
Sehabis di periksa perawat Devi, Heena berbaring di ranjang sembari menonton TV, saat ini tayangannya mukbang rujak mangga di Trans7.
Ais aku jadi pengen, gumam Heena, seraya pandangannya tertuju ke arah TV, glek-glek menelan ludah dengan kasar.
Heena kemudian mematikan TV nya, berjalan keluar kamar menuju lantai satu, untuk mencari pembantunya mau menanyakan ada mangga tidak.
Sampai di dapur, Heena melihat pembantunya yang saat ini sedang mencuci piring.
"Mbak."
"Iya, Nyonya," jawab Tatik sang pembantu, menghentikan pekerjaannya, menatap Heena.
"Di kulkas ada mangga muda tidak mbak?"
"Tidak ada Nyonya, apa mau saya belikan di toko buah yang jualan di depan sana," ucap Tatik menawarkan diri.
"Boleh mbak." Heena memberikan selembar uang seratus ribuan.
Tatik langsung berangkat membeli mangga, Heena menunggunya duduk di kursi ruang keluarga.
"Haduh gimana ya, mangga mudanya kok tidak ada," ucap Tatik setelah sampai di toko buah.
Tatik kembali pulang dengan tangan hampa, tidak enak dalam hati tidak bisa membawa buah yang majikannya inginkan.
"Nyonya," sapa Tatik setelah berdiri di dekat Heena.
"Iya, mangganya ada?" tanya Heena saat Tatik sudah tiba, senyum di bibirnya memudar saat melihat pelayannya pulang tidak membawa buah yang diinginkan.
"Maaf Nyonya, buah mangganya lagi kosong," ucap Tatik seraya kembali menyerahkan selembar uang seratus tadi.
"Baiklah tidak apa-apa," ucap Heena, yang kemudian mengijinkan Tatik untuk pergi melanjutkan pekerjaannya, sedangkan saat ini Heena berpikir gimana caranya mendapat mangga muda.
Dengan wajah lesu Heena ahirnya menghubungi Aldebaran melalui Vidio cal.
"Hei, kenapa wajahnya sedih seperti itu?" tanya Aldebaran di sambungan telepon.
"Aku pengen rujak mangga," ucap Heena dengan wajah dibuat memelas mungkin.
Aldebaran di sana yang lagi membaca berkas penting di depannya, dirinya letakkan kini fokus menatap Heena.
"Lalu maunya gimana?"
"His!" Heena kesal di tanya Aldebaran seperti itu, menganggap Aldebaran tidak peka, kan Heena maunya Aldebaran langsung bicara ya akan aku carikan, bukan seperti itu.
Aldebaran terkekeh seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jangan ngambek lah, kan aku tidak tahu apa maumu."
Heena masih diam tidak mau menjawab, membuang muka dengan wajah di tekuk.
Kok jadi ngambek sih, haduh apa ya yang salah, batin Aldebaran masih menggaruk tengkuknya.
"Sayang ... Aku beliin mangganya, ya?"
Seketika Heena tersenyum saat mendengar kalimat yang Aldebaran ucapkan.
"Jangan lama-lama aku tunggu di rumah," jawab Heena tersenyum, Aldebaran di sana mengusap dada seraya menggelengkan kepala setelah menyadari keinginan Heena.
Sambungan telepon terputus, Aldebaran meninggalkan pekerjaannya, mementingkan Heena.
Aldebaran mencari mangga muda ditemani Dika, mobil yang yang Dika kendarai kini tiba di pusat toko buah.
Aldebaran masuk ke dalam toko tersebut, bersama Dika, banyak sekali buah-buahan yang di susun rapih di tempat tersebut.
Pelayan toko menghampiri Aldebaran saat melihat pria itu datang. "Tuan mau mencari buah apa? Bisa saya bantu?"
"Maaf Tuan untuk buah mangga mudanya lagi kosong, yang ada manga sudah masak," jelas pelayan toko tersebut, mendengar itu Aldebaran langsung menghela nafas berat, dan ahirnya pergi dari tempat tersebut.
"Kamu pernah lihat pohon mangga tidak?" tanya Aldebaran pada Dika, kini keduanya sudah berdiri di dekat mobilnya.
"Sepertinya saya tahu Tuan," jawab Dika, yang kemudian mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil, ingin menuju tempat yang Dika ketahui ada pohon buah mangga.
