
"Siapa yang menikah?" ulang pria itu seraya berjalan mendekati dua jagoan kesayangannya.
"Papa."
"Paman."
Ucap Rengki dan Aldebaran secara bersamaan.
Ketiga orang tersebut kini sudah duduk di ruang keluarga.
Dengan berat hati, ahirnya Aldebaran bercerita dan mengaku bila dirinya kini yang sudah menikah.
Awalnya Papa Syafiq terkejut dengan yang Aldebaran ucapkan, namun beberapa detik kemudian Papa Syafiq mampu menguasai dirinya lagi.
Aldebaran menceritakan kejadian sebenarnya, dan Papa Syafiq mendengarkan dengan serius.
Setelah menimbang-nimbang permasalahan Aldebaran, kini Papa Syafiq mengambil keputusan. "Ajak istrimu itu untuk tinggal bersama kita."
"Istri saya sudah punya anak." Aldebaran menjelaskan lagi.
"Tidak masalah, asal dia wanita baik." Papa Syafiq meyakinkan.
"Saya akan bicarakan dulu dengan dia, Paman." Keputusan Aldebaran selanjutnya.
Papa Syafiq mengangguk, ia juga tahu tidak boleh terlalu jauh ikut permasalahan keponakannya itu.
Obrolan keduanya selesai saat Aldebaran meminta ijin mau masuk kamar, karena ingin menghubungi Heena.
Sampai di dalam kamar, Aldebaran langsung menghubungi Heena, namun ternyata tidak nyambung, hingga beberapa kali ia melakukan sambungan telepon juga tetap tidak aktif.
Ahirnya Aldebaran memilih untuk menemui Heena, Aldebaran menyambar jaket dan kemudian ke luar.
Aldebaran melajukan mobilnya dengan cepat, hingga beberapa menit mobil sampai di rumah Heena.
Aldebaran mengetuk pintu rumah Heena berkali-kali, namun tidak ada yang menyahut.
Ada sekitar lima belas menit Aldebaran berdiri di teras rumah Heena, namun juga tidak ada tanda-tanda Heena akan ke luar.
Ahirnya Aldebaran memutuskan untuk pergi, Heena saat ini berada di dalam mobil, sedang mengantar Yusuf dan Ane pulang.
Tidak menunggu lama, mobil taksi sampai di rumah Yusuf yang baru.
Heena berpamitan dengan Yusuf langsung karena tidak bisa ikut masuk, Heena akan langsung pergi.
"Hati-hati, Mam." Yusuf mencium pipi Heena.
Heena dan Yusuf saling melambaikan tangan, sebelum ahirnya Heena pergi dengan mobil taksi tadi.
Aldebaran saat ini menghentikan mobilnya di sebuah restoran, ia berjalan masuk untuk makan malam.
Saat masih menunggu pesanannya tiba-tiba, ada wanita yang menghampirinya dan melingkarkan tangannya di lengan Aldebaran.
Aldebaran melihat siapa orang itu, yang ternyata Mulan. Aldebaran menghela nafas panjang, merasa di mana pun selalu dihantui oleh kehadiran Mulan.
"Al, aku ikut makan malam ya." Mulan tersenyum manja ke arah Aldebaran.
Mulan yang melihat Aldebaran makan, sampai terbengong. "Kamu laper banget, Al."
Aldebaran tetap melanjutkan makannya, dan tidak peduli dengan pertanyaan Mulan, pikirnya cepat selesai makan ia akan cepat pergi.
Dan benar saja, saat Mulan mau menyantap makannya, Aldebaran yang sudah selesai makan langsung berdiri dan ingin pergi.
"Al, mau kemana." Mulan menahan tangan Aldebaran.
"Mau pergi aku ada urusan." Aldebaran melepas tangan Mulan yang memegang tangannya.
"Tapi aku belum selesai makan, Al." Mulan berdiri dan menatap punggung Aldebaran yang saat ini tengah menghentikan langkahnya.
Aldebaran balik badan, dan menatap Mulan. "Habiskan, akan aku bayari sekalian."
Setelah bicara seperti itu, Aldebaran langsung berjalan cepat menuju kasir dan membayar tagihan.
Mulan tidak bisa tinggal diam, ahirnya tidak jadi makan dan lebih menyusul Aldebaran.
Aldebaran yang berkata kenapa Mulan harus mengikutinya, namun Mulan mengatakan tidak terlalu lapar hingga lebih milih pergi bersama Aldebaran. Wanita aneh pikir Aldebaran.
Aldebaran yang ingin mendatangi rumah Heena lagi, jadi ia urungkan bila Mulan harus ikut, semua akan jadi berantakan.
Ahirnya Aldebaran tidak jadi pergi dan meminta Mulan untuk melanjutkan makannya dengan ia temani.
Mulan tentu bahagia, dan senang hati ia kembali ke mejanya tadi bersama Aldebaran, dan melanjutkan makannya.
Mulan disela-sela makannya sambil bercerita kesehariannya tadi, namun Aldebaran hanya menjawab hemm, tidak juga menimpali ceritanya.
Setelah menunggu beberapa saat ahirnya Mulan selesai makan malamnya.
Awalnya Mulan tidak ingin diantar pulang, namun setelah Aldebaran membujuknya karena ada urusan penting, dan tidak bisa mengajaknya, ahirnya Mulan mengerti dan mau diantar pulang.
Tepat pukul delapan malam, mobil sampai di rumah Mulan.
Aldebaran langsung melajukan kembali mobilnya, Mulan melihat mobil Aldebaran yang terlihat semakin menjauh.
"Seperti ada yang disembunyikan dia," gumam pelan Mulan. Yang kemudian terus masuk ke dalam rumah.
Mulan masuk ke dalam kamarnya. Melihat Mading yang isinya semua foto Aldebaran, Mulan mengoleksinya dan menempelkan di Mading tersebut.
Mulan kemudian berkaca, melihat pantulan dirinya sendiri, ia lihat dari wajah sampai bawah.
"Apa aku tidak cantik, mengapa Aldebaran tidak menengok padaku," ucapnya sendu, sedih mengingat cintanya yang sudah lama sejak masih sekolah SMA sampai sekarang, bahkan perasaan itu tetap sama besarnya tidak berkurang.
"Apa aku tidak pantas untuknya," ucapnya lagi seraya merapihkan rambutnya. Matanya sudah penuh genangan air bening, setiap kali mengingat kisah cintanya selalu membuat Mulan menangis, baginya cinta harus miliki, dengan segala cara yang dapat ia lakukan.
Namun sepertinya takdir selalu berkata lain, baru saja Mulan merasa bisa bersama Aldebaran lagi, namun karena rencananya yang salah malah membuat Aldebaran menikah dengan wanita lain.
Mulan berjalan mendekati ranjang tidur, masuk ke dalam selimut, menangis terisak di sana.
Aldebaran yang saat ini sedang melajukan mobilnya menuju rumah Heena, tiba-tiba Asisten Dika menelpon dan mengatakan ada hal penting yang mau dibicarakan.
Terpaksa Aldebaran memutar balik arah untuk menemui Asisten Dika yang katanya sudah mendapatkan semua pelaku rencana pembunuhan Papa Bagas.