
Rajendra mengantarkan Ignacia hingga sampai di depan asrama. Mana mungkin Rajendra tega membiarkan gadis yang di ajaknya pergi seharian pulang tanpa pendamping. Bahkan ketika turun dari bus pun keduanya tidak ingin melepaskan gandengan. Kenapa malam datang begitu cepat? Ignacia masih ingin bersama dengan laki-laki favoritnya.
"Hubungi aku ketika kamu sudah sampai di hotel," pesan Ignacia. Dia menolak untuk melepaskan genggaman meskipun Rajendra sudah berusaha untuk mengambil alih tangannya dengan lembut. Dia mengangguk pada ucapan Ignacia, masih dengan usahanya untuk melepaskan tangan Ignacia.
"Rajendra, setelah sampai di hotel, cepatlah membersihkan diri dan istirahat. Besok pagi kita akan pergi dengan temanku dan kekasihnya, kamu ingat?"Rajendra mengangguk lagi. Usahanya akan sia-sia karena Ignacia benar-benar tidak ingin melepaskan. Jika Rajendra bersikap kasar, Ignacia mungkin akan merasa sedih dan tidak nyaman.
"Besok kita masih bisa bertemu lagi. Sekarang masuklah dan bersih-bersih." Rajendra seperti setengah memohon karena tangan Ignacia terlalu kuat menggenggam. "Akan ku kirimkan pesan setelah sampai di hotel nanti. Aku berjanji."
Ignacia melepaskan tangan Rajendra, kepalanya tertunduk seolah memberikan kode bahwa dirinya tidak ingin ditinggalkan. Ignacia ingin menggoda kekasihnya sebentar. Dan rupanya Rajendra hanya mengira jika Ignacia tidak menyukai caranya mengakhiri kencan.
Rajendra berjalan mendekat, membuka kedua tangannya untuk memberikan pelukan. Satu tangannya mengelus rambut panjang Ignacia sementara tangan lainnya menepuk punggung si gadis sambil membisikkan sesuatu, "Maaf aku tidak bisa menemani kamu semalaman. Besok aku akan datang menemuimu."
Si gadis terkekeh pelan, membalas pelukan Rajendra dengan bersemangat. Ignacia tersenyum bahagia, tidak lupa dia mengecup singkat pipi kekasihnya sebelum berlari kecil masuk ke gedung asrama. Dia sempat mengintip Rajendra yang berbalik dan memanggil taksi.
"Bagaimana bisa aku bertemu dengan laki-laki sesabar dia? Dia bahkan tidak kesal karena aku bersikap kekanak-kanakan."
...*****...
Seseorang tengah berjalan mendekati meja resepsionis. Langkahnya terasa ringan karena hatinya berbunga-bunga untuk menemui seseorang. Dia bertanya pada seorang perempuan di meja resepsionis, menyebutkan nama yang dituju kemudian langsung mendapatkan nomor kamar juga ada di lantai mana orang itu berada.
"Kamar 218, lantai 3."
Setelah mengucapkan terima kasih pada yang di meja resepsionis, dia lanjut menuju lift. Berhubung tidak ada orang yang akan naik, jadinya dia langsung menekan tombol naik ke lantai yang sudah disebutkan.
Lift kembali terbuka, menunjukkan beberapa orang yang tengah menunggu. Otomatis dia yang ada di dalam buru-buru keluar agar yang menunggu bisa langsung masuk. Melihat lima orang di depan lift membuatnya sedikit gugup. Apalagi orang-orang ini menatap dengan tatapan lapar.
Yang baru saja turun mulai melihat sekeliling, mencari-cari dimana kamar yang digunakan seseorang yang dicari. Nomor-nomor disini terlalu membingungkan. Jadinya dia bertanya pada pegawai yang kebetulan selesai membersihkan kamar dimana kamar 218.
"Di lorong disana belok kanan," ucap si pegawai.
"Terima kasih."
Kebetulan sekali seseorang yang dicarinya baru saja kembali dari tempat makan hotel yang ada di lantai paling atas. Beruntung dia bisa cepat-cepat bersembunyi sebelum keberadaannya disadari oleh yang baru masuk kamar. Datang secara diam-diam ini menyenangkan.
Pintu akhirnya diketuk setelah beberapa saat. Saat yang di dalam bertanya siapa yang mengetuk, dia tentu tidak menjawab. Pemilik kamar bisa mengenali dirinya meskipun lewat suara. Ya meskipun dia tidak begitu yakin.
