Beautiful Monster

Beautiful Monster
Dia Monster



"Sampai jumpa lagi, Ignacia."


Tata melambaikan tangan hingga mobil yang dipesannya melaju menjauhi lobi mall. Dia ingin mengantar Ignacia sampai di stasiun, namun mereka akan datang stasiun yang berbeda dan memiliki jam keberangkatan yang berbeda pula. Tata harus pergi lebih dahulu.


Ignacia juga membalas lambaian tangan itu hingga Tata tidak terlihat lagi. Senyumannya pudar setelah Tata pergi. Suasana hatinya menjadi lebih baik daripada sebelumnya berkat Tata. Gadis beraura menyenangkan itu berhasil membuatnya kembali merasa bahagia.


Sudah waktunya Ignacia untuk pulang. Keretanya akan datang sekitar satu jam lagi. Perjalanan ke stasiun akan memakan waktu dua puluh menit jika jalanan tidak ramai. Jadi lebih baik kembali lebih awal agar tidak terjadi keterlambatan.


Stasiun lenggang seperti saat dia datang. Mudah mendapatkan tempat duduk untuk menunggu kereta datang. Dibukanya ponsel, melihat beberapa panggilan yang dilakukan seseorang ketika dia masih berada di mall. Ignacia tidak ingin bicara dengan orang itu selama bersama Tata. Takut jika air wajahnya terlihat begitu jelas oleh temannya.


Panggilan terakhir datang sekitar satu jam yang lalu. Orang itu pasti sudah menyerah dan lebih memilih melanjutkan aktivitas. Atau mungkin dalam perjalanan pulang dari kegiatan seminggu penuh yang melelahkan. Ignacia hanya bisa berharap jika semuanya berjalan lancar. Setidaknya untuk hari ini saja.


Kereta sampai sesuai jadwal. Kali ini Ignacia tanpa memakai kedua tiketnya saja sudah mendapatkan bonus kursi kosong lain di hadapannya. Jadi posisinya sekarang ada empat kursi kosong yang menjamin moodnya stabil hingga sampai di kota.


Di tengah keheningan, pikiran Ignacia melayang pergi. Ingatan lama kembali ditemani beberapa lagu baru yang dia dengarkan melalui airpods bluetooth miliknya. Lagu-lagu dari masa lalu dan lagu-lagu yang baru dirilis artis kesukaannya. Ignacia paham maknanya hingga mengaitkannya dengan ingatan.


"STAYC girls, it's going down"


Oh Ignacia ingat dengan lagu ini.


"Ngomong -ngomong, ya, aku membutuhkanmu,"


"Bahkan jika itu seperti teka-teki, tidak apa -apa,"


"Aroma yang mengingatkanku padamu sangat biru,"


"Hanya kamu yang tahu artinya,"


Ignacia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kereta, memejamkan mata dan mengambil nafas dalam-dalam. Dengan perlahan dia keluarkan lagi untuk menstabilkan emosi. Mungkin sudah waktunya tamu bulanannya datang. Suasana hatinya menjadi tidak jelas seperti remaja.


"Manisnya sikapmu, Kata -katamu manis,"


"Bahkan sinar matahari yang hangat,"


"Terkadang dingin karena aku melakukannya,"


"Bahkan jika aku memelukmu, i'm so cold,"


"Aku butuh keberanian atas nama cinta,"


"Ya, aku tahu, yeah, kau adalah monster yang cantik,"


"Kau menyakitiku dan kemudian kau menyembuhkanku,"


"Ya, aku tahu, ya, kau adalah monster yang cantik,"


"Love is ooh-ooh, love is ooh-ooh,"


Lagu 'Beautiful Monster


Lagu yang menggambarkan tentang sisi tersembunyi dari cinta termasuk ketakutan dan ketidakpastian yang biasanya terjadi dalam kehidupan percintaan remaja. Mengungkapkan tentang seseorang yang dianggap sebagai penyebab sakit hati karena telah menyakiti namun juga seketika dapat menjadi obat karena menyembuhkan hati yang terluka.


"Sekali saja, tolong jadilah laki-laki, yeah eh,"


"Pikiranku menjadi kosong,"


"Ini bukan permainan, ini bukan pertunjukan,"


"Mimpi bahagia ini ku impikan sendiri,"


"Ini rumit, kau lebih baik siap atau tidak,"


"Ini membuat frustasi karena kau di luar kendali,"


Kenapa Ignacia jadi mengingat Rajendra? Laki-laki itu pernah menyakitinya, tapi kemudian menyembuhkan Ignacia yang terluka. Selalu saja seperti tarik ulur aneh dalam hubungan. Rajendra sibuk dengan dunianya, Ignacia harus mencari dunianya sendiri. Lalu Rajendra datang, menarik Ignacia.


