HEENA

HEENA
BAB 12. sekedar istri siri



Setelah kepergian Michael dan Yusuf, Heena ke luar kamar, tentu Mawar yang masih berada di ruang tamu setelah mengantar kepergian Michael, kini ia menatap Heena dengan sinis.


"Wanita murahan," Mawar meneriaki Heena yang sedang berjalan ke arah meja makan.


"Kau bilang tidak peduli lagi dengan suamimu itu, tapi apa? semalam kau menghabiskan malam dengannya!" Mawar menunjuk tanda merah di leher Heena, hatinya benar-benar geram melihat itu semua, tangannya terkepal.


"Oh, bukanya wajar kami kan masih suami istri." Heena menjawab santai sekalian memanas-manasi Mawar saat ini terlihat sangat marah.


Heena mengurungkan niatnya saat mau berjalan, ia membalikan badan lalu mendekat ke arah telinga Mawar. "Apa lagi tadi malam cuaca dingin banget karena hujan seharian, kamu pasti kedinginan."


"Jangan khawatir selimut tetangga masih banyak." Heena tersenyum kecil dan segera berlalu dari hadapan Mawar.


Mawar, wanita itu terus saja marah-marah, barang-barang di kamarnya ia berantakin hingga membuat ruangan itu seperti kapal pecah.


Marahnya semakin menjadi saat ia melapor ke Michael Tetang sikap Heena yang kurang ajar terhadap dirinya, pria itu hanya menanggapi santai beralasan masih sibuk di kantor.


Arghhhh.


Mawar melempar handphonenya ke lantai hingga membuat handphone tersebut pecah dan retak.


Mawar terus berjalan mondar-mandir di ruangan itu dan tampak berpikir caranya untuk membalas Heena.


Heena, wanita cantik itu saat ini sedang membuat kue, kue ulang tahun untuk Michael, meskipun pria itu sudah menyakitinya tapi ia berpikir sebelum ahirnya benar-benar pergi ia ingin tetap mengulang kebiasaannya yaitu membuat kue ulang tahun.


Heena, wanita itu mulai memikirkan caranya untuk bisa bercerai dengan Michael, soal Yusuf, mungkin Anaknya akan mengerti seiring waktu.


Heena yang sedang sibuk di dapur tidak tahu, bahwa saat ini sedang ada wanita lain yang memperhatikannya.


Mawar seperti memiliki ide untuk membalas Heena di depan Michael nanti malam.


Kini waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, tepat pukul tujuh malam Heena mendengar suara deru mobil yang dikendarai Michael sampai di halaman.


Yusuf sudah berdiri di pintu untuk menyambut Papanya, sedangkan Heena berjalan ke dapur untuk mengambil kue, tapi ....


Kue yang Heena buat dengan susah payah ternyata di rusak, kue itu hancur di tempat.


"Papa, happy birthday." Yusuf bersemangat saat mengucapkan.


Mawar mencium pipi Michael dan mengucapkan selamat.


Tapi kali ini yang menjadi pertanyaan Michael di mana Heena. Matanya mengedar keseluruhan ruangan tapi tidak menemukan sosok yang ia cari.


"Mama, di dapul, Papa." Yusuf membawa Michael menemui Mamanya.


Mawar ikut berjalan di belakang Yusuf dan Michael, bibirnya menyungging senyum dalam hati sudah tidak sabar melihat Heena di amuk lagi oleh Michael.


"Heena."


Heena yang masih berusaha memperbaiki kue itu, langsung terlonjak kaget saat sebuah suara yang sangat ia kenal menyebut namanya.


Heena belum membalikan badan, ia masih bingung harus memberi alasan apa yang tepat untuk mengatakan kepada Michael, sementara kedua tangannya sudah kotor terkena kue.


Michael bisa melihat bahwa malam ini Heena sedang berias sedikit, terlihat polesan lipstik di bibirnya.


Sementara Mawar sudah menanti adegan pertengkaran, namun kali ini yang ia lihat malah sebaliknya, hingga membuat matanya langsung terbelalak lebar bahkan semua rencananya hancur.


"Jemari tanganmu kotor, maka aku bersihkan." Michael meraih tangan Heena lalu menjilati kue yang menempel di jemari Heena.


Kedua mata itu saling bertemu, Heena tidak menyangka Michael bisa bersikap semanis ini.


"Ayo ucapkan selamat untukku." Michael meraih dagu Heena.


"Happy birthday, Suamiku."


Heena langsung terkejut saat Michael mencium bibirnya secara tiba-tiba, dan mungkin yang lebih terkejut wanita yang tadi menyusun rencana jahat.


Ehem!


Mawar berdehhem sangat keras, Michael melepas ciumannya seraya mengusap bibir Heena menggunakan ibu jarinya.


"Ganti pakaianmu, ikut aku malam ini."


"Papa, Yusuf boleh ikut," rengek Yusuf saat mendengar Papa dan Mamanya mau pergi.


Michael berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Yusuf. "Anak ganteng, Papa, di rumah aja ya."


Yusuf awalnya merajuk, namun setelah di beri pengertian Yusuf ahirnya mau di tinggal.


Sementara Mawar masih berdebat dengan Michael karena yang lebih mengajak Heena dari pada dirinya.


Michael menghela nafas panjang, saat Mawar juga tidak mengerti alasannya.


"Sayang, semua orang kolega bisnis aku yang diketahui istriku itu cuma Heena, dan kamu kan cuma istri siri aku, aku tidak bisa mengajak kamu."


"Yasudah mengapa kita tidak menikah secara negara juga." Mawar berdiri menatap Michael.


"Tidak bisa, Mawar, kamu lupa dengan perjanjian kita." Michael yang kesal langsung ke luar kamar meninggalkan Mawar.


Di luar Michael sudah mendapati Heena yang sudah siap, meski wajah itu tidak tersenyum namun di mata Michael malam ini Heena sangat terlihat cantik, cantik yang alami.


Mawar mengepalkan tangannya melihat mobil Michael yang sudah pergi meniggalkan Mansion dari atas balkon kamarnya.


Mawar merasa posisinya tidak berguna, ia marah benar-benar marah, bahkan hanya sekedar untuk makan malam bersama kolega bisnis ia tidak mendapat tempat, yang karena cuma sekedar istri siri.


Mawar menelpon seseorang untuk dirinya ajak curhat, namun yang ia dapat malah hinaan dari seseorang di seberang telepon sana.


"Bodoh!"


"Aku tidak bodoh." Mawar menjawab tidak kalah sengit.