
Rengky yang sudah dilarikan ke rumah sakit, seketika ditangani oleh seorang dokter di ruang IGD.
"Dokter Ayunda, kondisi pasien sangat melemah," ucap salah satu suster yang saat ini menemani Ayunda di ruangan itu.
Ayunda dengan segera melakukan pertolongan pertama yang terbaik untuk sebisa mungkin menyelamatkan pasiennya bisa melewati masa kritis.
Ayunda dan empat suster di dalam ruang tersebut, semua disibukan dengan pekerjaannya di bagian masing-masing.
Setelah beberapa saat melewati usaha keras, kini garis di monitor mulai tampak stabil.
Salah satu suster melihat ke arah monitor, lalu bicara, "Keadaan sudah mulai membaik, Dokter."
Ayunda dan suster yang lainnya bernafas lega, ahirnya bisa menyelamatkan nyawa pasien.
Darah yang ke luar di wajah Rengky sudah dibersihkan oleh suster, Ayunda yang tadi terserang panik karena tujuannya harus segera menyelamatkan pasien korban kecelakaan, tanpa pedulikan siapa orang tersebut.
Dan sekarang setelah semua keadaan membaik, Ayunda melihat wajah Rengky seperti tidak asing.
Ayunda mengingat-ingat orang tersebut siapa? Namun tetap tidak menemukan siapa nama orang itu.
Karena memang Ayunda dan Rengky belum pernah bersitatap dalam waktu yang lama, juga belum berkenalan, hingga membuat Ayunda sulit untuk mengingat siapa pasien yang lagi ditangani ini.
Saat Ayunda masih terus mencoba mengingat-ingat, tiba-tiba ada suster yang membuka pintu lalu memanggil.
"Dokter Ayunda, ada pasien yang harus segera dioperasi, kami meminta bantuan Anda.
Ayunda menatap suster tersebut. "Baik." Ayunda beralih menatap suster yang masih ada di ruang itu. "Segera hubungi keluarganya, dan kabari saya bila ada apa-apa dengan pasien ini."
"Baik Dokter," ucap para suster di ruangan itu serempak.
Ayunda kemudian segera ke luar dan berjalan cepat menuju ruang operasi, bekerja sebagai dokter ahli bedah, membuat Ayunda sibuk bila dalam keadaan darurat.
Apa lagi rumor yang beredar setiap operasi yang dipimpin oleh Ayunda pasti berhasil, dan hal itu membuat nama Dokter Ayunda terkenal di rumah sakit dan kalangan masyarakat. Yang selalu meminta ingin ditangani oleh Dokter Ayunda.
Suster yang tadi diperintah Ayunda sudah menghubungi keluarga Rengky.
Sementara Rengky saat ini sudah dipindah ke ruang rawat, masih ruang yang biasa saja, bukan ruang eklusif, karena keluarga belum datang.
Bibi Sekar yang baru saja mendapat kabar putra satu-satunya kecelakaan langsung menangis, tubuhnya ambruk di lantai rasanya sekujur tubuhnya lemas.
"Rengky putraku ..." teriaknya sembari menangis, pelayan yang mendengar teriakan Bibi Sekar langsung mendekati, lalu membantu Nyonyanya bangun dan membantunya membawa duduk di sofa.
Tubuh Bibi Sekar masih lemas, pelayan membantu menghubungi Paman Syafiq, setelah selesai bicara dengan Paman Syafiq. Pelayan merawat Bibi Sekar memberi air minum, dan memijit lengan Bibi Sekar dan anggota tubuh lainnya.
Hingga tiga puluh menit kemudian, Paman Syafiq tiba di rumah, melihat istrinya terkulai lemas duduk di sofa Paman Syafiq mendekati.
"Ma, Mama istighfar, Ma." Paman Syafiq panik melihat Istrinya yang lemas dan masih terus menangis. Paman Syafiq memeluk Istrinya.
"Rengky, Papa. Ayo kita ke rumah sakit."Wajah bibi Sekar tenggelam di dada Paman Syafiq seraya bicara dengan pelan campur menangis.
"Baik, Ma. Kita berangkat sekarang," ucap Paman Syafiq, yang kemudian membawa Bibi Sekar untuk berdiri, pelayan juga membantu memegangi Bibi Sekar sampai di dekat mobil.