Aldebaran duduk di kursi penumpang, saat ini Heena sedang mengirim pesan.
"Sayang, sudah dapet belum buah mangganya?" Bunyi pesan Heena.
"Belum, sayang ini lagi mencari," balas pesan Aldebaran.
"Baiklah aku tunggu," balas pesan Heena disertai emot cinta.
Aldebaran menyimpan hp nya lagi di saku jas nya, melihat Dika yang saat ini masih menyetir mobil.
"Tempatnya masih jauh Dika?"
"Sebentar lagi sampai Tuan," jawab Dika seraya sedikit menoleh.
Dan benar saja setelah lima menit mobil yang Dika kendarai sampai di tempat tujuan. Pohon mangga itu berada di depan rumah, Aldebaran sendiri juga bingung mengapa Dika bisa tahu ada pohon mangga di sini pikirnya.
"Ini rumah siapa?" tanya Aldebaran pada Dika yang kini sudah sama-sama di depan pagar rumah tersebut.
"Beberapa hari lalu saat saya pulang kerja, saya bertemu seorang wanita tua, dan saya mengantar dia pulang, ini rumahnya," jelas Dika yang langsung mendapat anggukan kepala Aldebaran bertanda mengerti.
Pagar rumah itu tidak kunci, Dika dan Aldebaran masuk ke halaman rumah, Aldebaran berhenti di bawah pohon, melihat pohon mangga yang begitu tinggi, sementara Dika mengetuk pintu rumah tersebut, tidak lama kemudian pemilik rumah keluar.
"Eh, Nak Dika ada apa?" tanya wanita tua itu.
"Maaf Bu bila saya menganggu waktu istirahat Ibu, ini saya datang ke mari ingin meminta buah mangga muda," ucap Dika seraya tersenyum.
Wanita tua itu ikut tersenyum. "Boleh, Nak ambil saja tidak apa-apa."
"Terimakasih Bu," ucap Dika seraya menunduk.
"Tapi pohonnya tinggi kira-kira bisa manjat tidak?" tanya wanita itu kini berjalan di belakang Dika yang menuju pohon buah mangga.
Mendengar ucapan wanita tua itu, seketika Aldebaran dan Dika saling pandang, karena mereka berdua sama-sama tidak bisa manjat pohon.
"Soalnya cucu saya masih sekolah belum pulang, biasanya dia yang pintar manjat," ucap wanita tua itu lagi.
"Tuan bagiamana?" tanya Dika, bila Tuannya tidak bisa maka terpaksa dirinya yang akan memanjat pikir Dika.
"Aku coba dulu," jawab Aldebaran dengan mantap, buat istri dan anaknya yang saat ini menginginkan buah mangga muda, Aldebaran akan berusaha untuk mendapatkannya.
Aldebaran melepas jas hitamnya, ia berikan ke Dika untuk memegangnya, menggulung kemeja krim yang saat ini ia pakai, celana dasar yang dirinya pakai juga sedikit di gulung, supaya mudah dalam memanjat.
Aldebaran sudah memegang pohon, tapi ia urungkan untuk naik, tiba-tiba menoleh ke arah Dika. "Vidioin aku saat manjat pohon, mau aku tunjukkan ke istriku," ucapnya yang ingin pamer.
Dika menurut, bersaman Aldebaran yang mulai memanjat pohon, Dika memulai rekaman video, terlihat jelas bila Aldebaran kesusahan, kakinya saja sudah gemetaran, bahkan Aldebaran tidak berani melihat ke bawah, saat ini fokusnya untuk bisa berdiri di sebuah ranting pohon yang besar, supaya memudahkannya meraih buah mangga muda tersebut.
"Yes, berhasil," ucapnya dengan gembira, lima buah mangga muda berhasil Aldebaran ambil, karena buah mangga itu gerombolan, Aldebaran memutus tepat rantingnya, tidak ingin mangga itu kotor dan rusak, Aldebaran milih memasukkannya dalam baju, tidak peduli bila kemeja krim nya bakalan rusak terkena getah mangga.
Aldebaran kini sudah memanjat turun ke bawah, lima langkah lagi sudah sampai tanah, namun kaki Aldebaran terpeleset saat matanya melihat ulat di pohon mangga, Aldebaran geli.
"Ha! ulat!"
Brukk!!
"Tuan!" teriak Dika panik.