
Heena mengucapkan terimakasih, yang langsung dibalas senyuman oleh Michael.
Deg!
Heena diam terpaku saat melihat Michael senyum ke arahnya, Heena menunduk lalu ke luar dari mobil.
Dari dalam mobil, Michael terus melihat Heena, hingga wanita itu masuk ke dalam tempat kerja.
Michael kemudian melajukan kembali mobilnya.
"Pagi semua," sapa Heena pada Tia dan Syifa.
"Heena, kamu begadang?" Tia melihat mata Heena yang menghitam.
"Iya, tadi malam aku tidak bisa tidur."
Obrolan ringan menyambut aktifitas pagi hari, semuanya mulai mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Di tempat lain.
Aldebaran kini sedang fokus di depan komputer, jemarinya terus mengetik mencari sesuatu, sesekali ia menatap pintu masuk untuk mewaspadai ada orang masuk, karena saat ini ia sedang berada di ruang kerja Pak Muklis, pemilik perusahaan ini.
Setelah menemukan yang ia cari, Aldebaran langsung menyalin semua data itu ke flashdisk, matanya terus mengawasi pintu masuk.
Kreekk!
Deg!
Aldebaran langsung segera mencabut flashdisk dan kemudian mengumpat di belakang hordeng, saat pintu itu dibuka dari luar.
"Hah, pagi-pagi ko sudah ngajak ribut," gumam Pak Muklis sembari berjalan masuk menuju meja kerjanya.
Karena sebelum masuk ke perusahaan di bawah tadi ada kegaduhan anak remaja yang membuat Pak Muklis telat sedikit masuk ke kantornya.
Merasa ingin buang air kecil, Pak Muklis pergi ke kamar mandi, dan kesempatan ini Aldebaran ambil untuk langsung ke luar dari ruangan tersebut.
Sampai di luar ruangan Aldebaran langsung berjalan cepat menuju lift, karena memang ruang kerjanya tidak berada dalam satu lantai.
Di dalam lift, Aldebaran masih mengatur nafas berkali-kali, pintu lift terbuka Aldebaran langsung melangkah ke luar dan masuk ke ruang kerjanya.
Sampai di ruang kerjanya, Aldebaran langsung memasang flashdisk di laptopnya.
Aldebaran membuka semua dalam data tersebut, membaca tanpa ada yang ia lewatkan.
Data agenda Pak Muklis yang lima tahun lalu berhubungan dengan perusahaan Al-Gazali Group.
Aldebaran berhenti seketika saat menemukan di tanggal yang sama Papa Bagas kecelakaan, Pak Muklis tidak berada di perusahaan, itu berati Pak Muklis sedang di luar, lalu apa yang di lakukan karena seharusnya berada di perusahaan menggantikan Papa Bagas yang lagi ada tugas di luar kota, pikir Aldebaran.
Aldebaran langsung menutup laptopnya saat mendengar suara Mulan yang menyapa masuk ke dalam ruangannya.
"Good morning, Al?" Mulan tersenyum, kini sudah berada di samping Aldebaran dengan melingkarkan tangannya di lengan Aldebaran, seraya memiringkan wajahnya untuk lebih leluasa menatap wajah Aldebaran dengan dekat.
Aldebaran tersenyum, demi melancarkan rencananya.
"Al, hari ini temani aku belanja bisa? soal kerjaan aku bisa bilang ayah jadi kamu tenang aja." Mulan memasang wajah memelas, melihat Aldebaran mengangguk, Mulan merasa senang.
"Ayo kita pergi, saat ini sedang ada pengeluaran tas branded yang baru, jadi aku harus beli," ucapnya penuh antusias seraya menggandeng tangan Aldebaran ke luar dan menuju ruang Ayahnya.
Setelah mendapat ijin dari Pak Muklis, mereka berdua langsung berangkat ke pusat perbelanjaan, di sepanjang jalan Mulan yang lebih banyak bicara, sementara Aldebaran hanya menjawab seperlunya dan lebih fokus menyetir.
"Tunggu sebentar lagi, ok."