Seseorang di depan pintu kembali mengetuk hingga akhirnya dibukakan pintu. Dan pemilik kamar yang awalnya geram karena dikira mendapatkan ketukan iseng pun terkekeh. "Apa yang kamu lakukan disini?" dia tidak habis pikir dengan Ignacia.
Ya tentu saja yang sibuk mengusili Rajendra di pagi hari tentu saja Ignacia. Siapa lagi yang ingin jauh-jauh ke hotel bagus ini untuk sekedar mengetuk pintu? Rajendra membawa gadisnya masuk. Dia harus mengambil ponsel juga tasnya sebelum pergi. Tidak sopan membiarkan tamu menunggu di depan pintu.
"Kenapa kamu yang datang? Seharusnya aku yang datang menemui kamu." Rajendra berbicara sambil melakukan kegiatannya. Membiarkan Ignacia duduk di kursi yang ada di sebelah jendela besar.
Ignacia awalnya sibuk melihat-lihat isi kamar hingga Rajendra bertanya. "Kamu sudah mendatangiku ke kota ini. Sekarang aku yang mendatangimu. Aku bangun lebih awal dan tidak tahu harus melakukan apa. Jadinya aku datang untuk menjemputmu. Lagipula janji kita masih lama."
Masih dua jam lagi.
"Kamu sudah sarapan?" Rajendra bertanya, "apa kamu mau makan kue?" Sekotak kue dikeluarkan dari dalam pendingin. Kelihatannya baru dimakan sepotong dan masih bersisa banyak. Kemarin Rajendra bahkan makan malam sebelum mengantar Ignacia ke asramanya.
"Aku masih merasa kenyang. Apa kuenya enak? Danita yang merekomendasikan toko kue itu."
Rajendra memasukkan kembali kuenya, beralih mengambil minuman dingin dari dalam sana kemudian dibawa ke samping Ignacia. "Rasanya enak. Terima kasih. Bagaimana jika kita berjalan-jalan sebentar sebelum janji temu? Mungkin berkeliling kota ini sebentar lagi."
Ide bagus. Lagipula nantinya mereka akan menemui Danita dan kekasihnya di tempat yang sudah ditentukan. Keduanya keluar, tidak bergandengan tangan karena kemungkinan besar para pegawai hotel akan menatap mereka aneh.
Begitu sudah menjauhi hotel, barulah Ignacia langsung menggandeng tangan Rajendra tanpa basa-basi. Lupakan rasa malu dan semuanya hari ini. Tidak ada teman-teman sekolah yang akan menggoda keduanya seperti masa lalu.
...*****...
"Kemana temanmu?" sejak tadi kekasih Danita sudah melihat sekeliling, melihat apa mungkin teman Danita yang akan mereka ajak kencan akan muncul. "Apa temanmu tidak ikut membawa barang-barang juga?" tanyanya lagi.
"Ignacia sudah membantuku membuat makanan, lalu membantu kita mencari sewa mobil. Bukankah itu lebih dari cukup? Beruntungnya kamu bisa mengemudi." Danita mengoper sebuah keranjang piknik pada sang kekasih, "terima kasih."
"Lalu nanti dia akan muncul di tempat janjian?" Si laki-laki meletakkan keranjang di bagasi, menutupnya perlahan kemudian membukakan pintu untuk Danita. Dan Danita menjawabnya dengan anggukan kecil. Danita bertanya kenapa kekasihnya menjadi agak gugup. Bahkan si gadis menyadari tatapan aneh dari kekasihnya sejak tadi.
Kekasihnya tidak menjawab, dia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apa keduanya sudah bisa pergi ke tempat janji temu. Sesuatu tengah disembunyikan, tapi Danita berpikir jika kekasihnya hanya canggung karena akan bertemu dengan teman dan kekasih temannya.
Mobil yang dikendarai keduanya mulai berjalan. Danita melirik kekasihnya dan jalanan bergantian. "Tenang saja. Aku dan Ignacia sudah menyiapkan semuanya. Mungkin terasa agak canggung karena pertama kali bertemu. Tapi aku akan pastikan jika kencan ini akan sempurna," ucap Danita.
Kekasihnya tidak merespon, dia hanya fokus dengan jalanan. Dia tampak sangat berbeda. Tidak seperti pacar baik hati yang diingat Danita. Tak lama kemudian laki-laki di sampingnya mengangguk-angguk paham.
