
"Aku tahu, aku keterlaluan karena membuatnya merasa kesepian. Aku bingung, Bu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku lelah, aku tidak ingin membuat Ignacia merasa lelah juga karena berkirim pesan padaku." Rajendra menunduk, memainkan jari-jari untuk tetap mengontrol emosi. Perasannya berkecamuk.
"Aku merasa seperti laki-laki paling jahat. Ignacia bahkan menangis sambil tersenyum di hadapanku. Awalnya dia mencoba untuk menenangkan aku, lalu tanpa sengaja dia menangis. Dia bilang jika--aku sangat merasa bersalah padanya." Pada dasarnya, Rajendra jarang sekali mengungkapkan perasaan buruknya pada orang lain. Bahkan hampir tidak pernah.
Hari ini pengecualian.
"Ignacia pasti sangat menyukai kamu, Rajendra," sahut ibunya dengan senyuman yang menarik atensi Rajendra. "Kamu tahu, pada beberapa kondisi, ketika perempuan sedang marah, sebagian besar dari kami kadang tidak memiliki tenaga lagi untuk meluapkan perasaan itu. Lalu pada akhirnya kami akan menangis. Ignacia mungkin tidak ingin menunjukkan marahnya padamu di hari bahagia kalian."
"Kenapa? Seharusnya dia bisa membagi segala yang ia rasakan padaku. Kami sudah lama berpacaran."
"Seperti yang ibu katakan tadi, Rajendra. Mungkin Ignacia lelah, jadinya dia menangis tanpa bisa dia kendalikan. Dahulu ibu juga pernah mengalaminya. Ketika ibu gagal, ibu sangat marah hingga akhirnya menangis."
Rajendra mengalihkan pandangan. Semarah apa Ignacia hingga menangis? Ibunya bangkit, meletakkan tangan di bahu anaknya untuk menguatkan. Dia diingatkan lagi kenapa dahulu dia ingin mengambil pendidikan yang sekarang ia jalani. Alasan kenapa Rajendra begitu mengejar pendidikan agar bisa menjadi sosok hebat untuk pujaan hatinya.
"Menyerah untuk memperjuangkan keperluan saat ini tidak akan membawa keberuntungan yang kamu cari. Berikan Ignacia apa yang dia inginkan, puaskan ego perempuan yang sudah kamu ajak menjalin hubungan. Berikan dia perhatian yang dia inginkan dan diam-diam teruslah bekerja keras untuk kalian di masa depan. Kamu mengerti?"
...*****...
Sinar matahari yang masuk lewat cela tirai jendela mengusik tidur Ignacia. Tangannya lama-lama terasa panas karena garis bercahaya itu. Perlahan matanya terbuka, menyadari jika sekarang sudah waktunya untuk bangun. Ignacia mendudukkan badannya perlahan, melihat sekitar kamarnya sekilas.
"Tidurku cukup," bisiknya.
Belum sempat ia bangkit dari tempat tidur, musik aneh tertangkap oleh indra pendengarannya. Suaranya mirip musik klasik dengan aura kerajaan. Kepala Ignacia langsung membuat skenario aneh tentang dirinya yang adalah seorang bangsawan, bangun di pagi hari dengan iringan lagu kerajaan.
Dengan senyuman kecil, Ignacia turun dari tempat tidurnya. Berniat mencari asal suara yang didengarnya ini. Siapa orang iseng yang memainkannya pagi-pagi begini? Tidak begitu pagi, tapi hitungannya masih pagi karena belum lewat pukul sembilan bagi Ignacia.
Langkah kaki Ignacia diarahkan ke halaman belakang. Disana, pintu kaca yang langsung menuju taman terbuka. Jika dilihat-lihat sejak tadi seperti tidak ada orang di rumah. Apa Ignacia ditinggalkan keluarganya karena bangun kesiangan? Akan mendekati pintu, suara musiknya semakin jelas.
Mozart.
Ignacia mengintip dari pintu. Di samping tanaman-tanaman kesayangan kedua orang tuanya, si gadis yang masih berwajah bantal itu melihat sebuah tikar yang digelar. Apa yang ada disana tidak terlihat jelas karena terhalang tanaman. Hanya ujung tikarnya saja yang terlihat. Di halaman juga tidak ada siapapun. Kemana perginya semua orang?