Mendengar jawaban Aldebaran membuat hati Mulan merasa berbunga-bunga, tidak sia-sia perjuangannya selama ini mengejar pria idamannya, karena sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Mobil yang Aldebaran kendarai kini sudah sampai, Aldebaran ke luar mobil yang langsung disambut Mulan yang melingkarkan tangannya di lengan Aldebaran.
Aldebaran membiarkan semua ini tetap seperti ini, Mulan bergelayut manja di lengan Aldebaran, sementara Aldebaran berjalan cool dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana.
Sampai di pusat perbelanjaan, ketampanan Aldebaran menjadi pusat perhatian para wanita-wanita.
Mulan yang merasakan semua mata wanita-wanita berbisik memuji ketampanan Aldebaran, ia langsung marah.
"Bubar semua! tidak usah lihat-lihat!" bentak Mulan pada semua gadis-gadis tadi yang berbisik, hingga semua pergi.
"Mulan?"
Mendengar suara lembut Aldebaran, Mulan marahnya langsung mereda, dan kembali mendekati Aldebaran yang tadi sempat berjalan hingga beberapa langkah.
"Al, aku tidak suka mereka semua tadi melihatmu seperti itu," ucap manja Mulan seraya menunjuk tempat dimana tadi gadis-gadis berkumpul.
"Sudah-sudah, sekarang cari apa yang ingin kamu cari." Aldebaran membawa Mulan untuk berjalan menuju toko yang ingin Mulan datangi.
Hal sama terjadi lagi, saat Mulan dan Aldebaran berada di dalam toko tas dan sedang memilih-milih kesukaan Mulan, wanita-wanita lain yang juga berada di toko tersebut bisik-bisik memuji ketampanan Aldebaran.
Hah! apa segini susahnya sih, bila belanja bersama pria tampan, menjadi pusat perhatian wanita-wanita ganjen, batin Mulan benar-benar kesal.
"Sepertinya ini bagus, dan cocok untuk kamu." Aldebaran mengambil satu tas bewarna merah, tas branded pengeluaran terbaru.
Mendengar ucapan Aldebaran, Mulan kembali tersenyum, hatinya langsung jatuh cinta pada tas yang saat ini Aldebaran pegang.
"Baiklah, karena menurutmu ini bagus, maka aku ambil." Mulan tersenyum manis, kemudian menggandeng tangan Aldebaran, keduanya berjalan menuju kasir untuk membayar.
Siang itu setelah selesai belanja, Aldebaran dan Mulan makan siang sekalian, saat ini Mulan sedang pamit ke kamar mandi, Aldebaran mengangkat sambungan telepon, yang seketika wajahnya berubah marah saat mendengar penjelasan dari seseorang di seberang sana.
"Kirimkan segera semua email saya," ucap Aldebaran dan langsung mematikan sambungan telepon saat Mulan sudah kembali saat ini.
Aldebaran dan Mulan pergi meninggalkan tempat itu, keduanya kini berjalan untuk pulang kembali ke perusahaan.
Aldebaran yang sudah tidak sabar ingin segera mengecek yang tadi Asisten Dika kirim, kini ia sedang berpikir keras untuk mencari alasan pergi dari Mulan.
"Al, sepertinya aku langsung pulang deh, tidak apa-apa kan bila hari ini tidak aku temani kerja."
Ucapan Mulan seperti sebuah angin segar, kini Aldebaran tidak perlu mencari alasan untuk terbebas dari wanita itu, tapi Mulan yang sudah mengatakan pulang, Aldebaran langsung mengangguk cepat.
Menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, mobil Aldebaran sampai di kawasan perumahan elit.
Mulan ke luar mobil lalu melambaikan tangan sebelum mobil Aldebaran melaju.
Aldebaran segera melajukan cepat mobilnya, kini tujuannya bukan kembali ke perusahaan Pak Muklis, tetapi Aldebaran akan menemui Asisten Dika di perusahaannya sendiri.
Mobil sampai di kantornya, Aldebaran langsung berjalan cepat masuk ke dalam gedung, Syifa sampai kaget melihat Bosnya berjalan secepat itu.
Di ruang kerjanya, Aldebaran mengepalkan tangan.
Arghhhh!
Teriaknya saat kini benar-benar tahu bahwa Pak Muklis tersangka membunuh Papanya.