Sepasang kekasih yang tengah bergandengan tangan sambil mengobrol seru ini tidak tahu harus melakukan apa, jadinya Ignacia mengajak Rajendra pergi mengambil foto bersama. Ada sebuah studio foto yang bisa diambil secara mandiri. Mirip photo booth namun tempatnya lebih seperti ruangan.
"Foto untuk merayakan anniversary kita yang kelima," jelas Ignacia ketika Rajendra bertanya. Ya karena dari sekian banyak kegiatan kenapa harus mengambil foto? Rajendra tidak menolak setelah tahu alasannya. Dia ikut saja jika ini bisa membuat Ignacia merasa bahagia.
Ada beberapa properti seperti bando, topi, dan kacamata yang bisa digunakan untuk berfoto. Ignacia mengambil bando berbentuk telinga rubah, akan memakaikannya pada Rajendra namun laki-laki ini terlalu tinggi. Melihat usaha Ignacia yang tidak berhasil, Rajendra akhirnya mengalah dan sedikit menunduk agar Ignacia bisa memasangkannya.
Senyuman muncul di wajah Ignacia ketika merasa puas dengan apa yang dilakukannya. Lalu Rajendra ikut mengambil kacamata berbentuk nanas untuk Ignacia. Dia asal mengambil dan memakaikannya pada Ignacia karena warna kuning cocok dengan Sabrina blosuse warna mustard yang dipakai Ignacia.
Si gadis akan melepaskannya namun Rajendra buru-buru membawanya masuk ke studio fotonya. Lanjutlah keduanya berfoto dengan segala macam pose. Dengan adanya properti kursi di dalam ruangan, Ignacia meminta Rajendra untuk duduk. Jika Rajendra berdiri, Ignacia tidak akan bisa meraihnya dengan benar. Dan hasil fotonya tidak maksimal.
Ignacia merangkul leher Rajendra dari belakang, menempelkan kepalanya pada kepala si berbando rubah. Pose selanjutnya masih dengan posisi yang sama namun kini tangan keduanya membentuk V di sisi kanan.
Rajendra menoleh pada Ignacia tepat ketika foto ketiga akan diambil. Entah sadar atau tidak sadar, laki-laki dengan bando rubah ini lebih tertarik untuk melihat kekasihnya yang bersemangat daripada kamera. Menyadari hal itu, Ignacia jadi ikut menoleh. Tepat ketika foto terakhir diambil.
...*****...
Sudah waktunya bertemu. Waktunya untuk memulai kencan ganda. Ignacia dan Rajendra berjalan ke arah tempat janji temu setelah turun di halte. Danita bilang jika dia dan kekasihnya akan menunggu di mobil abu-abu yang berhenti di dekat sebuah minimarket.
"Itu mereka," Ignacia langsung membawa Rajendra mendekati mobil yang dikenalnya. Ya bagaimana tidak? Ignacia ikut memilihkan mobil. Dari kejauhan, Ignacia dan Rajendra tidak melihat seorangpun di dalam mobil. Apa Danita mungkin masuk ke minimarket bersama kekasihnya?
Rajendra menyarankan untuk menelfon Danita sebelum terlalu dekat dengan mobilnya. Mungkin Ignacia salah mengenalinya karena tidak begitu mengingat nomor mobilnya. Ignacia menurut saja. Lagipula ini cara untuk mencegah kesalahan yang akan membuat keduanya malu.
Dan benar saja, Danita muncul dengan ponsel yang didekatkan di telinga saat baru saja mengangkat panggilan Ignacia. Seolah bisa menggunakan telepati keduanya langsung berkontak mata. Ignacia terlalu senang bertemu dengan Danita hingga tidak menyadari ketidakhadiran seseorang. Tidak lupa juga si gadis berambut panjang ini menarik Rajendra untuk ikut.
"Tadi aku membeli minuman dingin. Kita hampir lupa membawa minuman karena terlalu fokus dengan camilannya," ucap Danita memberitahu sambil mengangkat sedikit kantong plastik di salah satu tangannya.
Langsung saja terjadi acara perkenalan di depan minimarket. Ignacia dengan senang hati mengenalkan Rajendra pada Danita.
"Danita, perkenalan ini kekasihku, Rajendra. Dan Rajendra, ini teman seasramaku, Danita."
"Halo, senang bertemu denganmu." Temannya ini mengulurkan tangan dengan bersemangat niat berkenalan, namun Rajendra agak ragu untuk menerima jabatan tangan hangat ini karena keberadaan Ignacia. Takutnya gadisnya tidak menyukainya.