Si gadis turun dari dapur menuju rerumputan halaman. Kaki polosnya merasa tergelitik karena menginjak tekstur yang tidak biasa. Ignacia terlalu malas mengeluarkan sandal kayu yang digunakan keluarganya untuk pergi ke halaman. Jumlah sandalnya pas, ada enam, berarti tidak ada orang disini.
Begitu didekatinya tikar disana, Ignacia langsung menutup mulutnya karena terkejut. Kue buatan Ignacia dan Rajendra ada disana. Diletakkan di tengah meja berbahan kayu dan dikelilingi oleh camilan lainnya. Keberadaan minuman dingin di dalam kotak cooler membuat Ignacia yakin jika sekarang sedang ada piknik.
Musik klasik yang ia dengar masih saja mengalun, menemani Ignacia yang mematung bahagia. Karena terlalu bahagia, Ignacia sampai tidak menyadari kemunculan beberapa orang di belakangannya. Dua diantaranya membawa party pooper, mereka nyalakan setelah aba-aba.
"Kak Ignacia, selamat ulang tahun!" Seru mereka kompak.
Ignacia yang tidak siap pun jadi terkesiap. Refleks mencari asal suara dan mendapati kelima anggota keluarganya tengah berdiri membawa balon berwarna hitam putih polos. Ignacia ingat jika orang tuanya mengirimkan hadiah ulang tahunnya sebagai sebuah paket besar. Ada yang dari ketiga adiknya dan kedua orang tuanya, tentu saja.
"Aku sudah berulang tahun," terang Ignacia dengan suara kecil. Hatinya bahagia meksipun ulang tahunnya memang sudah lewat.
"Tidak, belum. Kakak hanya mendapatkan hadiah, perayaannya belum. Sekarang ulang tahun kakak bagian dua," timpal adik pertama Ignacia. Athira merangkul kakaknya yang sedikit lebih tinggi, memutar tubuhnya dan didudukan di tikar. Anggota keluarga lain mengikuti duduk melingkari meja.
"Kita tidak bernyanyi selamat ulang tahun juga?" tanya Arvin. Tidak mungkin Arvin percaya jika kakaknya sedang berulang tahun kan? Namun melihat reaksi dan pertanyaannya, anak ini kelihatan polos sekali. "Ayo nyanyikan selamat ulang tahun juga," ajaknya kemudian.
Ayah Ignacia yang ada di sisi lain meja menggeleng. Seorang bangsawa merayakan ulang tahunnya dengan makan-makan tanpa nyanyian selamat ulang tahun. Sekarang Ignacia tahu siapa yang memainkan musik klasik itu. Bahkan musik itu masih mengalun hingga saat ini. Entah darimana ide itu.
Karena Ignacia adalah pemilik kue yang ada di hadapan mereka berenam, mamanya menyerahkan sebilah pisau kue dengan pita di gagangnya. Prosesi pemotongan kue bahkan diabadikan oleh Athira menggunakan ponselnya. Potongan pertama Ignacia berikan pada sang fotografer dadakan yang ada di sampingnya. Anggap saja imbalan untuk video yang menyertakan penampilan khas bangun tidur Ignacia.
Potongan kedua untuk ayahnya, selanjutnya untuk sang mama, dan dua potong terakhir untuk kedua adik laki-laki Ignacia yanhs yang menunggu sejak tadi. Sementara itu kuenya masih tersisa setengah. Ignacia berharap bisa berbagi kuenya dengan Rajendra. Kue ini dibuat karena ide kelas kuenya.
Masih dengan musik latar klasik, keenam keluarga ini memulai piknik. Ayah Ignacia mengoper minuman dingin dari dalam cooler juga sebagai pelengkap. Pembicaraan yang ada hanya seputar guyonan aneh sang ayah tentang konsep piknik ala bangsawan. Minum dengan kelingking yang diangkat, makan kue dengan suapan kecil, dan hal lainnya yang diperagakan dengan aneh.
Ignacia berbisik pada mamanya, bertanya kenapa ayahnya tiba-tiba ingin menjadi bangsawan. Lantas mamanya memberitahu jika kue yang Ignacia bawa ini dilihat ayahnya begitu elegan karena desainnya minimalis. Jadi di kaitkan dengan bangsawan yang elegan.
