
Trannk!
Trannk!
Suara pedang saling beradu miliki Govi dengan pria di hadapannya. Govi terus memainkan pedangnya berusaha untuk tidak kalah, dan ...
Sreett!
Ahhh!
Pedang Govi menggores lengan pria itu sampai pria itu meringis kesakitan, pria itu memegang lengannya yang terluka kemudian mengarahkan pedangnya lagi pada Govi, hingga terjadi saling beradu lagi.
Pria itu menendang Govi hingga membuat Govi terjatuh.
Ahh! rintih Govi dengan mata menatap nyalang ke arah pria itu, pria itu tersenyum menyeringai kemudian mengarahkan pedangnya lagi di atas kepala Govi, dengan gerakan cepat Govi menahan pedang itu dengan sekuat tenaganya.
Aaaaa! Teriak Govi menahan pedang itu, lalu dengan sekuat tenaganya Govi mendorong pedang miliknya ke depan hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.
Dan kesempatan ini Govi manfaatkan untuk berdiri, dan dengan sigap Govi kembali melawan pria itu, dan terjadi beberapa saat saling bertarung lagi.
Sreett!
Sreett!
Pedang Govi kembali melukai lengan pria itu, tidak terima lengannya terluka lagi pria itu marah dan sekali gerakan membuat pedang milik Govi jatuh ke lantai.
Ahhh!
Tang!
Teriak Govi bersaman suara pedangnya yang jatuh ke lantai, Govi ingin mengambil pedang itu kembali, namun kalah cepat dengan pria itu yang memojokkan tubuh Govi sampai membentur dinding.
Bem!
Ahh!
Govi merasa kesakitan saat tangan pria itu mengunci lehernya, kini Govi melihat pedang pria itu mau di arahkan ke lehernya.
"Aku akan menghabisimu seperti kamu menghabisi teman-temanku!" ucap pria itu penuh penekanan dan marah.
Pedang itu kini sudah di arakan ke leher Govi, Govi memejamkan matanya dan...
Jleb!
Ahhh!
Bugh!
Dor!
Dor!
Bersamaan suara clurit menusuk punggung pria itu yang Govi lakukan sebelum pedang milik pria itu menebas lehernya, terdengar suara rintihan pria itu, dan dengan gerakan cepat Govi meninju wajah pria itu hingga mundur dari hadapannya, dan dengan aksi cepatnya Govi menembak pria itu sebanyak dua kali.
Setelah itu Govi berlari mau menyusul Aldebaran dan Dika.
Sementara di dalam ruang bawah tanah, saat ini Heena sudah sadarkan diri, namun saat Heena membuka mata ia begitu terkejut saat mendapati dua tangan dan kakinya diikat.
Mata Heena terbelalak saat melihat Ayah dan ibu tirinya di sana sedang memulai ritual, terlihat saat ini mereka sedang seperti membaca doa dan sesekali menabur bunga dan pewangi ke sebuah ember berisikan air.
"Tolong ... lepaskan aku!" teriak Heena, namun sepertinya usahanya gagal karena tidak akan ada satu pun orang yang akan menolongnya.
Heena semakin takut ia menangis ingin keluar dari dalam sini namun tidak bisa.
Berkata akan mengobati ibunya namun malah menyekap dirinya sekarang, Heena tidak habis pikir dengan perlakuan Ayahnya itu.
Heena terus meminta dilepaskan, namun Tuan Bara yang fokus menjalankan ritual tidak menghiraukan teriakan Heena.
Rexci yang mendengar suara teriakan Heena merasa bersalah dan kasihan pada wanita itu, ingin sekali Rexci menolong Heena namun apa lah daya dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Bila tetap bersikeras menolong Heena, sudah dapat dipastikan Ayahnya akan marah besar padanya.
Rexci hanya mampu berkata maaf di dalam hati untuk Heena, tanpa bisa membantu.
Heena terus berteriak minta dilepaskan, tangannya yang diikat diantara sisi kiri dan sisi kanan, semakin membuat pergelangan tangan Heena sakit bila dirinya memberontak, karena sekuat tenaga Heena ingin melepaskan tidak akan terlepaskan. Ikatan itu sangat kuat.
