
Kenapa Heena? ada apa denganmu, bahkan kamu pergi tanpa peduli denganku lagi, kamu tidak tahu bagaimana susahnya aku ingin bertemu denganmu, untuk memperbaiki hubungan kita, batin Michael yang kemudian terus berjalan pergi dari kafe tersebut dengan langkah gontai tidak semangat.
Di rumah sakit.
"Aku, aku siapa hahahah, aku tidak sakit hahahah."
"Ibu tenanglah, Ibu." Ayunda memeluk Ibunya dengan erat, dua suster yang lain juga membantu memegangi kaki Ibu Jamilah supaya tidak gerak.
Satu suster lagi mulai menyuntikkan obat tenang di lengan Ibu Jamilah.
"Aku sehat ... aku sehat hahaha?" teriakan Ibu Jamilah dan semakin lama semakin melemah pelan-pelan mulai tidak sadarkan diri.
"Ibu ..." Ayunda menangis masih memeluk Ibunya yang kini terlelap karena pengaruh obat.
Tiga suster yang lain ke luar, kini menyisakan Ayunda dan Ibu Jamilah saja, Ayunda belum membaringkan tubuh Ibunya, ia masih mendekapnya seraya menciumi puncak kepala Ibunya.
Air matanya sudah jatuh tak tertahan lagi, sungguh Ayunda tidak menyangka bila Ibu tercintanya akan menjadi seperti ini, selama ini Ayunda tahu bila Ibunya gila harta dan memiliki banyak hutang.
Tapi tidak pernah berpikir bila Ibunya akan memiliki sakit kejiwaan, dan melihat Ibunya dalam kondisi seperti ini, sungguh Ayunda sangat sedih.
Semakin pilu Isak tangis Ayunda saat mengingat dirinya tidak bisa lagi berbuat apa-apa, itu lah sebabnya tadi ia menghubungi Heena untuk datang ke rumah sakit tempat ia bekerja.
Saat ini Ayunda butuh seseorang untuk ia ajak bicara mencari solusi dari masalah ini, karena tidak ingin Ibunya seperti ini terus.
Ayunda masih berharap bila Ibunya akan sembuh. Ayunda mulai membaringkan tubuh Ibu Jamilah, lalu ia selimuti sampai batas leher.
"Ayunda." Heena masuk dengan tergesa dan langsung memeluk Ayunda.
Di peluk Heena, tangis Ayunda kembali pecah saat beberapa detik lalu ia sudah tenang.
"Ibu Kak, Ibu ..." Ayunda bicara bercampur tangis di pelukan Heena.
Heena mengusap punggung Ayunda. "Tenanglah Ibu pasti sembuh." Heena mensupport Ayunda supaya tidak sedih lagi.
Heena melerai pelukannya dan menangkup wajah Ayunda seraya tersenyum, Ayunda mengangguk, mereka berdua sama-sama menoleh ke arah Ibu Jamilah.
Heena mendekati Ibu Jamilah dan mengusap wajah Ibu Jamilah. "Ibu cepat sembuh, kami anak-anak Ibu merindukan kasih sayang Ibu." Heena mendekatkan wajahnya mencium kening Ibu Jamilah.
Heena menjauhkan wajahnya perlahan, menatap lekat wajah wanita yang sudah membesarkan dirinya.
Yang ikut berperan dalam kehidupan yang ia jalani, sekejam dan sesakit apa pun yang pernah Ibunya torehkan di hatinya, Heena tidak pernah dendam.
Heena menidurkan kepalnya di dada Ibunya, tangan kiri ia lingkarkan d atas perut Ibunya, Heena menangis begitu sedih melihat Ibunya.
Mengapa Ibu harus milih jalan ini Bu, coba saja Ibu bisa merubah kebiasaan Ibu, pasti Ibu tidak akan seperti ini, sekarang Ibu dijauhi oleh teman, jangan seperti ini Bu, kembalilah jadi Ibunya Heena yang dulu, batin Heena.
Ayunda membuka pintu ruang tersebut, seorang dokter cantik bernama Fifa menyembul dari luar.
Dokter FIfa adalah dokter yang Ayunda panggil untuk memeriksa keadaan Ibunya.
Dokter FIfa masuk kedalam, Heena kembali di posisi semula, Dokter FIfa mulai memeriksa Ibu Jamilah.