Keempat anggota keluarga Ignacia terlalu sibuk bercanda ria, jadi tidak menyadari kegiatan bisik-bisik Ignacia dengan mamanya. Ignacia kembali makan kuenya, diam-diam sambil memikirkan Rajendra. Kekasihnya pasti akan senang bisa makan kue ini bersamanya.
"Meja ini dapat darimana?" Ignacia bertanya pada ayahnya.
"Tentu saja beli. Ayah membeli meja yang masih mentah lalu mengecatnya. Bagaimana? Bagus kan?" Salah satu cara untuk mendapatkan harga yang tidak tunggi. Melihat ukuran meja yang tidak kecil, kelihatannya harganya agak mahal.
Kegiatan piknik dilakukan kurang lebih tiga jam. Padahal hanya makan, minum, dan bercanda saja. Keberadaan Arvin dan Rafka membuat pembicaraan terus mengalir karena banyak yang mereka tanyakan soal taman dan nama-nama tanaman yang ada disana. Dengan ingatan seperti gajah ayahnya menjelaskan sejelas mungkin.
Kuenya tidak di habiskan agar bisa makan siang. Arvin dan Rafka melewati sarapan karena ingin makan kue, jadi sebaiknya mereka makan karbohidrat sekarang. Ayahnya tidak habis akal agar liburan anak gadisnya kali ini lebih menyenangkan dan bermakna. Agar peran ayahnya tidak tergantikan juga dengan orang lain.
Ayahnya mengeluarkan kompor portable yang entah kapan dibeli, tak lupa dengan teflon datar, mentega, kuas untuk memasak, juga sosis yang sudah ditusuk. Lalu Athira membawa wadah berisi saus untuk sosis bakar yang sudah disiapkan. Athira bilang jika mereka menyiapkan ini pagi-pagi sekali sambil menunggu Ignacia bangun.
Arvin berlari dari dalam rumah, memanggil Ignacia untuk membantu di dapur. Mamanya meminta bantuan untuk membuat spaghetti . Arvin menolak keras makan nasi melihat ayahnya yang sedang membakar sosis. Daripada bertengkar, akhirnya mamanya membuat spaghetti saja. Ignacia diminta untuk mengupas bawang dan memotongnya.
"Dari kapan kalian membuat kue? Setekah bersepeda?"
Ignacia mengangguk, menjelaskan rute kencannya kemarin. Tanpa memberitahu tentang kejadian di restoran. Mendengar cerita menarik anaknya, sang mama tersenyum kecil. Kencan anaknya berjalan lancar.
Proses pengerjaan makan siang mereka cukup cepat karena mama Ignacia menggunakan saus yang sudah jadi. Hanya perlu diberikan pelengkap seperti bawang putih, bawang bombai, paprika, dan lain-lain sebagainya. Selanjutnya dituangkan ke atas spaghetti yang sudah direbus. Diletakkan di tempat yang besar agar nanti bisa diambil ke piring masing-masing.
Makan siangnya juga akan dilakukan di meja halaman belakang. Kebetulan pohon di belakang mampu membuat bayangan hingga semua orang bisa berteduh. Jika nanti matahari semakin panas, pintu dapur masih bisa dibuka seluas mungkin agar masih bisa menghirup udara segar.
Piknik ini berhasil membuat Arvin dan Rafka tidak memainkan ponsel sama sekali. Athira bisa lepas dari kuas serta cat, berhenti berdiam diri di kamar dan berjalan-jalan di sekitar perumahan. Ignacia tidak lagi membaca buku atau hanya berdiam diri di kamar yang sepi.
Keluarga kecil ini bisa berkumpul akibat piknik.
Ignacia membawa wadah kaca berisi spaghetti sementara mamanya membawa alat makan. Minuman dingin diganti air mineral. Sudah cukup minum minuman kemasan untuk hari ini. Athira dipanggil untuk membawa teko berisi air mineral bersuhu ruangan. "Aku berharap kita bisa membuat piknik ini setiap kakak liburan. Sebagai refreshing keluarganya," ucapnya memberitahu pada yang ada di dapur.