"Tarik ulur seperti tarik tambang," gumam Ignacia sambil menatap bangunan-bangunan yang dilewati kereta.


Omong-omong, duduk di kereta membuat Ignacia mengingat sesuatu. Dahulu Rajendra pernah bilang jika dia ingin menjadi pilot ketika dewasa. Namun seiring bertambahnya usia, dia lebih ingin menjadi masinis secara tiba-tiba. Ignacia tidak terlalu paham kenapa dia berubah pikiran, tapi ya silahkan saja.


Di samping itu, Rajendra belum pernah bertanya soal cita-cita Ignacia sejak pertama menjalin hubungan. Salah satu alasannya yaitu karena Ignacia memang tidak suka membahasnya. Dia berpikir jika membahas cita-cita dapat membebaninya sendiri.


Karena dia pun bingung ingin menjadi apa di masa depan.


Orang tuanya ingin Ignacia menjadi guru, dosen, atau tenaga pengajar lain. Sementara Ignacia lebih ingin menjadi penulis atau entahlah, dia belum terpikirkan apapun. Selama ini yang dia lakukan hanya membaca novel. Cita-cita juga seperti monster yang cantik bagi Ignacia. Membuatnya senang berjuang, tapi juga membuatnya terluka.


"Haruskah aku mengikuti keinginan orang tuaku saja? Setelah ini aku harus mencari jurusan kuliah."


Ujian kelulusan sudah semakin dekat. Hari kelulusan juga menjadi semakin dekat. Satu bulan berjalan seperti hanya dua Minggu. Tiba-tiba sudah sampai di tanggal ini saja.


Stasiun kotanya masih jauh. Perjalanannya saja satu jam lebih. Hanya musik yang dapat menemaninya selama itu. Tidak ada yang mengajaknya bicara seperti yang disukai Ignacia. Tidak seperti saat berangkat tadi. Ada beberapa orang yang bertanya kenapa bangku di sebelahnya kosong.


...*****...


"Kakakmu sudah dalam perjalanan pulang? Coba hubungi lagi, Athira. Kakakmu tidak menjawab panggilan mama sejak tadi. Coba hubungi hingga diangkat."


Wanita yang kakinya masih terasa ngilu itu meletakkan ponselnya ke atas nakas. Memperhatikan dengan penuh harap anak keduanya yang menyalakan ponsel untuk memenuhi perintahnya.


"Kakak mungkin lelah, Ma. Mama tahu sendiri jika setiap hari kakak hanya mengurung diri di kamar untuk membaca novel. Kakak mudah lelah karena jarang berolahraga."


Meskipun begitu Athira tetap melakukan perintah mamanya. Tatapan mamanya yang penuh harap sedikit membebani. "Tapi kenapa sampai tidak mengangkat telfon?"


Hanya terdengar nada tunggu lama dari ponsel Athira. Kakaknya juga tidak mengangkat panggilan seperti sudah direncanakan sebelumnya. Athira menunjukkan layar ponselnya pada sang mama, "kakak mungkin berdesakan di stasiun dan tidak mendengar suara dari ponselnya."


"Kakakmu pasti tidak bisa memaafkan mama. Kami berjanji untuk pergi bersama," sesal sang mama, "apa yang bisa mama lakukan untuk menebusnya?"


"Kakak bukan anak kecil, Ma. Kakak pasti sudah merasa baik-baik saja meskipun tidak ditebus apa-apa."


...*****...


Daripada hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun, Ignacia memilih untuk membuka novel yang baru dia dapatkan. Melihat tandatangan dari penulis kesukaannya membuat senyuman manis muncul di wajahnya. Ditambah lagi dia memiliki foto dengan Tata yang diambil menggunakan photobooth saat berada di mall.


Diabaikannya semua pesan dan panggilan dengan menyalakan mode pesawat. Toh dia dalam perjalanan pulang. Tidak perlu ada yang bertanya karena sebentar lagi dia juga akan sampai. Kenapa orang-orang membutuhkan dia setiap waktu?


Seperti yang terjadi siang ini ketika masih bersama Tata. Mamanya menghubungi, ayahnya menghubungi, Athira juga menghubungi. Tujuannya berlibur adalah untuk meninggalkan ponsel dan menikmati hari. Kenapa orang-orang sibuk menghubungi dan menganggunya?


