
Keputusan Aldebaran mau beli rumah dan akan tinggal sendiri bersama calon keluarga kecilnya, sudah bulat, meski tadi Bibi Sekar sempat menolak dengan alasan akan kesepian bila tidak ada Heena, namun setelah suaminya menjelaskan bahwa penting bila Aldebaran harus belajar membangun rumah tangganya tanpa ada orang lain, ahirnya Bibi Sekar memberi ijin.
Setelah pembicaraan selesai, semua masuk ke dalam kamar masing-masing, karena waktu sudah semakin larut malam.
"Memangnya kamu mau beli rumah di mana?" tanya Heena yang saat ini menatap Aldebaran sembari tangannya mengusap-usap dada Aldebaran yang tanpa baju.
Aldebaran mengecup bibir Heena sekilas. "Tidurlah, bila aku beritahu bukan spesial namanya," ucapnya seraya terkekeh.
Hiss! Heena mencubit kecil pinggang Aldebaran, yang seketika terdengar suara tawa kencang Aldebaran, Heena memutar posisi kini menjadi membelakangi Aldebaran, namun Aldebaran langsung memeluknya dari belakang, dan keduanya terlelap melewati malam.
Keesokan harinya.
Rengky dan Ayunda menemui Aldebaran di ruang kerjanya, tidak lama kemudian setelah Rengky dan Ayunda tiba, Heena masuk ke dalam ruang kerja Aldebaran.
Sudah tidak kaget lagi bila Heena melihat Ayunda dan Rengky duduk bersebelahan, karena sudah tahu niat baik Rengky terhadap adiknya itu.
Namun saat tadi Heena diminta Aldebaran untuk datang ke perusahaan karena ada yang ingin Ayunda dan Rengky bicarakan, Heena sempat berpikir hal penting apakah sampai harus melibatkan dirinya dan Aldebaran, benar-benar tidak seperti biasanya.
"Sebaiknya aku bicara langsung saja, karena Kak Heena sudah datang," ucap Ayunda sembari melihat Heena dan juga Aldebaran.
Heena menunggu ucapan selanjutnya yang akan Ayunda bicarakan.
Tangan Ayunda bertumpu di atas pahanya, menatap lurus ke arah Heena. "Kak, tidak ada yang bisa aku ajak bicara selain Kakak, karena Kakak adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, sementara ibu sedang sakit aku tidak bisa membicarakan hal penting ini pada ibu."
Ayunda tiba-tiba menangis, dan hal ini membuat Heena bingung, namun saat Heena mau berdiri sama Aldebaran di cegah, Heena kembali duduk dengan perasaan bertanya-tanya menunggu kelanjutan yang akan Ayunda bicarakan.
Rengky yang duduk di sebelah Ayunda menenangkan Ayunda, setelah kembali tenang Ayunda bicara lagi, "Kak aku minta ijin untuk menikah, kami saling mencintai," jelas Ayunda, dan saat berkata mencintai, Ayunda memeluk Rengky dan kembali menangis.
Pernikahan adalah acara bahagia bagi semua orang, terutama bagi pengantinnya, namun sayang di acara sebahagia itu Ayunda harus merasakan tanpa Ayah dan Ibu, dan hal inilah yang membuat Ayunda menangis.
Sekarang Heena mengerti mengapa Ayunda menangis, walau tadinya sempat terkejut saat mendengar pengakuan Ayunda yang ingin menikah, Heena bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendekati Ayunda.
Rengky bergeser kini Heena duduk diantara Rengky dan Ayunda, Heena memeluk Adiknya itu. "Jangan menangis kamu berhak bahagia, bilang sama Kakak kamu mau perlu apa akan Kakak siapin," ucapnya sembari memeluk Ayunda.
"Tidak Kak, restu Kakak bagi Ayunda sudah lebih dari cukup," ucap Ayunda masih terdengar campur Isak tangis.
Heena mengusap punggung Ayunda. "Jangan menangis."
Setelah Ayunda jauh lebih tenang, Heena bicara dengan Rengky, untuk selalu bahagiain Ayunda dan tidak boleh menyakiti Ayunda. Heena juga mengancam Rengky bila menyakiti Ayunda akan berurusan dengan dirinya langsung.