"Tidak apa-apa," bisik Ignacia pada Rajendra. Dan kemudian Rajendra menerima jabatan tangan teman Ignacia yang berambut pendek ini.
"Dimana kekasihmu?" tanya Ignacia setelah acara perkenalan dengan Rajendra selesai. Dia tidak melihat seseorang yang seharusnya bersama dengan Danita.
"Dia ada di-" ucapan Danita terpotong ketika melihat ke arah mobil. Kelihatannya tadi kekasihnya ada disana namun sekarang sudah tidak ada. "Aku memintanya menunggu di mobil tadi. Tunggu sebentar." Danita mengambil ponselnya dari dalam saku, berjalan ke arah mobil dengan diikuti Ignacia dan Rajendra.
Rajendra menggandeng tangan Ignacia, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang terjadi. Melihat itu, Ignacia hanya mengikuti kekasihnya. Mungkin ini bentuk pertahanan diri karena baru bertemu dengan teman yang belum pernah dikenal. Padahal Danita sudah bersikap sangat baik tadi.
Panggilan dari Danita tidak tersambung. Bersamaan dengan itu muncul seseorang dari balik mobil. Seperti sehabis mengecek keadaan ban belakang mobil yang tidak terlihat dari tempat Ignacia dan Danita berdiri.
"Tadi ban mobilnya terasa aneh, jadi aku mengeceknya," jelas si laki-laki kepada Danita. Dia seperti tidak menyadari keberadaan kedua teman yang dibawa kekasihnya untuk kecam ganda. Dan ketika sudah sadar, suasananya berubah sangat canggung dan dingin.
Mata Ignacia hampir membulat sempurna namun cepat-cepat dinetralkan. Dengan gugup dia melirik ke arah Rajendra dan menangkap air wajah yang menunjukkan bahwa Rajendra jelas tahu siapa laki-laki yang akan dikenalkan Danita sebagai kekasihnya.
Bukan hanya Ignacia dan Rajendra yang terkejut dengan sosok kekasih Danita. Namun laki-laki berkulit lumayan gelap yang berbicara dengan Danita tadi juga sama. Bahkan dia takut-takut untuk melihat ke arah Rajendra. Ignacia yakin kekasihnya memberikan tatapan mematikan sekarang.
"Ignacia, perkenalan ini kekasihku, Bahri. Dan Bahri, ini temanku di asrama, Ignacia dan kekasihnya Rajendra." Dengan cepat Ignacia memberikan kode agar kekasihnya ini tetap tenang.
Ya, laki-laki yang dikenalkan Danita itu Bahri yang dikenal Ignacia. Bertahun-tahun keduanya bertetangga hingga akhirnya Bahri harus pindah rumah karena sebuah alasan. Keduanya sudah hampir tidak pernah berhubungan lagi dan kemudian dipertemukan kembali di situasi yang aneh.
Dunia begitu sempit.
Bahri mengulurkan tangannya niat berkenalan pada Rajendra. Ignacia lagi-lagi harus memberikan kode. Dengan terpaksa, Rajendra pun membalas jabatan tangan itu agar bisa berpura-pura di depan Danita. Teman kekasihnya tentu tidak tahu soal kesalahan Ignacia di masa lalu dengan Bahri.
"Senang bertemu denganmu," Rajendra tersenyum pada Bahri. Jabatan tangannya akan dilepaskan dan berganti berjabat tangan dengan Ignacia namun Rajendra tidak mengizinkannya. Bahri tidak paham dengan apa yang dilakukan laki-laki yang berdiri di samping teman lamanya.
"Senang bertemu denganmu, Bahri," timpal Ignacia kemudian.
Rajendra akhirnya melepaskan tangan Bahri setelah beberapa detik. Dari auranya sudah terlihat jika ada rasa tidak nyaman Danita mungkin tidak menyadarinya karena auranya sendiri sudah menyebar hingga hampir bertabrakan dengan aura Rajendra.
"Bagaimana jika kita pergi piknik sekarang?" saran Danita, "kau bisa duduk di depan dengan Bahri jika mau, Rajendra."
"Tidak, aku akan bersama Ignacia saja." Si laki-laki bertubuh tinggi ini langsung menggandeng tangan Ignacia untuk duduk d belakang. Membukakan pintu untuk gadisnya kemudian membuka pintu lain untuk dirinya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Bahri sempat bertatap mata beberapa detik dengan Ignacia seolah menyapa dalam diam.