"Bagaiman Dokter keadaan Ibu saya." Ayunda bertanya saat Dokter FIfa sudah selesai memeriksa Ibu Jamilah.
Dokter Fifa menatap Ayunda dan berkata serius. "Sebaiknya kita tunggu sampai Ibu Anda siuman, saya mau lihat perkembangannya, bila sakitnya serius terpaksa harus kita obati di rumah sakit jiwa."
"Kami akan berusaha sebaik mungkin." Dokter Fifa mengangguk kemudian ijin pergi.
Setelah kepergian Dokter FIfa, Ayunda juga ijin pergi, karena harus ada pasien yang ia tangani, Ayunda meminta Heena untuk menjaga Ibunya sebelum pergi.
Setelah semua tidak ada di ruangan ini, hanya ada Heena dan Ibu Jamilah. Heena berjalan ke arah sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.
Heena membaringkan tubuhnya, badannya yang terasa lelah dan juga kurang fit tapi tetap ia paksa untuk di bawa ke luar, perlahan Heena mulai memejamkan mata.
Di tempat lain.
Michael saat ini duduk di ruang kerjanya, tangannya memegang bingkai foto seorang wanita, sejak pulang dari kafe tadi, Michael terus kepikiran Heena.
Masih memikirkan apa yang membuat Heena pergi dengan cepat-cepat seperti itu. Mungkin rasa kepeduliannya buat Heena itu sudah telat.
Harusnya ia lakukan dulu sebelum bercerai, dan mungkin tidak akan sampai cerai, namun apa lah daya, penyesalan selalu muncul di belakang.
Dan saat ini rasa ingin memperbaiki hubungannya dengan Heena sangat kuat.
"Kamu belum menikah Heena, aku yakin kamu masih mencintaiku," gumam Michael dengan percaya diri seraya memandangi bingkai foto Heena. Yang tidak berpikir bahwa sebuah perasaan itu bisa berubah.
Saat ini cinta besok bisa saja tidak, dan Michael tidak terpikir sejauh itu, dan menganggap kesalahannya dulu tidak begitu membekas di hati Heena.
Michael sedang mencari cara untuk mengungkapkan perasaanya pada Heena, mungkin tadi kurang pas karena belum ada persiapan pikirnya.
Michael ingin membuat kejutan indah buat Heena, demi Yusuf putranya, pasti akan senang dan bahagia bila kedua orang tuanya kembali bersatu.
Michael senyum-senyum seraya terus memandangi bingkai foto Heena sembari memikirkan caranya yang pasti akan berhasil.
Di rumah sakit.
Heena yang masih tidur terlelap, terganggu dengan suara wanita berteriak-teriak.
"Hei aku tidak sakit! ini apa tempel-tempel di punggung tanganku." Ibu Jamilah melepas pelekat infus di tangannya.
Heena yang melihat Ibunya seperti itu langsung bangkit dan mendekati Ibu Jamilah.
"Ibu, Ibu jangan di lepas, Ibu." Heena panik dan mau berusaha mengembalikan di posisi semula, namun Ibu Jamilah mendorong Heena sekuat tenaga, hingga membuat Heena jatuh terjerembab di lantai.
Ahh! teriak Heena saat merasakan pantatnya sakit. Ibu Jamilah mendekati Heena lalu mencekal kuat rahang Heena.
"Kamu anak durhaka! kamu membiarkan aku terlilit hutang dan tidak mau membayar!" bentak Ibu Jamilah seraya semakin kuat mencekal rahang Heena.
Heena meringis kesakitan, bahkan ia tidak bisa bergerak, karena tubuhnya ditindih Ibu Jamilah, dan rasa seperti mau mati saat tangan kiri Ibu Jamilah mencekik leher Heena.
Ayunda tolong datang, Aldebaran tolong aku, Yusuf putraku, ahhh tolong aku, tolong aku, aku sudah tidak bisa bernafas, sakit! batin Heena berteriak, ia tidak bisa bicara karena lehernya dicekik dengan kuat oleh Ibu Jamilah.
Hahahaha!
Ibu Jamilah tertawa, menatap tajam ke arah Heena dengan nafas memburu disertai senyum menyeringai, semakin kuat Ibu Jamilah menekan, Heena sudah tidak kuat.
Brak!
Pintu ruang di buka kasar oleh seseorang, dan langsung menyingkirkan Ibu Jamilah dengan kasar. "Wanita sialan!"