Beruntung Tata tidak keberatan dan tidak mempersalahkan keluarga Ignacia yang agak mengekang dengan mengatasnamakan rasa khawatir.


...*****...


Kereta berhenti di stasiun kota Ignacia. Novelnya ditutup. Sudah habis satu bab. Masih kurang sembilan belas lagi. Keseruannya harus terpotong karena begitu kereta berhenti, dia harus sibuk mencari kendaraan umum yang bisa mengantarnya pulang. Malas jika harus menghubungi ayahnya untuk dijemput.


Yang ada dia mungkin dimarahi karena mematikan ponsel.


Ignacia merapikan barang-barangnya, dimasukkan ke dalam tas selempang yang dibawa. Mengecek semuanya dengan benar kemudian berdiri menuju pintu keluar. Masih ada waktu beberapa detik hingga para penumpang diperbolehkan turun. Ada beberapa orang di dalam gerbong. Ignacia tidak bisa menyela.


Lebih baik terakhir keluar saja. Toh ada waktu untuk turun meskipun terakhir.


Ignacia menatap tali sepatunya yang terlepas. Rencananya akan dia benarkan setelah turun dari kereta. Menunggu beberapa orang di depannya tidak begitu lama. Ignacia terus saja menunduk untuk memastikan dia tidak salah pijakan, juga untuk memastikan tidak ada yang menginjak tali sepatunya.


Baru saja turun dari kereta, seseorang sudah menghalangi jalan Ignacia. Seseorang berdiri tepat di hadapannya. Entah mengapa sepatu yang digunakan orang ini terlihat sangat familier. Ignacia perlahan mengangkat pandangannya, matanya benar melihat seseorang yang dikenalnya selama bertahun-tahun.


Laki-laki sibuk itu datang.


"Kenapa kamu tidak menyalakan ponsel? Aku mengirimkan pesan, dan kamu tidak memeriksanya. Aku menelfon, tapi ponselmu tidak aktif. Kamu membuat orang-orang khawarir. Kamu membuatku khawatir, Ignacia!"


Nada bicaranya berubah tinggi dengan sorot mata tajam. Wajahnya memerah karena amarah. Seperkian detik kemudian sorot matanya berubah-sendu?


Apa Ignacia sedang tertidur di dalam kereta dan bermimpi? Ignacia harus segera bangun.


"Aku khawatir," ulang orang di hadapannya dan langsung memeluk Ignacia yang mematung.


Dekapan Rajendra terasa sangat nyata. Pertanda Ignacia tidak bermimpi di dalam kereta. Ignacia membiarkan kepalanya berada di dada bidang Rajendra, merasakan kehangatan yang dirindukannya. Ignacia merindukan kekasihnya.


"Selamat, kamu berhasil melakukan perjalanan sendirian. Bagaimana acara penandatanganan bukunya? Kamu akhirnya berhasil bertemu dengan penulis kesukaanmu. Penulis Cream, benar? Kamu pasti senang sekali."


Ignacia tersenyum, Rajendra tahu nama penulis kesukaannya.


Perlahan Ignacia membalas pelukan Rajendra. "Siapa yang mengatakan nama penulis kesukaanku padamu? Aku belum pernah membahas Nona Cream denganmu."


"Aku ingat judul buku yang kamu beli denganku hari itu dan menemukan nama penulisnya. Bagaimana harimu, Ignacia? Apa menyenangkan? Sedang apa saja kamu tadi?"


"Aku harus menceritakan semuanya padamu? Dengan posisi ini?" Ya maksudnya, ayolah, mana mungkin Ignacia akan bercerita dengan posisi mereka yang masih berpelukan. Mana pandangan orang-orang pada keduanya juga tidak begitu ramah.


"Aku diminta menjemputmu kemari. Mamaku khawatir sekali. Bagaimana jika bicara sambil makan malam? Setelahnya aku akan mengantarmu pulang." Pelukannya melonggar. Ignacia dapat melihat wajah Rajendra dengan sangat jelas.


"Kamu tidak lelah? Kamu baru pulang."


"Energiku kembali setelah memelukmu."


Lagu milik StayC benar. Dia memang monster yang cantik.


...*****...


Ignacia bercerita soal mamanya yang terjauh akibat ulah Rafka tengah malam tadi. Soal ketidakseimbangan bertemu dengan Tata hingga akhirnya keduanya berteman. Bahkan mereka seperti teman lama yang akhirnya kembali bertemu. Rajendra cukup terkejut saat Ignacia membahas soal Tata.