Rengky menyetujui yang Heena ucapkan, dan pembicaraan siang itu selesai di tutup dengan tangis haru, Heena dan Ayunda kembali berpelukan sebelum ahirnya terpisah.
Heena tetap tertinggal di ruang kerja Aldebaran, setelah tadi pria itu mengatakan akan membuatkan pesta pernikahan buat Ayunda yang megah, tapi dengan syarat Heena siang ini harus menemani dirinya di kamar yang ada di ruang kerja Aldebaran.
Entah mendapat ide dari mana, sebelum Heena menjawab, tapi Aldebaran sudah mengkalim iya. Entah apa yang akan mereka lakukan bila hanya berdua saja di dalam kamar saat ini, hanya mereka yang tahu.
Rengky ingin memberikan yang terbaik dan yang terbagus untuk wanitanya, setelah beberapa kali gagal dalam hubungan asmara, kali ini yang berhasil sampai rencana akan menikah, tentu dirinya akan menunjukan sisi sayangnya yang benar-benar akan memberikan yang terbaik.
Sampainya di butik, Rengky menggandeng tangan Ayunda untuk berjalan bersama masuk ke dalam.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh pemilik butik, dan diantar masuk ke ruang VIP. Tidak berselang lama ada pelayan butik datang membawakan beberapa gaun pengantin, semua deretan gaun pengantin yang di bawa oleh pelayan tadi, sangat cantik semua di mata Ayunda.
Ayunda menatap kagum, sampai bingung harus milih yang mana.
"Kamu mau pilih yang mana, hem?" tanya Rengky yang saat ini berdiri di samping Ayunda yang masih menatap kagum ke arah deretan gaun pengantin.
"Sayang, ini semua sangat bagus, dan aku bingung," ucap Ayunda sembari menunjuk deretan gaun pengantin yang ada di hadapannya.
"Bagaiman bila kamu mencobanya satu per satu, dan aku yang akan menilainya."
Mendengar ide yang diberikan Rengky, Ayunda mengangguk, kemudian dengan dibantu pelayan butik, Ayunda akan mencoba satu per satu dari sepuluh gaun pengantin termewah yang ada di butik ini.
Sebenarnya ini bagi Ayunda terlalu berlebihan, meski dirinya seorang dokter tapi gajinya akan tetap kurang untuk membeli gaun pengantin mewah ini, apa lagi tabungan yang sudah terkumpul selama ini sudah terkuras habis untuk membayar hutang ibunya.
Ayunda keluar dari ruang ganti di bantu pelayan, gaun pertama yang Ayunda pakai tidak cocok menurut Rengky, gaun kedua juga tidak cocok, sampai gaun ketiga, keempat dan kelima juga belum cocok menurut Rengky.
Rengky ingin tertawa melihat wajah lelah Ayunda yang bolak balik harus berganti pakaian, tapi ia tahan tidak tega dan kasian.
Saat ini Rengky sedang berdiri membelakangi pintu ruang ganti, karena sedang berbicara di hp bersama Jordi asistennya.
"Tuan."
Rengky memutus sambungan telepon saat mendengar suara pelayan butik memanggilnya, dan saat Rengky berbalik matanya langsung terpesona melihat kecantikan Ayunda dengan balutan gaun pengantin yang pas dan sangat cantik, benar-benar perfek.
"Bagaiman Tuan?" tanya pelayan itu saat mendapati Rengky belum memberi komentar dan masih diam.
Sementara Ayunda tersenyum semanis mungkin, dalam hati berharap Rengky suka dengan gaun yang ia pakai saat ini, karena jujur Ayunda sudah lelah bila harus balik ganti lagi, ini adalah gaun pengantin yang keenam yang ia coba.
"Ya, aku suka, aku pilih yang ini."
Mendengar kalimat yang Rengky ucapkan seketika Ayunda senyum bahagia sembari merentangkan tangannya, Rengky mendekat lalu keduanya saling berpelukan.
Dua pelayan yang membantu Ayunda tadi, hanya bisa saling pandang karena mereka masih jomblo. Sabar sembari elus dada.
...****************...
...Mohon dukungannya ya kak💖 beri bintang 🌟 lima dibagian penilaian. Juga like, vote, dan komen....