HEENA

HEENA
BAB 28. Ajakan menjadi teman.



Heena yang masih terkejut dengan pria yang memberikannya tisu adalah Aldebaran, ia kembali dikejutkan saat tiba-tiba pergelangan tangannya dipegang Aldebaran lalu membawanya berjalan menuju Kafe terdekat.


Yang kebetulan di sebelah toko roti ada sebuah Kafe, Aldebaran membawa Heena masuk ke dalam lalu menuju roof top di Kafe tersebut.


Sebenarnya tidak ada niat ingin membawa Heena masuk ke dalam Kafe, tapi setelah Aldebaran melihat beberapa orang yang membicarakan Heena saat wanita itu jatuh mengejar mobil yang Aldebaran tahu, ia merasa iba dan ingin melindungi Heena dari bahan pembicaraan orang.


Kini keduanya sudah duduk dengan saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas.


Pelayan kafe datang menunjukan kertas menu, Aldebaran memesan dua jus alpukat dan dua puding coklat. Pelayan pergi mengambilkan menu pesanan.


Heena yang mendengar menu yang Aldebaran pesan, hatinya terharu, bahkan sangat terharu ketika pria yang dulu pernah ia tinggalkan hanya demi permintaan ibu, kini memesan makanan kesukaannya, bahkan Aldebaran memesan dua, seperti yang sering dilakukannya dulu, pasti selalu sama.


Keduanya masih diam, belum ada yang mau buka suara.


Hingga tiba-tiba Heena mendengar sebuah suara yang sudah lama tidak ia dengar memanggil namanya.


"Heena?" Aldebaran menatap wanita yang saat ini duduk di kursi depannya, matanya masih basah bertanda wanita itu masih menangis dan belum hilang kesedihannya.


"Aku kecewa."


Al jangan diteruskan, aku tidak mampu bila harus mendengar kejujuran hatimu, batin Heena menangis.


Heena juga menatap wajah Aldebaran yang menatapnya dengan intens.


Bila Aldebaran mengatakan kecewa, itu tandanya pria itu merasakan sakit yang sangat dalam, Heena tahu betul betapa besar cintanya Aldebaran dulu pada dirinya, yang dengan teganya ia hancurkan dalam sekejap.


"Tapi aku tidak bisa membencimu, ada dua alasan ..." Aldebaran menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


Apa itu artinya kamu mau memaafkan aku Al?, hanya mampu dalam hati.


Pembicaraan keduanya terhenti saat pelayan Kafe datang mengantar pesanan makanan.


Setelah pelayan Kafe pergi, Aldebaran meminum jusnya, Heena juga ikutan meminum jusnya, ia merasa tenggorokannya kering, entah kenapa bicara berdua bersama Aldebaran tidak seperti dulu, tentu pasti beda karena dulu adalah kekasihnya dan sekarang adalah Bosnya.


"Kenapa wajahmu begitu tegang, santai saja." Aldebaran melihat Heena seraya terkekeh.


Heena hanya meringis memamerkan gigi rapihnya.


"Alasan pertama karena dahulu kamu dipaksa menikah oleh ibumu ... dan sekarang status kamu janda."


Mendengar kalimat Aldebaran, Heena mengangguk, kini ia tahu alasan pria itu tidak membencinya tapi tidak tahu rencana pria itu selanjutnya.


Aldebaran menghela nafas, kini ia beralih menatap langit yang sebentar lagi berganti malam, mega merah sore hari membuat cantik warna langit.


Heena menemukan senyuman di bibir Aldebaran, saat pria itu tersenyum kecil menatap langit, hidungnya semakin terlihat mancung saat pria itu menoleh ke arah samping, matanya dalam bagai lautan, yang saat ini melihat ke arah Heena.


Dan kini pria itu duduk di depannya, tidak berubah sedikitpun, tetap peduli, tetap Aldebaran yang dulu ia kenal.


Hatinya juga sakit dan sesak, tidak bisa mengubah takdir yang udah terjadi, saat ini Heena hanya ingin memperbaiki kesalahannya meski saat ini posisinya hanya karyawan di kantornya.


"Aku minta maaf, Al," ucapnya lirih, seraya mengusap air matanya.


"Aku memaafkan kamu, jauh sebelum kamu minta maaf, aku hanya kecewa."


Setelah pembicaraan barusan, keduanya kembali saling diam, berkubang dalam pikirannya masing-masing. Kini waktu sudah menunjuk pukul setengah tujuh malam, langit berubah gelap, berganti lampu-lampu yang menyala menghiasi setiap tempat.


Setelah beberapa menit hanya diam, Heena ingin ada yang akan ia tanyakan, Heena menatap Aldebaran yang saat ini menoleh ke arah lain.


"Al."


"Heena."


Kembali diam, keduanya tidak menyangka akan saling menyebut nama dalam waktu bersamaan.


"Kamu duluan." Heena mengurung niatnya lebih dulu, dan membiarkan Aldebaran untuk mengucapkan yang ingin di katakan.


Aldebaran menghela nafas seraya menatap ke arah lain, menghela nafas lagi dan menatap dalam bola mata Heena. "Mulai sekarang kita berteman, lupakan yang pernah terjadi hari kemarin, dan anggap saja saat ini kita baru kenal."


Dengan susah payah Heena ingin mengatakan iya, lidahnya terasa kelu, ini seperti mimpi, mimpi yang merubah takdir buruknya menjadi lebih baik, namun hatinya sekuat mungkin menekan untuk tidak berbunga-bunga dulu, Heena memastikan lagi yang ia dengar.


"Kamu serius, Al?"


"Dua rius, bukankah sekarang kita adalah sebuah tim di dunia kerja, dan itu artinya harus saling baikan jangan sampai ada yang membenci, karena D.A Corp membangun sebuah keluarga, bukan musuh." Aldebaran tersenyum kecil.


Tim kerja, iya tim kerja, gumam Heena dalam hati. Entah mengapa hati kecilnya ada perasaan sedih saat diperjelas statusnya sebagai tim kerja.


Pikiran egoisnya ingin lebih dari itu, tapi Heena sadar bahwa dianggap sebagai teman itu jauh lebih baik, Heena tersenyum menyembunyikan perasaannya yang tiba-tiba sedih.


"Baik kita berteman."


"Deal." Heena dan Aldebaran berjabatan tangan.


Deg!


Selepas berjabat tangan, Heena merasakan jantungnya berdegup kencang, pipinya terasa hangat, Heena mengusap tengkuknya yang tidak gatal, seraya tersenyum seperti salah tingkah.


Tidak perlu menunggu lebih malam, keduanya memutuskan untuk pulang, Aldebaran mengantar Heena pulang hingga sampai di halaman rumah Heena.


Heena tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Aldebaran sebelum kaca mobil menutup wajah tampannya dan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Heena.