi dan tubuh kurus Lulu, tapi gadis itu tidak merasa takut berada di tengah hujan deras, langkah kakinya terus melangkah cepat, hanya ada semangat dan semangat untuk segera bertemu Heena.
Badai sekalipun tidak akan membuat langkah kaki Lulu berhenti, karena sangking bahagianya sudah mengetahui alamat Kak Heena dan segera menemui untuk Ibu.
Lelah itu benar-benar merasuk dalam tubuh Lulu, setelah berjalan selama dua jam tiga puluh menit, ahirnya Lulu sampai di tempat tujuan yang sedari tadi dengan perasaan menggebu ingin segera sampai.
Namun saat ini Lulu terkulai lemas, ia duduk dulu seraya menatap ruang masuk ballroom hotel, banyak sekali orang di sana yang lalu langsung menggunakan baju bagus.
Lulu juga melihat papan ucapan selamat pernikahan untuk Heena dan Aldebaran.
Membaca itu hati Lulu menghangat dan menangis lagi, entah mengapa tiba-tiba merasa sedih saat tahu Kak Heena menikah tapi Ibu tidak tahu.
Tiba-tiba mendengar adzan magrib berkumandang, Lulu diam seraya mendengarkan, setalah adzan berlalu dan tubuhnya sudah mampu untuk berjalan lagi, Lulu melangkah menuju pintu ballroom hotel.
Acara pesta memang berlanjut sampai malam, tamu undangan juga masih banyak yang baru datang.
Sampai tepat di depan pintu ballroom hotel dan ingin melangkah masuk, Lulu merasakan tangannya ditarik.
"Hei orang gila pergi kau!" Sekuriti menarik Lulu sampai di halaman hotel lalu menyuruh Lulu untuk pergi.
"Hei aku bukan orang gila!" protes Lulu tidak terima, dan mau masuk ke dalam lagi, namun dihalangi lagi oleh sekuriti.
"Tubuh mu bau, dan bajumu kotor, bagaimana bisa kau bukan orang gila!" sentak sekuriti lagi yang saat ini membawa Lulu sampai di jalanan, lalu meminta pihak keamanan lain untuk menjaga Lulu supaya jangan sampai masuk ke dalam.
Ahirnya Lulu sadar dengan penampilannya, memaksa masuk ke dalam juga hanya akan mempermalukan Kak Heena.
Kebahagian Ibunya, bayang-bayang bisa bicara dengan Kak Heena semua hilang seketika.
Lulu menangis seraya berjalan menjauh, tidak tahu harus mau bagaimana lagi, pikirannya yang kacau memikirkan semuanya yang baru terjadi, membuat Lulu berjalan tidak fokus.
Dari arah depan Lulu berjalan ada sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan penuh, di dalam sana pengemudinya juga tidak fokus ke jalanan karena sedang mengambil sesuatu, dan...
Aaaaaaa!