Yang dia tahu, selama ini Ignacia hanya bicara dengan Nesya. Mana pernah Ignacia bicara dengan orang lain saking canggungnya dia. Tapi sekarang dia bahkan berteman dengan orang yang baru dia temui.


"Nesya memberitahuku jika kamu pergi sendirian. Itu membuatku takut dan khawatir. Seharusnya kamu pergi dengan mamamu, tapi keadaan berubah secara mendadak. Aku menelfon, tapi kenapa kamu tidak mengangkatnya?"


Ignacia sedang mendapatkan omelan sekarang?


"Aku sedang bersama Tata."


"Itu bukan alasan, Ignacia. Orang-orang di rumah khawatir denganmu. Tidak ada yang ingin kamu pergi sendirian, tidak ada yang ingin kamu mematikan ponsel."


"Iya, aku minta maaf," Ignacia menunduk, menatap makanannya tanpa selera, "aku hanya ingin menikmati hari dengan teman baruku. Aku ingin merasakan liburan. Kamu dan Nesya sibuk, jadi aku hanya bisa pergi sendirian."


Rajendra menatap meneduhkan, tangannya bergerak untuk mengelus surai panjang Ignacia. "Kami hanya khawatir karena kamu belum pernah melakukan perjalanan sendirian. Dunia ini terlalu kejam, kami khawatir. Kami tidak bermaksud untuk menganggu liburanmu."


"Iya, aku mengerti."


"Maaf membuatmu harus terjebak denganku. Mamaku sangat merepotkan mu hari ini. Seharusnya kamu bilang saja jika kamu lelah setelah kegiatan seminggu penuh. Mamaku pasti akan mengerti dan menyerah."


Ignacia merasa tidak enak sudah merepotkan kekasihnya karena ulah sang mama. Ignacia kecewa dengan orang-orang yang tidak bisa ikut dengannya ke acara penandatanganan buku dan Rajendra ada di dalam daftarnya. Tapi mamanya malah membuat Rajendra terjebak dengannya.


Rajendra menggeleng sambil mengambil kembali tangannya dari atas kepala Ignacia, "aku senang bisa membantumu. Aku juga ingin memastikan apa kamu pulang dengan baik. Kamu tidak bilang padaku jika pergi sendirian."


"Aku tidak ingin menganggumu."


"Mengirimkan kabar itu bukan menganggu, Ignacia. Bagaimana jika tadi Nesya tidak bicara padaku jika kamu pergi sendirian? Aku mungkin tidak akan pernah tahu. Kamu kekasihku, seharusnya aku yang lebih tahu kamu lebih dari siapapun."


"Kalau ingin lebih tahu tentangku, berhentilah sibuk dan mulai bermain denganku lagi, Rajendra. Selalu saja ada urusan MPK jika berurusan denganku."


"Aku sudah bukan ketua MPK lagi, Ignacia. Sekarang, status yang kumiliki hanya seorang siswa dan kekasihmu."


Ignacia tidak bisa menahan senyum begitu mendengar kata terakhir yang Rajendra ucapkan. Laki-laki ini tentu sangat sadar dengan apa yang dikatakannya. Keduanya saling lempar senyum dan akhirnya terkekeh bersama.


"Aku suka status yang terakhir itu," gumam Ignacia.


"Aku juga menyukainya," Rajendra ikut-ikutan.


Kembali makan, menyelesaikannya dan pulang. Rajendra butuh istirahat, Ignacia juga. Keduanya lelah setelah melakukan kegiatan. Rajendra harus mengisi kembali energi dengan sungguhan. Lalu Ignacia butuh tidur setelah membaca.


Di motor, Ignacia hanya bisa memeluk tubuh Rajendra. Aroma tubuhnya sungguh membuat Ignacia candu. Ada sedikit keinginan agar jalan pulangnua lebih jauh hingga bisa lebih lama bersama Rajendra. Tapi sayangnya dalam sekejap mata, Ignacia sudah sampai di depan rumahnya.


"Cepatlah masuk dan istirahat. Akan aku hubungi setelah sampai di rumah. Tidurlah yang nyenyak, Ignacia."


Ignacia mengangguk, diam-diam memberikan ciuman di pipi Rajendra tanpa mengatakan apapun. Sebaiknya di cepat pergi karena Rajendra tersenyum melihat tingkahnya. Ah senyuman manis yang selalu disukai Ignacia.


"Tidak bisakah aku mendapatkan monster yang hanya bisa menyembuhkan tanpa membuat sakit hati? Kurasa Rajendra terlalu cantik untuk menjadi monster," batin Ignacia.