Sementara Aldebaran dan Dika saat ini baru selesai menghabisi beberapa orang yang mencoba menghalangi langkahnya, dan saat ini Aldebaran dan Dika tengah berlari bersama menuju jalan seperti di gambar denah yang Heena kirim di handphonenya tadi.
Namun baru saja melewati pintu ke tiga, Aldebaran dan Dika kembali di hadang lagi oleh anak buah Tuan Bara, dengan jumlah sepuluh orang lawan dua orang
Aldebaran dan Dika kembali berkelahi lagi, melawan mereka semua yang mainnya keroyokan, dalam keadaan yang sudah lelah karena sudah berkelahi sejak tadi, Aldebaran dan Dika hampir tumbang, saat mereka terus memukul tubuh Aldebaran dan Dika.
Hahaha! Tawa mereka semua saat melihat Aldebaran dan Dika kini terkapar di lantai, sesaat Aldebaran sudah tidak sadarkan diri, tapi seolah telinganya mendengar suara Heena yang minta tolong.
Aldebaran seperti mendapat kekuatan lagi untuk berdiri, dengan mata menatap nyalang mengarah ke semua orang tersebut, Aldebaran kembali menghajar mereka semua.
Amarah karena istrinya dalam bahaya membuat Aldebaran memiliki seribu tenaga, dengan sekali pukulan mereka ambruk ke lantai, ada yang langsung pingsan ada juga yang langsung kabur.
Dengan nafas memburu Aldebaran menatap tajam mereka semua yang kini sudah tidak berdaya.
Aldebaran membantu Dika untuk berdiri, kemudian berlari bersama untuk mencari Heena, bila sesuai gambar dalam denah, Aldebaran dan Dika harus melalui dua pintu masuk lagi, karena jumlah pintu masuk ada lima, dan sudah terlewati tiga pintu.
Sampai di pintu keempat tidak ada yang menghadang, tapi saat Aldebaran dan Dika baru lewat, ada yang memukul punggung Aldebaran dan Dika.
Ahhh!
Teriak Aldebaran dan Dika bersamaan seraya merasakan perih di punggungnya, untung saja mereka tidak pingsan hanya saja merasa sakit dan kepalnya pusing.
Dengan pandangan berkunang-kunang Aldebaran dan Dika saat ini melihat tiga pria di hadapannya.
Sialan!! Umpat Aldebaran yang lagi-lagi harus bertemu orang yang menghalangi langkahnya.
Aldebaran dan Dika keduanya saling pandang memberi kode, dan saat tiga pria itu mau mendekat untuk menghajar, dengan sigap Aldebaran dan Dika langsung mengambil pistol di pinggangnya dan menembak mereka bertiga secara bersamaan.
Dor!
Dor!
Dor!
Seketika mereka bertiga tumbang, tidak butuh waktu lama lagi, Aldebaran dan Dika kembali berlari, rasanya tubuhnya sudah sangat lelah tapi Aldebaran terus memaksakan diri untuk berlari, pikirannya tidak tenang bila belum bertemu istrinya.
Aldebaran tidak mau kehilangan Heena lagi, rasa perih di lengannya mengalahkan rasa takutnya bila terjadi hal buruk dengan Heena.
Di lengan Aldebaran terkena tembakan sekali, namun dirinya masih kuat menahan sakit itu semua demi Heena.
Langkah lari mereka berdua kembali terhenti, saat lagi-lagi di pintu terakhir ada yang menjaganya lagi.
Lima orang penjaga itu sudah berjalan maju ke depan, namun dari belakang Aldebaran juga Dika, juga ada lima orang yang entah muncul dari mana.
Aldebaran dan Dika segera melawan mereka semua, kali ini tidak bisa menggunakan tembak karena mereka menyerang dari berbagai sisi.
Dan untung saja Govi datang lalu ikut membantu.
Aaaaaaa! Teriakan suara Heena di dalam sana, entah apa yang terjadi, saat ini Aldebaran yang mendengar suara itu semakin membabi buta menghajar orang-orang di hadapannya, karena ingin segera masuk ke dalam.