Paman Syafiq langsung melajukan mobilnya, pelayan masih terus menatap mobil yang dibawa Paman Syafiq sampai menghilang dari pandangannya.
"Semoga Den Rengky baik-baik saja," doa Pelayan sembari kedua tangannya menengadah ke atas lalu mengusap wajahnya dan berkata amin.
Aldebaran dan Heena juga panik saat mendapat kabar dari Paman Syafiq, bila Heena dan Aldebaran langsung mendatangi rumah sakit, berbeda dengan Paman Syafiq yang tadi harus pulang lebih dulu.
Heena dan Aldebaran sudah masuk ke ruang rawat Rengky, bila dilihat dari kondisi Rengky, luka-luka di tubuh Rengky tidak banyak, Heena dan Aldebaran bersyukur karena Rengky tidak separah yang keduanya pikirkan.
Tiba-tiba Rengky membuka matanya perlahan, Heena dan Aldebaran tersenyum melihat Rengky yang sudah sadarkan diri.
Rengky mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, masih tampak asing, Rengky memejamkan matanya, tiba-tiba sekelebat bayangan tadi saat ia kecelakaan melintas.
"Hah, hah! Di mana aku! Rengky bicara dengan nafas terengah-engah sembari melihat sekeliling.
Heena dan Aldebaran sudah panik mau menenangkan Rengky, namun tiba-tiba mendengar ucapan konyol.
"Aku belum mati, kan!" Rengky bicara keras sembari menarik pelekat selang infus di punggung tangannya, seketika kesakitan.
Ahhh!
Rengky meniup-niup punggung tangannya yang sakit.
Heena dan Aldebaran seketika menghela nafas panjang sembari menepuk jidat masing-masing, tingkah konyol Rengky benar-benar keterlaluan pikir Aldebaran, bagaimana bisa berpikir dirinya mati, apa Heena dan Aldebaran tidak kelihatan dimatanya pikir Aldebaran seraya menggelengkan kepala.
Heena menghela nafas seraya membantu untuk memasang lagi pelekat infus yang terlepas ke punggung tangan Rengky. "Kamu masih hidup, bagaimana bisa kamu berpikir sudah mati."
"Hehe, aku takut saja Heena, jadi aku pikir aku mati." Rengky terdiam dan bicara memastikan lagi, "Tapi beneran, kan, aku belum mati?"
"Kamu sudah mati!" sarkas cepat Aldebaran dengan cepat seraya balik badan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
Heena tersenyum geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya, yang satu takut mati, yang satu malah mengatakan mati.
Wajah Rengky langsung bersungut kesal mendengar ucapan Aldebaran yang berkata mati, tidak sadar bila tadi dirinya membahas mati, dan menyalahkan ucapan Aldebaran.
Heena sudah selesai membantu Rengky, tiba-tiba pintu terbuka dari luar, ternyata Bibi Sekar dan Paman Syafiq yang menyembul masuk ke dalam.
Bibi Sekar langsung berjalan cepat mendekati ranjang pasien, dan seketika memeluk Rengky yang masih berbaring, tangan Rengky mengusap punggung Ibunya, Bibi Sekar semakin menangis.
Heena mundur duduk di sofa bersama Aldebaran, Paman Syafiq berdiri di sebelah ranjang tempat Heena berdiri tadi, hatinya lega saat melihat keadaan putranya sudah baik-baik saja.
"Sayang kamu tidak apa-apa, kan?" ucap Bibi Sekar setelah melerai pelukannya dan kini menangkup wajah Rengky, menatap lekat wajah putranya.
Rengky tersenyum, bertanda dirinya baik-baik saja, dan Mamanya tidak perlu khawatir, Rengky meraih tangan Mamanya lalu mencium punggung tangan Mamanya.
Pintu ruangan kembali dibuka, kali ini seorang Dokter dan Suster yang mau masuk.
"Permisi?" ucap lembut Ayunda, setelah pintu terbuka lebar.
Deg!
Ayunda terkejut saat melihat Kakaknya Heena ada di dalam ruangan ini, Ayunda melihat semua wajah orang yang berada di ruangan ini, seraya masih diam berdiri dekat pintu.
Heena yang melihat reaksi Ayunda yang diam diri bukannya langsung memeriksa keadaan Rengky, ia jadi bingung.
*Ada apa dengan Ayunda.
Dia* ....
Batin Heena dan Rengky bersamaan.