HEENA

HEENA
BAB 32. mengunjungi Yusuf.



Aldebaran mengantar Heena sampai depan rumah, ia kembali melajukan mobilnya menuju pulang.


Heena berjalan masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju kamar, meletakkan tas kecil yang ia bawa di atas meja rias, kemudian ia mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi Heena langsung berbaring untuk memejamkan matanya, namun sebelum itu ia sudah berpakaian baju tidur serta membersihkan make up.


Pagi hari.


Pukul enam pagi, Heena bangun, ia langsung mencuci muka lalu mengeringkan dan menuju dapur, ia membuat sarapan untuk dirinya sendiri dan juga bubur kesukaan Yusuf.


Hari ini adalah ahir pekan, rencana Heena mau berkunjung untuk menemui Yusuf.


Rasa rindu sudah membara, rasanya wajah mengemaskan Yusuf sudah menari-nari di pelupuk matanya.


Dengan semangat Heena menyelesaikan semuanya.


Pukul tujuh Heena selesai masak, lalu ia mandi, setelah mandi ia bersiap, sarapan dahulu lalu ia berangkat.


Hari ini Heena memesan taksi online. Berjalan menuju mobil yang sudah datang sembari menenteng bubur kesukaan Yusuf.


Di sepanjang perjalanan Heena terus tersenyum seraya membayangkan tawa putranya saat nanti bertemu dengannya.


Keadaan masih pagi, hingga membuat perjalanan tidak terlalu macet.


Mobil sampai di depan gerbang Mansion Henderson, Heena ke luar mobil lalu ia berjalan ke arah tempat bel.


Tidak lama satpam datang membukakan pintu gerbang.


"Nyonya?" menyapa kemudian menunduk.


"Tuan Muda ada?" Heena sedikit menengok ke arah Mansion.


"Ada, Nyonya."


Heena mengangguk lalu berjalan menuju pintu masuk, pelayan datang langsung menyambut kedatangannya. Dari arah dalam Yusuf sudah berlari saat melihat Mamanya datang dari arah jendela kamarnya, yang tadi ia sedang bermain di dekat jendela.


"Mama! Mama ..." Melihat Mamanya Yusuf berhenti berlari kemudian berteriak memanggil Mamanya, lalu kemudian berlari lagi dan langsung memeluk Heena.


Heena mengecup wajah tampan Yusuf tanpa ada yang tertinggal.


Heena membawa Yusuf untuk duduk di ruang tamu, Ane mengambil kotak berisi bubur yang Heena bawa, kemudian Ane membukanya dan memberikan lagi pada Heena yang ingin menyuapi Yusuf.


"Sayang, mau bubur? ini kesukaan Yusuf loh." Heena menunjuk bubur yang sudah di buka, mata Yusuf melihatnya kemudian tersenyum.


"Mau, Mama." Yusuf menjawab dengan semangat.


Heena mulai menyuapi Yusuf, sesekali Heena mengobrol dengan Ane, cerita Ane hari ini bahwa Mawar sedang tidak ada di Mansion.


Mendengar cerita Ane, Heena merasa lega itu artinya ia tidak perlu meladeni mulut pedas milik Mawar.


Michael tiba-tiba datang, Ane ijin undur diri, sejenak Michael melihat Yusuf yang sedang makan dengan lahap disuapi oleh Heena.


Heena melihat Michael yang masih berdiri menatap keduanya. "Kebetulan kamu datang, aku mau minta ijin membawa Yusuf bermain."


Mendengar mau di ajak bermain oleh Mamanya Yusuf langsung berteriak senang.


"Hole! main sama, Mama ..." teriaknya seraya mengangkat kedua tangannya ke atas lalu ia gerak-gerakkan.


Michael tersenyum sedikit hampir tidak terlihat saat melihat putranya yang begitu antusias. "Baiklah tidak masalah, yang penting pulangnya jangan malam."


Yusuf belum mandi, selesai sarapan bubur, Heena membawa Yusuf masuk ke kamar untuk dimandiin.


Tawa riang seraya bermain air, Yusuf sangat merasa senang pagi ini dimandiin oleh Mamanya.


"Mama?"


"Iya?"


cup.


Heena mematung tiba-tiba Yusuf mencium pipinya dan kemudian terdengar gelak tawa dari bibir putranya.


Hahahaha.


Heena memberi tatapan menyelidik yang malah membuat Yusuf semakin tertawa.


"Berani ya cium Mama tiba-tiba."


"Ah, Mama ... Mama." Yusuf kegelian saat tangan Heena menggelitik pinggannya.


Kamar Yusuf tidak ditutup pintunya, Michael yang berdiri di depan pintu kamar Yusuf mendengar canda tawa Yusuf bersama Heena di dalam kamar mandi sana, karena pintu kamar mandi juga terbuka hingga suara terdengar sampai luar.


Yusuf sudah selesai mandi, Heena menggendong Yusuf membawanya ke atas ranjang.


Mengelap tubuh Yusuf hingga kering, kemudian memakaikan baju yang sudah Ane siapkan.


Heena mengambil sisir yang kemudian menyisir rambut Yusuf.


Tepat pukul setengah sepuluh pagi Heena beserta Ane dan juga supir mengantar Yusuf untuk jalan-jalan.


Yusuf bernyanyi-nyanyi berdiri di dekat jendela, jemari tangannya membentuk garis abstrak di kaca mobil.


Tanpa mereka semua sadari, dari jarak yang sedikit jauh Michael mengikuti mobil mereka.


Tidak ingin ketahuan oleh Heena bahwa ia mengikuti, Michael mengambil jarak yang sedikit jauh.


Tidak lama kemudian setelah menempuh jarak empat puluh menit, mobil sampai di kebun binatang.


Yusuf antusias berlari menunjuk-nunjuk hewan yang ia lihat.


"Mama bulungnya bagus." Tunjuk Yusuf saat melihat burung yang sayap ekornya panjang.


Yusuf berjalan sembari mengandeng tangan Heena, kini berjalan menuju tempat gajah.


Heena naik di punggung gajah bersama Yusuf, gajah berjalan mengelilingi jalanan. Yusuf awalnya ketakutan namun lama-lama ia menjadi berani.


Di balik pohon besar, Michael mengintip interaksi Heena dan Yusuf, tiba-tiba hatinya merasa bahagia bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum, pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat.


Michael kembali sembunyi saat melihat Heena bersama yang lain berjalan melewati tempat yang tidak jauh dari persembunyiannya.


Michael menatap punggung Heena yang berjalan semakin jauh dari pandangan matanya.


"Mama kita mau ke mana cekalang?" Yusuf menatap Mamanya yang lebih tinggi darinya. Saat ini Yusuf sedang berjalan, karena tadi ia menolak saat Ane menawarkan mau menggendong.


Hari ini terlewati dengan rasa bahagia.