HEENA

HEENA
BAB. 69. Penyesalan.



Masih di hari yang sama dan di waktu yang sama, seorang pria paruh baya duduk di atas lantai tanpa alas, kepalanya menunduk ke bawah, dan baru beberapa hari kerutan di dahinya bertambah.


Pria itu adalah Pak Muklis yang sedang meratapi nasibnya, menangis menyesali perbuatannya.


Jarum-jarum bagaikan menusuk hatinya sakit yang tidak bisa ia lakukan lagi, mengingat sebentar lagi akan tiba hari sidang, rasanya nafas tercekat seperti mati tidak lagi ada harapan, karena sudah pasti ia akan mendapat hukuman penjara.


Hiks hiks, Pak Muklis hanya bisa menangis, bahkan di saat seperti ini, ia membutuhkan Mulan putrinya, namun sayangnya Mulan sudah beberapa hari ini tidak datang menjenguknya.


Dan kesepian yang dialami Pak Muklis membuatnya jadi mengingat kejadian di masa lalu.


Saat itu, hari pertama Pak Muklis mengetahui bila Mulan telah mencintai Aldebaran. Tanpa sengaja Pak Muklis masuk ke kamar Mulan, ia menemukan album foto yang isinya semua foto-foto Aldebaran, Pak Muklis juga menemukan diary milik Mulan, yang langsung terkejut saat selesai membacanya.


"Mulan putriku mencintai Aldebaran," gumam Pak Muklis masih memegang diary dan album foto di tangannya.


Namun Pak Muklis tidak langsung bertanya dengan Mulan, karena ia ada pekerjaan di luar kota hingga membuatnya harus menunda berhari-hari.


Dan setelah pulang dari perjalanan bisnis, di waktu istirahat tidak sedang melakukan apa pun, Pak Muklis menghampiri Mulan yang saat itu sedang memainkan piano.


Pak Muklis tidak langsung menegur, tapi ia berdiam berdiri dengan mendengarkan lantunan musik piano yang Mulan mainkan.


Pak Muklis terus menatap Mulan, sampai ia melihat Mulan meneteskan air mata saat memainkan piano, sepertinya Mulan sangat menjiwai hingga terbawa suasana musik yang dia mainkan.


Dalam hati Pak Muklis bertanya-tanya kenapa Mulan sampai menangis, apa dia ada masalah atau hanya sekedar menjiwai musik yang dia mainkan.


Pak Muklis masih betah diam di tempat, sampai tiba Mulan selesai memainkan piano, namun Mulan semakin menangis tersedu-sedu.


Melihat hal itu, tidak bisa bila Pak Muklis hanya diam saja, Pak Muklis lalu berjalan mendekati Mulan, dan memegang bahu putrinya.


Mulan langsung terperanjat kaget saat tiba-tiba merasakan ada yang memegang bahunya.


"Ayah," ucapnya setelah melihat siapa yang memegang bahunya saat ini.


"Ayah." Mulan langsung memeluk Ayahnya dan menumpahkan rasa sedihnya.


Mulan menceritakan semuanya pada Pak Muklis tanpa terkecuali. Pak Muklis jad tahu semua yang terjadi dengan Mulan, dan setelah hari itu Pak Muklis berencana ingin membicarakan soal Mulan dan Aldebaran bersama Pak Bagas.


Pak Muklis mendatangi perusahaan milik Pak Bagas, keduanya saling bicara mengenai anak masing-masing.


"Aldebaran sudah memiliki kekasih, dan aku selaku Ayahnya tidak bisa ikut campur urusan anakku, meski itu adalah putrimu yang menyukai anakku Aldebaran."


Seketika tangan Pak Muklis terkepal, ia pikir apa sudah tidak berarti persahabatannya sampai lebih milih membiarkan Aldebaran bersama wanita lain, ketimbang bersama putrinya yang adalah Anak dari sahabatnya sendiri.


"Mulan gadis yang manis, dia pasti mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada, Aldebaran." Lanjut ucapan Pak Bagas.


Apa yang dikatakan Pak Bagas itu memang benar, tapi Pak Muklis tidak memikirkan sampai situ, karena saat ini yang ia pikirkan perasaan Mulan, pasti akan sangat sedih bila tahu Ayahnya tidak bisa membatunya melalui perjodohan, sementara Pak Muklis sudah berjanji dengan Mulan.


Tapi Pak Muklis tidak menyerah begitu saja, ia mengatakan bila seandainya wanita pilihan Aldebaran bukan gadis baik, mungkin saja menipu karena Aldebaran putra tunggal orang kaya.


Namun lagi-lagi Pak Muklis merasa tertampar dengan jawaban Pak Bagas.


"Kamu salah Pak Muklis, kami sekeluarga sudah sangat mengenal gadis itu, gadis yang baik, santun, dan juga ramah." Pak Bagas tersenyum seraya menyeruput secangkir kopi.


Pak Muklis merasa tidak ada celah lagi, tapi ia tidak akan tinggal diam, ia akan memikirkan cara lain supaya Aldebaran bisa bersama Mulan, tidak peduli bila ia harus berkorban, dan apa pun itu akan Pak Muklis lakukan demi Mulan.


Pak Muklis pamit ijin pergi, meski hatinya marah, tapi Pak Muklis mampu menguasai diri hingga tidak terlihat bila sedang marah.


Keduanya saling berjabatan tangan sebelum ahirnya Pak Muklis pergi dari ruang kerja Pak Bagas.


Dalam perjalanan pulang menuju kantornya, Pak Muklis terus mengumpat kesal, dan setelah pertemuan hari itu Pak Muklis dan Pak Bagas tidak lagi saling komunikasi, dan ternyata keretakan hubungan Ayahnya dan Pak Bagas di ketahui oleh Mulan.


Dan di hari itulah Mulan memohon supaya Pak Muklis tetap terus membantunya, hingga Pak Muklis melakukan cara yang salah.


Kembali di keadaan saat ini, Pak Muklis semakin sesak merasakan keadaannya saat ini, kini seperti karma menimpa dirinya, karena dulu Aldebaran yang tidak bersalah harus masuk penjara karena ulahnya.


Dan kini ia merasakan sendiri betapa tidak enaknya berada di penjara, suara Isak tangisnya menganggu teman sebelahnya yang saat ini sedang istirahat.


"Heh! diam lho!" Orang tersebut membentak Pak Muklis, pria yang biasanya dihormati kini bukan siapa-siapa lagi bagi orang lain.


Pak Muklis menghentikan tangisnya, tapi hatinya masih merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.


"Mulan, Ayah ingin bertemu denganmu, Nak." Pak Muklis menunduk bertumpu pada lengannya menahan Isak tangis.