
Heena merapihkan baju-bajunya, setelah ia pulang dari pengadilan.
Hanya pakaian yang terlihat masih bagus dan beberapa barangnya yang lain, ia masukkan ke dalam kopernya.
Heena meraih foto yang terbingkai kecil, foto dirinya dan Yusuf, lalu ia masukkan ke dalam koper.
"Wah, wah yang mau pergi dari mansion ini."
Suara Mawar yang menyindir serta tepuk tangannya, Heena tidak menanggapi wanita itu yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kau tuli tidak menjawab pertanyaanku!"
"Jauhkan tangan kotormu! dan jangan pernah sesekali mencoba menyentuhku!"
Heena langsung menepis tangan Mawar, saat wanita itu memegang bahunya, Heena membalas perkataan Mawar tidak kalah sengit.
Kini keduanya saling berdiri berhadapan dan saling menatap tajam, kali ini Heena tidak akan tinggal diam bila direndahkan lagi.
Cukup, cukup baginya selama ini ia mengalah hingga harus mengakhiri rumah tangganya, pengorbanan mana lagi yang belum Heena pertaruhkan.
Hahaha.
"Bahkan hidupmu akan sengsara setelah ini, Hahaha."
Plak!
Tawa di bibir Mawar langsung hilang bersamaan pipinya yang terasa panas karena bekas tamparan Heena.
Heena meraih rambut Mawar dan menarik rambut itu ke belakang hingga membuat wajah Mawar menengadah ke atas. Wanita itu terlihat meringis kesakitan.
"Bukan aku yang akan sengsara, tapi kau yang akan sengsara, camkan itu!" Setiap kata yang Heena ucapkan penuh penekanan, seraya membawa Mawar ke luar kamarnya.
Barak!
Heena menutup pintunya dengan keras dan langsung ia kunci supaya wanita iblis seperti Mawar tidak masuk lagi.
Di luar kamar, Mawar terus menggedor pintu itu, hatinya tidak terima setelah tadi rambutnya di Jambak oleh Heena lalu di tarik paksa ke luar, mulutnya terus mengumpat nama Heena.
"Heena, kau sialan! kau tidak berguna! akan aku balas perbuatanmu!"
Mawar dadanya bergemuruh, nafasnya naik turun dengan ritme cepat, ia benar-benar marah kali ini.
Menghentakkan kakinya dengan keras seraya pergi dari tempat itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul setengah satu Yusuf pulang sekolah, pengasuhnya langsung mengganti pakaian sekolah Yusuf dengan baju rumahan, serta menyuapi untuk makan siang.
Setelah selesai semuanya Yusuf bermain di dalam kamarnya, Heena menemui Yusuf dengan segala rasa sakit dalam hatinya, ia tidak akan pergi begitu saja, meski ia tahu Yusuf masih kecil, tapi ia akan berusaha menjelaskan pelan-pelan meski kemungkinan besar Yusuf pasti akan menangis.
Langkah demi langkah ia menguatkan hatinya supaya tidak runtuh saat nanti melihat kesedihan di wajah putranya.
Semakin mendekati pintu kamar Putranya, langkah kakinya semakin terasa berat, karena kali ini bukan kabar bahagia, melainkan kabar kesedihan.
Dan benar saja, sesat waktu berhenti seolah membekukan jiwa yang akan berpisah sebentar lagi.
"Sayang, sayang masih ada Papa bersama, Yusuf."
"Yusuf mau ikut, Mama. Yusuf, mau ikut, Mama ..." Yusuf melingkarkan tangannya di leher Heena, wanita itu semakin sakit, tidak! bukan seperti ini perpisahan yang Heena inginkan.
Heena lalu meminta Ane untuk menghubungi Michael supaya pulang siang ini.
Selama menunggu Michael datang, Heena terus membujuk Yusuf, memberi pengertian bahwa ia akan berkunjung seminggu sekali, dan akan mengajaknya bermain nantinya.
Namun tangis Yusuf semakin pilu, Heena hingga tidak sanggup mendengarnya, berat ya tentu berat yang dirasakan Heena mau pun Yusuf, Anak sekecil itu harus jauh dari ibunya, pasti seperti mimpi buruk, tidak! bahkan lebih pahit dari itu.
Ahirnya Michael sampai juga di Mansion, ia langsung berlari menuju kamar putranya, ia bahkan tidak menghiraukan panggilan Mawar terhadapnya saat melewati ruang tamu.
Michael berdiri mematung di tengah pintu, ia bisa melihat Putranya dan mantan istrinya yang baru beberapa jam lalu, kini sedang menangis sambil berpelukan.
Suara tangis keduanya mampu menyayat hatinya, mungkin saat ini ia pantas di bilang kejam karena sudah memisahkan Anak dan Ibu.
"Papa, huhuhu." Yusuf mendekati Papanya, Michael meraih tubuh putranya lalu menggendong Yusuf.
Dan kesempatan ini Heena manfaatkan, ia langsung berjalan ke luar dari kamar putranya ia sudah merasa tidak sanggup lagi, bukan tega tetapi ini jalan terbaik, hanya bisa berdoa sapa tau kelak bisa membawa Yusuf.
Melihat Mamanya ke luar kamar Yusuf langsung menjerit dan memanggil Mamanya.
"Mama ...."
Huhuhu.
Yusuf yang meronta ingin turun dari gendongan Papanya, namun Michael tahan, kini ia mengikuti Heena yang berjalan ke depan.
Heena sudah di bukakan pintu mobil oleh sekertarisnya Michael, untuk diantar ke rumah baru.
Heena langsung melangkah masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke arah putranya, karena tidak sanggup melihat tangis pilu Putranya.
"Mama ...."
Huhuhu.
"Maafkan, Mama. Sayang," gumam Heena. Mobil melaju meninggalkan halaman Mansion Henderson serta segala kenangan Heena selama lima tahun ini.
Di dalam mobil, Heena terus menangis tersedu, ia mensyukuri kebebasannya, namun hatinya begitu sedih harus terpisah dengan putranya.
"Yusuf ..." Heena menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit-langit mobil.
...****************...
Tiba malam hari. Ayunda yang mendapat alamat rumah baru Heena dari Michael, ia langsung mendatangi rumah baru Heena setelah selesai jam kerjanya.
"Kakak." Ayunda memeluk kakaknya yang terlihat rapuh itu, setelah Heena membukakan pintu.
Keduanya berjalan duduk di sofa di ruang tamu. Rumah ini tidak begitu besar juga tida kecil, bangunan yang nyaman, sebuah rumah minimalis, halamannya terdapat rerumputan dan bunga-bunga tertanam rapi.
Benar-benar pemilihan rumah yang pas dan tepat sesuai kesukaan Kak Heena, pikir Ayunda.
"Kak, Heena. Menangislah jangan di tahan, berbagilah rasa sakitku dengan aku Kak, Heena." Ayunda membawa tubuh Heena untuk bersandar di bahunya, memeluknya.