
Setelah pertemuan waktu itu, Ayunda dan Heena sudah tidak bertemu kembali, karena memang adiknya yang sibuk bekerja sebagai dokter.
Hari-hari Heena ia lalui masih sama seperti biasa dan hanya dengan Yusuf ia bisa tertawa dan tersenyum.
Namun mulai hari ini akan ada perubahan,di mana yang biasanya hanya Heena yang menyandang status istri dari Michael Henderson, kini akan ada wanita lain yang akan mendapatkan hak yang sama dan status yang sama.
Heena berdiri di depan jendela kamar menatap mobil suaminya yang mulai ke luar gerbang.
Heena membalikan badan lalu mulai ke luar kamar dan menuju parkiran mobil.
Heena berfikir selagi dirinya bisa berusaha maka ia akan berusaha menggagalkan pernikahan kedua suaminya.
Heena hanya wanita biasa yang hanya menggunakan perasaan yang tidak ingin jika suaminya menikah lagi.
Heena mengendarai salah satu mobil dari deretan mobil mewah berjejeran di parkiran mobil yang berada di mansion tersebut.
"Nyonya ... Nyonya!" teriak sekuriti saat melihat Heena mengendarai mobil dengan kencang melewati gerbang.
Heena melajukan mobilnya untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Michael, namun sayangnya mobil itu sudah tidak terlihat.
Ah, sialan, umpat Heena.
Sementara di tempat lain, sebuah acara pernikahan sederhana sudah mau di mulai.
Pengantin pria dan wanita sudah siap duduk di depan pria yang akan menikahkan.
Acaranya berjalan dengan lancar namun saat para saksi mau mengucapkan kata sah tiba-tiba ada seorang wanita datang dan berteriak.
"Saya istrinya, saya tidak mengijinkan pernikahan ini ada!" Heena berjalan mendekati calon pengantin.
Ya, Heena tadi menghubungi sekertarisnya Mickael lalu ia meminta alamat tempat acara pernikahan Michael. Dan di sinilah Heena sekarang ia hadir untuk menggagalkan pernikahan Michael dengan Mawar.
Seketika Mickael langsung marah, dan semua orang yang hadir di ruangan tersebut mulai berbisik-bisik.
Mickael yang tidak ingin terlihat marah di hadapan banyk orang ia memendam amarah itu, dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Heena pergi.
"Lepaskan aku!" Heena memberontak, tangan Heena di cekal erat oleh dua orang pengawal lalu di seret ke luar dan dibawa pergi ke suatu tempat.
Setelah kepergian Heena, pernikahan itu di lanjut kembali, kini Michael dan Mawar telah menjadi suami istri.
Kedua pasangan baru itu terlihat sangat bahagia, bahkan tidak teringat keadaan satu istrinya di tempat lain dan keadaan putranya.
Keduanya sedang di mabuk cinta hingga malam hari masih berlanjut melakukan pergumulan panas.
Suara erangan dan ******* memenuhi seisi ruang kamar pengantin yang terhias indah.
Keduanya masih terus melanjutkan aktivitasnya untuk mencari kenikmatan.
Sang pria tampak menggerakkan tempo cepat sesuai permintaan wanitanya, dan dalam waktu bersamaan keduanya mendapatkan pelepasan hingga membuat keduanya mengerang kenikmatan.
Berbeda di tempat lain, seorang wanita kelopak matanya terlihat menghitam bertanda sudah lelah namun air matanya tetap terus mengalir tanpa mau berhenti.
Heena duduk di bawah pinggiran ranjang seraya memeluk kedua lututnya, ingatannya kembali pada kehidupan rumah tangganya yang benar-benar tidak mampu bila ia harus jalani untuk lebih lama.
Dadanya semakin terasa sesak ketika mengingat suaminya yang baru menikah lagi, membayangkan pengantin baru yang saling mencintai lalu berada di atas satu ranjang di malam hari. Bukan tidak mungkin pasti melakukan hubungan.
Aaaaaaa.
Heena menjerit sekencang mungkin, namun sekencang apapun jeritannya tidak akan terdengar hingga ke luar, karena ruangan itu kedap suara.
Heena benar-benar butuh seseorang yang saat ini bisa memeluknya dan menenangkannya mungkin seperti sahabat, namun sayangnya ia tidak memiliki sahabat, hidupnya sebagai Nyonya Henderson ia sangat di kenkang dan di atur.
Hatinya sakit, pikirannya tertekan ini lah saat ini yang Heena rasakan. Heena lalu mulai berusaha berdiri dan berjalan tertatih karena tubuhnya sudah kehabisan tenaga yang seharian belum makan dan ditambah menangis terus menerus.
Bersamaan dengan lampu menyala kini Heena menatap pantulan dirinya di cermin.
Heena tersenyum getir saat melihat penampilannya yang terlihat sangat tidak menarik.
"Bodoh!"
Plak.
Heena menampar wajahnya sendiri seraya berjalan mendekati meja rias.
Heena yang selama ini tidak memperdulikan penampilan karena di sibukkan dengan pekerjaan, karena meski ia seorang Nyonya, tetapi ia juga di suruh mengurus pekerjaan rumah oleh Michael, dan sengaja pria itu menaruh sedikit pelayan di mansionnya.
"Jelek ... sangat jelek." Heena kembali tersenyum getir melihat wajahnya dari dekat.
Heena melihat beberapa makeup yang berada di atas meja riasnya, namun saat mengambil salah satu makeup tersebut sudah masuk tanggal expired.
Arghhhh.
Sreeeeekkkk.
Heena menjatuhkan seluruh makeup tersebut di atas lantai, entah sudah berapa lama ia tidak menggunakan peralatan kecantikan tersebut.
Heena kembali menangis tubuhnya kembali meluruh ke bawah terduduk di atas lantai.
Bibirnya Kelu tidak sanggup berkata apa-apa walau ibarat hanya sekedar mengeluh, tangan dan tubuhnya bergetar suhu tubuhnya mulai menghangat dan kantung matanya semakin menghitam serta mata yang semakin bengkak karena tiada henti menangis.
Perlahan tubuh Heena ambruk di lantai dan mulai tidak sadarkan diri.
"Mama!"
Yusuf menggedor-gedor pintu kamar Heena dari luar, anak kecil itu merasa khawatir sama keadaan ibunya yang belum melihat ibunya ke luar kamar sejak siang ia pulang sekolah.
Tadinya Yusuf sudah tertidur namun terbangun dan teringat mamanya lalu berlari ke arah kamar mamanya sambil menangis.
"Mama! Huhuhu." Yusuf menangis pilu.
"Tuan Muda." Ane pengasuhnya menyentuh anak kecil itu seraya menenangkan.