"Kalau begitu kita akan bisa makan sosis setiap aku pulang," sahut Ignacia sambil berjalan keluar dapur.
Ignacia melihat kedua adik laki-lakinya tengah sibuk membantu ayahnya. Rafka meletakkan sosis baru di atas teflon sementara Arvin mengoleskan saus pada sosis yang belum dibakar. Angin yang lebih kencang dari sekedar semilir datang, sedikit menganggu proses memasak sosis ketika laki-laki keluarga Ignacia. Karenanya Athira diminta cepat-cepat meletakkan teko yang ia bawa dan beralih mengambil payung di dekat pintu depan.
Spaghetti sudah sampai di meja, sosisnya belum semuanya dibakar. Anggap saja sosis bakar buatan ayah itu sebagai topping tambahan. Arvin menganggur, tugasnya sudah selesai hanya perlu menunggu. Matanya kemudian mendapati kakaknya menatap ke arah sosis yang selesai dibakar.
"Kakak mau?" tanya Arvin. Ia langsung mengambil sosis yang dikiranya sudah dingin, diberikan pada kakaknya. Ignacia tidak ingin menolak, tapi rasanya tidak adil jika dia makan duluan dari orang yang memasaknya.
"Rasanya enak, kakak coba saja." Tidak enak jika menolak pemberian. Lagipula dia bukannya ingin makan dahulu tanpa sengaja. Setelah dicoba, rasanya enak seperti kata Arvin. Perpaduan saus, sosis, dan pembakarannya pas di lidah gadis yang masih memakai pakaian tidur itu.
Tak butuh waktu lama bagi Athira untuk kembali dengan payung. Dia letakkan di dekat kompor untuk menjaga nyala api. Saat duduk di samping Ignacia, Athira mendapatkan satu suapan sosis dari kakaknya. Katanya akan lebih enak jika sausnya terasa sedikit pedas. Sebagai penambah sensasi saja.
Makan siang dimulai bersamaan dengan selesainya aktivitas membakar sosis. Ada obrolan menarik ketika spaghetti mulai dibagikan. Ayah Ignacia ingin mengajak keluarganya berlibur ke alam terbuka lagi. Mungkin mengunjungi pantai waktu itu atau mencari gunung yang bisa digunakan untuk berkemah. Mumpung memiliki kompor portabel katanya. Tidak dalam waktu dekat, kira-kira liburan Ignacia selanjutnya.
Mendengar ucapan ayahnya yang ingin mengajak keluarganya berlibur jauh ketika liburan kampus selanjutnya, Ignacia jadi merasa seperti tokoh utama. Hari ini saja dia bangun dengan perasaan berbunga-bunga akibat perlakuan menyenangkan keluarganya. Musik klasik, piknik, makan siang diluar ruangan, dan obrolan hangat. Semuanya bisa terjadi karena ide ayahnya setelah melihat kue di dalam kulkas.
Tidakkah keluarga Ignacia menjadi sangat manis? Dahulu mungkin Ignacia sering merasa sendiri. Namun kali tidak lagi. Kepulangannya seolah selalu dirindukan. Rencana liburan saja dilakukan saat Ignacia kembali ke rumah untuk liburan. Ignacia berharap bisa cukup berani untuk mengucapkan terima kasih pada semua anggota keluarga yang sudah bangun lebih awal dM menyiapkan semua ini.
Angin berhembus pelan, membuat berisik dedaunan yang menjadi payung keluarga ini. Balon hitam putih polos yang ada di dekat pohon juga bergerak. Matahari perlahan ditutupi kapas tebal bernama awan, membuat suasananya sejuk seperti kota tempat Ignacia menuntut ilmu.
Andai kehangatan ini bisa Ignacia bawa ke dalam asrama dinginnya kala Rajendra sibuk berkutat dengan dunianya sendiri. Dengan begitu Ignacia akan bisa mengalihkan pikirannya dari perasaan sakit ke hal-hal yang lebih menyenangkan.
"Kak, coba balut sosis dengan spaghetti-nya seperti ini." Athira menunjukkan caranya membalut sosis yang sudah dia potong untuk satu gigitan. Dengam bangga dia lalu memakan makanannya dengan lahap. "Sekarang kakak cobalah," pintanya.
"Haruskah?" goda Ignacia.